Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 56 - Kemarahan Orang Tua Elena


__ADS_3

...༻✫༺...


"Sudah cukup, Pah! Kita bicarakan ini semua baik-baik!" ujar Rika sembari memegang pundak Alan. Saat itulah atensinya tertuju ke ponsel yang tergeletak di lantai. Rika langsung mengambil benda pipih tersebut.


"Ini ponsel siapa?" tanya Rika. Alan yang melihat, segera mempelototi Elena.


Elena tidak mengatakan apapun. Dia cepat-cepat mengambil ponselnya dari genggaman Rika. Namun sang ibu sigap menjauhkan ponsel dari jangkauan Elena.


"Kau kenapa bisa begini?! Mamah sangat kecewa! Kenapa kau tega melakukan ini?! Dan dari mana kau dapat uang untuk membeli ponsel ini?!" Kini Rika yang memarahi Elena.


"Kembalikan ponselku, Mah!" Elena tak menjawab. Dia justru berusaha keras mengambil ponselnya kembali.


Karena Elena terus bersikeras, Alan sontak geram. Dia tega melayangkan tamparan ke pipi Elena.


Plak!


Bunyi pukulan itu terdengar keras. Elena sampai tumbang ke ranjang. Rika bahkan terkejut dengan serangan Alan terhadap Elena.


"Dasar tidak tahu malu!" omel Alan. Ia belum berhenti mempelototi putrinya.


"Papah! Apa itu perlu?!" timpal Rika.


"Dia pantas mendapatkannya! Nilai menurun, tampilan sudah kayak anak berandalan, belum lagi kelakuannya sama lelaki! Mungkin saja anak ini sudah berbuat lebih dari ciuman!" sahut Alan.


Rika meredam amarahnya terhadap Alan. Dia lebih memilih fokus dengan masalah Elena. Semua masalah akan tambah panjang jika dirinya marah pada dua orang sekaligus.


"Ayo kita bicarakan semuanya baik-baik!" Rika menarik tangan Elena. Membawa putrinya itu ke ruang tengah.


Elena hanya bisa menurut dan menangis. Ia memegangi pipinya sambil duduk ke sofa yang ada di ruang tengah.


Suasana sekarang begitu tegang. Yang terdengar hanya suara isakan tangis Elena.


"Apakah yang dikatakan wali kelasmu benar? Kalau lelaki yang berciuman denganmu adalah Vino Adhitama?" tanya Rika lagi.


Elena membisu. Dia tidak hanya merasa tertekan, tetapi takut. Elena melampiaskannya dengan cara mencengkeram bajunya erat-erat.

__ADS_1


"Sia-sia kita bicara baik-baik. Dia tidak menjawab!" geram Alan yang kini bicara pada Rika.


"Ayolah, Elena. Katakan semuanya pada kami? Aku dan Papah bertanya begini agar bisa mencari solusi atas masalah yang menimpamu ini!" ujar Rika dengan dahi yang berkerut dalam.


"Mengenai warna rambut. Ini atas dasar keinginanku juga... Vino cuman pengen temenin aku..." ungkap Elena yang akhirnya bicara.


"Jadi benar lelaki itu putranya Arya Adhitama. Kau pacaran dengannya?" timpal Rika. Dia dan Alan terus memancarkan tatapan tajam pada Elena. Membuat cewek tersebut terpaksa menundukkan kepala.


"Jawab!!!" desak Alan tak sabar.


Elena tersentak kaget karena bentakan Alan. Dia terpaksa menganggukkan kepala. Sekarang tidak ada yang harus ditutupi. Mengingat semua orang sudah tahu hubungannya dengan Vino.


"Sialan! Ayo kita ke rumah keluarga Adhitama! Aku ingin pastikan anak mereka tidak mendekati putriku lagi!" Alan berdiri. Dia beranjak dari hadapan Elena.


"Papah! Jangan!" Elena mencoba menghentikan. Tetapi ibunya sigap menahan pergerakannya.


"Kau nggak boleh ikut!" titah Rika. Dia segera memanggil Bi Arni. Menyuruh pembantunya tersebut untuk menemani Elena mengembalikan warna rambutnya jadi hitam.


"Jika aku dan Papahmu berhasil mengatasi masalahmu, berjanjilah kau akan menurut pada kami!" ujar Rika. Dia melepas tangan Elena. Lalu menyusul Alan. Mereka pergi ke rumah keluarga Adhitama.


Di sisi lain, Vino baru mengetahui tentang videonya dan Elena. Ia langsung mendatangi kedua orang tuanya ke kamar.


Bruk!


Vino membuka pintu dengan bantingan.


"Vino!" tegur Lina. Dia terlihat baru mengenakan pakaian. Sementara Arya tampak masih bermalas-malasan di ranjang.


"Kau kenapa?!" timpal Arya yang terpaksa merubah posisi menjadi duduk.


Vino memperlihatkan videonya dan Elena pada Arya dan Lina. Ayah dan ibunya itu membulatkan mata bersamaan.


"Itu kau?" tanya Lina.


"Bukankah sudah jelas?" tanggap Vino. "Jika kalian tidak mau reputasiku tercoreng, bantulah aku mengatasi ini," sambungnya.

__ADS_1


"Itu mudah! Kapan video ini tersebar?" tanya Arya seraya turun dari ranjang. Dia yang bertelanjang dada, segera mengenakan pakaian.


"Entahlah. Mungkin kemarin malam," sahut Vino.


"Masih tidak terlalu lama. Kita bisa memusnahkan video itu. Lagi pula itu hanya video ciuman. Bukankah kita sering melihatnya di sebuah film. Aku heran kenapa masyarakat selalu heboh dengan hal kecil begini," imbuh Arya. Dia mengambil ponsel dan langsung menghubungi kepala sekolah.


Arya akan mengunjungi sekolah Vino bersama anak buahnya. Dia akan memastikan seluruh video dihapus.


"Kau harus mencari tahu orang yang menyebar video ini, Vin!" usul Lina.


"Tentu saja. Biar aku yang mengurus masalah itu. Aku akan memberi orang itu pelajaran," sahut Vino.


Selang setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi. Bi Isma selaku pembantu segera membukakan pintu. Orang yang datang ternyata adalah Alan dan Rika. Bi Isma langsung memberitahukan kedatangan mereka pada Arya dan Lina. Kebetulan keduanya sedang sarapan bersama Vino.


"Bukankah aku sudah memberi nasehat? Kalau mau ngik ngok, jangan sampai bikin hamil anak orang!" pungkas Arya. Bicara pada Vino.


"Aku pastikan Elena tidak hamil, Pah. Aku menggunakan kartu yang kau berikan dengan baik," tanggap Vino.


"Kartu apa?" selidik Lina yang tidak tahu. Dia menatap Vino dan Arya secara bergantian. Keluarga mereka memang aneh. Jika sedang akur, maka keadaan akan damai sekali. Tetapi bila bertengkar, maka rumah akan sekejap menjadi neraka.


"Kau tidak perlu tahu," balas Arya. Ia bangkit dari tempat duduk. "Ayo kita temui mereka!" ajaknya.


Vino yang melihat, segera ikut berdiri. Akan tetapi Arya dan Lina mencegahnya.


"Sayang, kalau kau mau wajahmu tetap tampan, lebih baik jangan ikut kami menemui mereka," ujar Lina. Dia yakin kedua orang tua Elena akan marah besar jika melihat Vino. Kemungkinan terburuk Vino akan dipukul sampai bonyok.


"Oke." Vino mengangguk. Dia memilih mengintip dari tempat tertutup. Dirinya bisa melihat ekspresi marah kedua orang tua Elena.


"Elena!" Vino langsung teringat Elena. Dia bergegas menelepon cewek itu.


Suara dering ponsel terdengar. Namun anehnya Vino bisa mendengar suara dering dengan jelas. Setelah dipastikan, ternyata ponselnya dipegang oleh Rika. Dari case ponsel yang terlihat, Vino yakin itu adalah ponsel pemberiannya pada Elena.


"Sial!" rutuk Vino. Dia langsung mematikan telepon. Vino menyandar ke dinding sambil memejamkan mata. Kedua tangannya terkepal erat.


"Gue akan pastikan penyebar video ini dapat pelajaran!" Vino bertekad. Dia tidak akan memberi ampun.

__ADS_1


"Arrghh!" Vino menendang meja sebuah kursi hingga tumbang ke lantai.


__ADS_2