
...༻✫༺...
Setelah mendengar pernyataan Vino, kedua orang tua Elena merasa lega. Mereka akan menunggu Vino dan keluarganya mengurus pernikahan. Sekarang mereka sudah pergi dari rumah Vino. Saat itulah Arya menunjukkan amarah yang sejak tadi dipendam. Ia sangat kesal melihat Vino memilih ingin bertanggung jawab.
"Kau! Kenapa kau mau menikahinya, hah?! Kalau begini masa depanmu akan hancur! Terus, apa kau tidak peduli dengan nama baik keluarga kita?!" Arya menarik kerah baju Vino.
"Bukankah masalah akan tambah buruk jika terus disembunyikan, Pah? Lagi pula alasanku memilih menikahi Elena karena cinta. Aku merasa menderita kalau berpisah sama dia terlalu lama!" ungkap Vino.
"Apa?! Cinta? Cinta kau bilang? Apa kau pikir rumah tangga itu hanya dibangun berdasarkan cinta saja?!" balas Arya. Mengguncang badan Vino penuh amarah.
"Tentu tidak! Papah pikir aku bodoh? Apa yang terjadi padaku sekarang kan sebenarnya juga karena Papah?"
"Beraninya kau menyalahkanku atas masalah yang kau alami!!!"
"Memang kenyataannya begitu! Papah yang kasih aku kartu atm khusus untuk membeli pengaman. Jadi secara tidak langsung Papah ingin aku melakukan hubungan intim sesuka hati kan? Papah dan Mamah juga yang sudah mengajarkan aku melakukan sekss bebas. Aku bahkan sering melihat kalian melakukannya di rumah ini." Vino tidak akan pernah lupa bagaimana kebiasaan buruk kedua orang tuanya.
Arya seketika terdiam. Ia perlahan melepas cengkeramannya dari kerah baju sang putra. Dirinya bahkan tak menampik pernyataan Vino.
"Papah sama Mamah juga harus bertanggung jawab. Biayai kehidupanku saat aku tinggal di luar negeri bersama Elena nanti," imbuh Vino. Dia segera beranjak masuk ke kamar.
Sementara Arya perlahan duduk ke sofa. Dia baru sadar kalau dirinya sudah mencontohkan perbuatan buruk pada Vino. Arya baru tersadar setelah masalah besar yang menimpa putranya sekarang.
Di waktu yang sama, Vino baru saja masuk ke kamar. Dia memeriksa ponsel dan mengetahui tentang kabar Tias.
__ADS_1
Mata Vino membulat sempurna. Rasa bersalah seketika menyelimuti. Mengingat dia pernah beberapa kali membuli Tias.
"Dia nggak mati karena gue kan?" gumam Vino.
"Aaarghhh!!!" Vino merebahkan diri sambil menggeram. Dia mencengkeram kepalanya sendiri. Rasanya tak sanggup menghadapi masalah yang di akibatkan perbuatannya sendiri.
Sama seperti Vino, Elena juga baru mengetahui kabar Tias. Dia begitu kaget mendengar kabar tersebut.
Awalnya Elena merasa tidak percaya. Sampai dia bertanya pada Alam. Cowok itu lantas memastikan bahwa Tias sudah tiada.
"Dia sepertinya tertekan banget sama video yang tersebar itu, El..." ujar Alam dari seberang telepon.
"Tapi kenapa dia nekat sampai harus begitu?" tanggap Elena yang merasa sedih dengan kematian Tias. Wajahnya bahkan sudah dipenuhi dengan air mata. Dia kebetulan masih di mobil bersama Alan dan Rika.
"Kamu kenapa, El?" tanya Rika saat mendengar suara rengekan Elena.
Rika dan Alan bertukar pandang. Mereka memilih diam dan mencoba memahami kesedihan Elena.
"Ranti sama Andi adalah orang yang harus bertanggung jawab sama kematian Tias!" ungkap Alam yang juga terdengar ikut menangis.
"Mereka belum ketahuan?" tanya Elena.
"Belum. Tapi gue yakin sebentar lagi kejahatan mereka akan terungkap!" ucap Alam yakin. "Semua orang yang berbuat salah pasti akan mendapatkan karma, El. Bahkan seberapa kerasnya mereka menutupi kesalahan itu," lanjutnya. Pembicaraan Alam dan Elena berakhir disitu.
__ADS_1
...***...
Ranti pulang dari sekolah. Ia tidak berhenti dirundung perasaan gelisah. Dirinya juga jadi paranoid akan segala hal.
Karena terganggu, Ranti akhirnya memutuskan lari dari masalah dengan cara tidur.
Saat membuka mata, Ranti melihat sosok Tias telentang di sampingnya. Pergelangan tangan cewek itu bersimbah akan darah. Mata Tias menatap tajam Ranti.
"Aaarkkhh!!!" Ranti reflek berteriak dan menghindar. Dia tak sengaja jatuh dari ranjang. Ranti ketakutan setengah mati. Ia beringsut mundur sampai terpojok ke dinding.
Tias bangkit dari ranjang. Dia berdiri dengan tatapan kosong tertuju ke arah Ranti. Tias berjalan mendekati cewek tersebut.
"Jangan mendekat!" pekik Ranti yang tersudut.
Tias tidak mengatakan apapun. Dia berdiri mematung di hadapan Ranti. Perlahan ia menangis. Hingga lama-kelamaan tangisannya meraung-raung. Darah dari tangannya terus menetes dan menggenangi lantai.
Ranti tambah ketakutan. Tubuhnya gemetaran. Dia juga menangis sejadi-jadinya. Saat itulah Ranti terbangun dari tidur. Ternyata sosok Tias yang dilihatnya tadi hanya mimpi. Walaupun begitu, rasa takut Ranti belum hilang. Ia mengambil segelas air putih dari atas nakas.
Tangan Ranti yang gemetar, membuatnya tak cukup kuat memegang gelas. Akhirnya gelas itu harus terjatuh dan pecah.
"Andi... Gue butuh obat dia..." gumam Ranti. Dia butuh obat-obatan terlarang yang beberapa kali diberikan Andi kepadanya. Ranti segera menghubungi cowok itu.
Ponsel terus berdering. Andi yang merupakan pemiliknya terkapar di lantai kamarnya. Dia lari dari masalah dengan menikmati lebih banyak obat-obatan.
__ADS_1
Andi menjadi sangat gelisah setelah mendengar Ranti menyebutnya juga terlibat dalam pengambilan video bugil Tias.
Alhasil Andi mengkonsumsi terlalu banyak obat-obatan. Dia mulai merasakan efek yang di luar dari kendali. Tubuhnya bergetar hebat. Buih perlahan keluar dari mulut Andi.