Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 60 - Menemukan Dua Tertuduh


__ADS_3

...༻✫༺...


"Menurut gue udah cukup. Badan gue pegal semua. Baru kali ini kita ngelakuin sampai lebih satu kali," ujar Elena sembari mendorong Vino ke pinggir. Cowok itu otomatis telentang di sebelahnya.


"Lo yang udah cukup. Gue enggak!" sahut Vino sembari memejamkan mata. Ia meletakkan satu tangan ke atas jidat.


"Lo itu hyper atau apa sih? Ganas banget tahu nggak," tukas Elena. Ia mengenakan celana pendek dan tanktop. Lalu kembali merebahkan diri ke ranjang.


Vino hanya tergelak. Ia membuka mata dan melirik Elena. Atensinya tertuju pada rambut hitam cewek tersebut.


"Kayaknya gua juga harus kembalikan rambut gue jadi hitam lagi," celetuk Vino. Ia membelai rambut panjang Elena. Setengah badannya tampak tertutupi selimut.


"Lo nggak harus ngikutin gue loh," tanggap Elena.


"Haruslah! Soalnya gue nggak mau di suruh bersihin sekolah sendirian."


"Benar juga ya." Elena tergelak sejenak bersama Vino.


Hening menyelimuti suasana. Hanya ada suara detak jam dan bunyi binatang malam.


"Jadi... Kapan lo pergi ke sekolah baru?" tanya Vino. Memulai kembali pembicaraan.


"Lusa. Gue juga nggak dibolehin bawa handphone," jawab Elena.


"Iya, gue tahu kok. Gue lihat nyokap lo pegang ponsel lo." Vino mendengus. Ia bangkit dari ranjang. Kemudian mengenakan celana pendek. Vino mengambil ponselnya dari saku celana jeans yang tergeletak di ranjang.


"Nih! Bawa handphone gue dulu." Vino memberikan ponselnya untuk Elena.


"Lo serius?" Pupil mata Elena membesar.


"Ya iyalah. Kalau lo nggak kasih informasi, nanti gimana gue cari kamar lo di asrama? Apa gue random aja gitu masuk kamar cewek di sana?" balas Vino.


"Tapi gue takut ketahuan lagi, Vin." Elena meragu.


"Dimatikan aja dulu pas dalam perjalanan. Pas sudah sampai di asrama, baru lo diam-diam nyalakan ponselnya. Terus hubungi gue langsung." Vino memberitahu panjang lebar.


"Oke." Elena mengangguk.


Vino kembali telentang ke sebelah Elena. Keduanya saling bertukar tatapan lekat.


Elena tersenyum tipis. Ia tidak tahu kenapa dirinya merasa selalu bahagia saat bersama Vino. Segala masalah seolah lenyap dalam sekejap.


"Gue kayaknya masih bisa satu kali lagi," ungkap Elena sembari memposisikan diri duduk ke atas badan Vino. Ia selalu tak bisa menolak pesona cowok itu. Bahkan dari tatapan sekali pun.


"Harusnya bilang dari tadi. Gue udah pakai celana," sahut Vino yang menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Tinggal dilepas lagi kok." Elena mengungkung Vino. Lalu memagut bibir cowok tersebut. Vino lantas membalas pagutannya.


Rambut panjang Elena berjatuhan menutupi wajah Vino. Cowok tersebut tentu menikmati sentuhannya.


Di kala pagi telah tiba. Elena baru saja bangun dari tidur. Rambutnya terlihat acak-acakan. Ia bahkan masih dalam keadaan bugil. Tubuh molek dan putihnya terbalut oleh selimut.


Elena merasa pinggulnya terasa pegal. Belum lagi rasa perih di bagian alat vital. Mabuk cinta membuatnya tidak memperdulikan rasa sakit difisiknya.


Elena merubah posisi menjadi duduk. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Mencoba mencari Vino. Akan tetapi cowok itu tak terlihat dimana-mana.


"Vino?" panggil Elena. Dia turun dari ranjang. Lalu mengenakan pakaian. Mencari Vino ke kamar mandi. Namun tetap saja dirinya tidak menemukan keberadaan cowok tersebut.


"Dasar! Bisa-bisanya dia pulang tanpa kasih tahu," keluh Elena. Atensinya tertuju ke lantai. Di sana tampak ada empat bungkus pengaman yang telah dibuka.


Bersamaan dengan itu, suara Rika terdengar. Dia menarik gagang pintu. Elena pun bergegas memungut semua bungkus pengaman yang ada di lantai. Lalu menyembunyikannya ke kolong tempat tidur. Untung saja pintu dalam keadaan dikunci.


"Elena? Buka pintunya? Kenapa CCTV-mu gelap begitu?" ujar Rika.


"Bentar, Mah!" sahut Elena sembari merapikan tempat tidur. Tak lupa juga menyembunyikan ponsel pemberian Vino ke tempat aman. Setelah selesai, dia segera membuka pintu.


"Kenapa lama sekali?" timpal Rika yang langsung melingus masuk ke kamar Elena. Sebab dia mencurigai sesuatu.


"Aku baru bangun tidur, Mah." Elena memberi alasan.


Rika memindai kamar Elena. Dia segera mengambil baju yang menutupi kamera pengawas.


"Apa ini, El?" tanya Rika.


"Aku kadang merasa nggak nyaman di awasi, Mah. Makanya kameranya aku tutup," jawab Elena sambil menunduk.


Rika mendengus. Dia kali ini berusaha memahami Elena. "Ya sudah, mulai sekarang Mamah akan cabut CCTV-nya dari kamarmu," ujarnya.


"Benarkah?" Elena merasa senang. Senyumannya menyimpul.


Rika balas tersenyum. Dia menyuruh Elena bersiap-siap untuk sarapan. Hari itu mereka akan pergi mengunjungi sekolah baru sebelum Elena benar-benar bersekolah di sana.


...***...


Vino kembali ke sekolah. Dia baru keluar dari mobil. Baginya keadaan di sekolah terasa sama saja. Tetap tidak ada orang yang berani main-main dengan Vino. Semua orang bersikap video tidak senonoh cowok itu tidak pernah ada.


Berbeda dengan Vino. Dia tidak akan melupakan video tentang dirinya dan Elena. Jadi sekarang Vino mengajak teman-temannya untuk mencari tahu siapa orang yang menyebar video.


"Gimana cara kita mencari orang yang merekam video itu?" tanya Iyan.


Vino tampak diam karena sibuk berpikir. Ia terlihat begitu serius. Dirinya sama sekali tidak pernah terpikir kalau pelakunya adalah orang terdekat.

__ADS_1


Ranti dan Andi saling bertukar pandang. Keduanya akan memulai rencana mereka.


Andi menjentikkan jarinya. "Gimana kalau kita cek CCTV?" cetusnya.


Mata Vino membulat sempurna. Dia menatap Andi. "Ide bagus tuh! Tumben lo pinter," tanggapnya.


"Ini semua karena cewek gue." Andi menjawab sambil merangkul Ranti.


"Apaan sih!" Ranti terkekeh malu.


Vino tersenyum miring menyaksikan sikap Ranti. Dia sebenarnya merasa aneh dengan cewek itu. Karena tempo hari Ranti menyatakan cinta kepadanya. Tetapi sekarang dia tiba-tiba kembali berpacaran dengan Andi. Vino bahkan juga mendengar kalau Andi dan Ranti sudah tidur bersama.


"Gue senang kalian balikan," ucap Vino.


Ranti menoleh. Entah kenapa perkataan Vino itu membuatnya kesal. Perasaan Ranti tentu masih ada terhadap cowok tersebut. Ia tentu kecewa melihat ketidakpedulian Vino.


"Ayo kita cek CCTV," ajak Vino seraya berdiri. Di ikuti oleh Iyan setelahnya.


"Tunggu, Vin! Sebelum itu, lo harus ingat kapan videonya direkam. Kemarin sebenarnya gue dan Andi sudah cek CCTV sekolah. Tapi kami nggak bisa cari karena nggak tahu waktunya," kata Ranti.


"Waktunya ya..." Vino mencoba mengingat. Jujur saja, dia lupa kapan tepatnya video itu direkam.


"Lo sama Elena selalu bersih-bersih pas istirahat kan? Jadi menurut gue itu sekitar jam sepuluhan," ungkap Iyan.


Andi yang mendengar merasa gugup. Sebab orang yang akan difitnahnya tidak muncul jam segitu. Berbeda dengan Ranti yang tampak tenang.


"Ya, mungkin sekitar jam segitu," sahut Vino. Dia dan teman-temannya segera mendatangi ruang keamanan.


Satpam yang bertugas sama sekali tak masalah dengan tujuan Vino dan kawan-kawan. Dia membiarkan mereka memeriksa CCTV sekolah.


"Biar gue yang cek." Ranti mengajukan diri. Dia segera berpura-pura mencari. Sampai dirinya menemukan Tias dan Alam di rekaman CCTV.


"Lihat, Vin! Kayaknya kita temukan dua orang mencurigakan!" seru Ranti. Ketiga cowok yang bersamanya sontak mendekat. Terutama Vino.


"Tapi itu kan lewat jam--"


"Dua orang ini jelas datang dari laboratorium. Mereka satu-satunya yang terlihat sekitar jam segitu." Ranti sengaja memotong perkataan Iyan. Cowok tersebut hanya mengerutkan dahi dan tak bicara lagi.


"Ranti benar. Lagian Tias dan Alam juga punya motif kuat untuk menyebarkan video gue dan Elena." Vino sependapat dengan Ranti. Tekad dan rasa kesalnya membuat dia tak berpikir hati-hati dalam menuduh orang. Apalagi dua orang tertuduh merupakan sosok yang tidak memiliki hubungan baik dengannya.


..._____...


Catatan Author :


Guys aku mau promosi novel baru ya. Yang kepo silahkan cek profilku. Ini novelnya agak liar sih 😅

__ADS_1



__ADS_2