Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 66 - Bukan Hal Normal


__ADS_3

...༻✫༺...


Saat pulang sekolah, Elena meminta izin kepada pengurus asrama. Dia berkilah ingin menemui kedua orang tuanya. Padahal kenyatannya Elena ingin bertemu Vino dan kawan-kawan.


Jatah perizinan pergi dari lingkungan asrama sendiri hanya diperbolehkan tiga kali dalam satu bulan. Itu pun hanya boleh dilakukan saat siang hari.


Setelah keluar dari lingkungan sekolah, Elena segera berlari menghampiri mobil Vino. Di sana juga sudah ada Ranti, Andi, Iyan, dan Tias yang ikut.


"Elena! Kangen banget gue!" sambut Ranti sambil memeluk Elena dari belakang. Mengingat dia duduk di kursi tengah bersama Andi dan Tias.


"Gue juga kangen sama kalian semua," sahut Elena.


"Sama gue juga nggak, El?" cetus Iyan yang posisi duduknya berada di paling belakang.


"Iya..." sahut Elena. Sedangkan Vino terlihat menatap Iyan dengan waspada. Dia merasa cowok itu terus berusaha menarik perhatian Elena.


"Hai, El..." sapa Tias dengan senyuman tipis. Tepat saat Elena menatapnya. Raut wajah Elena seketika berubah menjadi datar. Sebab dirinya sudah tahu mengenai pengakuan Tias.


Vino segera menjalankan mobil. Dia akan membawa semua orang berkumpul ke rumahnya. Mereka yakin di sanalah tempat teraman.


Sesampainya di rumah Vino, Ranti langsung memaksa Tias keluar secara paksa dari mobil.


"Kita bawa ke sana aja. Gue nggak sudi dia nginjakin kaki ke rumah gue!" ujar Vino sembari menunjuk ke arah pohon rindang samping rumahnya.


"Kita mau ngapain dia, Vin?" tanya Elena.


"Bikin dia kapok. Lo juga pengen kasih dia pelajaran kan?" tanggap Vino.


"Yang jelas gue pengen tahu alasan dia merekam video kita."


"Kata dia karena sayang sama gue." Vino tersenyum miring. Menanti tanggapan cemburu dari Elena.


"Sok kepedean lo!" Elena menyenggol pinggul Vino dengan siku.


"Emang benar. Tanya aja nanti." Vino merangkul Elena sembari tersenyum penuh keyakinan.


"Kenapa nggak di dalam rumah aja sih, Vin. Kita kan cuman mau bicarain semuanya baik-baik," cetus Elena. Dia mengira pelajaran yang dimaksud Vino sejenis memberi nasihat dan ketegasan. Sehingga nanti Tias tidak akan melakukan perbuatannya lagi. Akan tetapi pemikiran Elena tentu sangat berbeda dengan rencana Vino dan kawan-kawan.

__ADS_1


"Kan udah dibilang kalau gue nggak sudi dia nginjak rumah gue," sahut Vino.


Kini Tias dibiarkan berdiri menghadap Vino dan kawan-kawan. Dia hanya bisa menyatukan tangan sambil menundukkan kepala.


"Lo dulu deh, El!" suruh Vino.


"Jambak aja rambutnya langsung, El!" usul Ranti.


"Apaan sih, Ran. Gue nggak akan sampai berbuat begitu kali," balas Elena. Tak suka dengan usulan Ranti. Dia segera berjalan ke hadapan Tias.


"Lo beneran yang rekam video Vino sama gue?" tanya Elena lembut.


Tias mengangguk tanpa menatap Elena. Sebab dia sedang berbohong sekarang.


"Kenapa?" tanya Elena lagi.


"Gu-gue nggak suka lihat lo dekat sama Vino..." ungkap Tias tergagap.


"Tapi apa yang lo lakukan itu salah besar! Lo nggak tahu apa yang gue hadapi pas video itu dilihat orang tua gue!" tukas Elena.


"Maka dari itu gue nyaranin lo jambak rambutnya," ucap Ranti.


"Lo harusnya nggak melakukan itu. Lo janji harus mengakui ini sama guru," kata Elena.


Tias mendongak. Dia menggelengkan kepala karena tak mau pengakuannya diketahui oleh banyak orang.


"Jangan, El... Maafkan gue... Gue mohon jangan laporin ke guru," pinta Tias. Dia melirik ke arah Ranti. Mengingat Ranti pernah berjanji akan melindunginya jika mendapat posisi terancam. Namun cewek angkuh tersebut diam saja. Ranti malah mengembangkan senyuman seperti mengejek.


"Lo harus tanggung jawab!" ujar Elena.


"Gue nggak bisa, El... Nggak bisa..." isak Tias.


"Dia nyebelin kan? Makanya kita mau kasih pelajaran," kata Andi.


"Setiap kejahatan itu pasti ada konsekuensinya!" Vino angkat suara.


Sementara Elena terdiam. Dia merasa tidak tega mendesak Tias.

__ADS_1


Mendengar ucapan Vino. "Terus, kejahatan yang selama ini lo lakukan gimana?" timpalnya. Ekspresi Tias berubah menjadi menantang. Ia kini benar-benar benci dengan sikap Vino. Apalagi setelah melihat cowok itu memukuli Alam.


"Apa lo bilang?" Vino terperangah.


"Lo pasti berusaha sembunyikan kejahatan lo itu kan? Apa yang pernah lo lakukan sama banyak cewek itu kan juga kejahatan. Sekarang aja lo sok-sokan serius sama Elena. Nggak tahu nanti." Tias beralih menatap Elena. "El, lo yakin Vino cowok yang baik?" tanyanya.


"Kurang ajar lo ya!" Ranti langsung menjambak rambut Tias. Dia melakukannya lebih dulu dibanding Vino.


"Aaa! Sakit!" rintih Tias.


"Jatuhin dia ke tanah!" suruh Vino.


Mata Elena membulat sempurna mendengar perkataan Vino. Apalagi saat Ranti langsung menuruti perintah cowok tersebut.


"Hentikan, Ran! Ini keterlaluan!" pekik Elena. Dia berusaha menolong Tias. Akan tetapi Vino sigap memegang lengannya.


"Lo kalau berusaha tolongin dia, berarti lo setuju dengan apa yang dibilang sama Tias tadi tentang gue," ucap Vino.


"Udahlah, El. Biarin aja. Lagian kami nggak akan sampai ngebunuh juga," kata Andi sembari menyilangkan tangan di depan dada dengan santai.


Satu-satunya orang yang diam tadi hanya Iyan. Entah apa yang ada dipikirannya. Namun dia tersenyum saat melihat Vino dan Elena memiliki perbedaan pendapat.


"Ini bukan masalah gue setuju atau nggak, Vin! Menyiksa orang dengan cara begini bukanlah hal yang normal!" tegas Elena.


"Oh jadi lo pikir gue nggak normal gitu!" sahut Vino. Perdebatannya dengan Elena semakin menegang. Sama seperti Iyan, Ranti juga tampak senang melihatnya.


"Lepasin gue! Mending kita laporkan aja kesalahan yang dibuat Tias sama guru!"


"Hukuman guru itu nggak guna, El! Nggak bikin puas! Paling Tias akan diskors selama seminggu!"


"Mereka begitu karena punya hati nurani! Lagian diskors itu sangat merugikan untuk pelajar kayak kita!"


"Gue pikir lo berubah. Ternyata masih aja cemen." Vino mengeratkan rahangnya. Bicara sambil memberikan tatapan tajam.


"Lo yang nggak pernah berubah, Vin..." Elena membalas tatapan Vino dengan nanar. "Sekarang gue paham kenapa Tias bilang kalau lo bukan cowok baik. Dan gue rasa dia benar," ungkapnya seraya melepas paksa genggaman Vino dari lengannya.


Elena menghampiri Tias. Ranti lantas melepaskan rambut Tias yang sejak tadi masih dicengkeram. Elena pergi dengan membawa Tias bersamanya.

__ADS_1


"Elena!" panggil Vino dengan kesal. "Kalau lo pergi, maka itu artinya kita putus!" sambungnya memekik lantang. Wajah Vino memerah karena amarah yang membuncah.


Elena tak menghiraukan panggilan Vino. Menoleh bahkan tidak. Dia justru memecahkan tangis. Teramat kecewa akan sikap Vino.


__ADS_2