
...༻✫༺...
Bel istirahat pertama berbunyi. Elena memutuskan tidak menemui Vino. Lagi pula dia tidak yakin cowok itu bersungguh-sungguh. Elena berpikir, mungkin saja Vino mencoba mengerjainya. Mengingat hubungan mereka tidak ada kejelasan sama sekali.
Sungguh, Elena tidak dapat mempercayai segala pernyataan Vino. Bahkan hal kecil sekali pun. Mungkin itulah sulitnya akibat mempunyai lencana bad boy.
Elena pergi ke kantin bersama Ranti. Mereka bertemu Andi saat dalam perjalanan.
"Lo sendiri? Vino sama Iyan mana?" tanya Ranti sembari mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Vino katanya ada urusan. Biasalah urusannya apa. Kalian bisa tebak sendiri. Kalau Iyan dia nggak sekolah hari ini. Gue nggak tahu kenapa," jawab Andi seraya merangkul pinggang Ranti.
Bersamaan dengan itu, seorang guru yang sering disapa Bu Lydia mendadak keluar dari ruangan. Dia berhasil memergoki tindakan Andi dan Ranti.
"Andi!" tegur Bu Lydia.
Andi sontak melepas rangkulannya. Sementara Ranti tampak tersenyum kecut.
"Kalau pacaran jangan kelewat batas ya," kata Bu Lydia. Dia geleng-geleng kepala dan segera beranjak.
"Ah, gue yakin Bu Lydia pas waktu muda juga begini." Andi kembali merangkul pinggul Ranti.
"Ish! Nggak usah deh. Gue nggak mau kena teguran lagi." Ranti melepas tangan Andi dari pinggulnya. "Ayo, El!" sambungnya yang memilih berjalan berangkulan dengan Elena.
"Sorry ya, Di." Elena melambaikan tangan pada Andi sebagai ejekan. Cowok itu lantas hanya bisa memutar bola mata.
Ketika sudah tiba di kantin, Elena dan kawan-kawan memesan makanan dan minuman. Dia hanya diam karena memikirkan Vino.
'Apa Vino sekarang benar-benar ada di aula lama sekolah?' benak Elena bertanya-tanya. 'Kok gue jadi kepikiran?'
Dugaan Elena benar seratus persen. Vino sedang berada di aula sekolah. Dia langsung berlari ke sana saat mendengar suara bel istirahat.
"Parah. Kayaknya dia nggak ke sini," keluh Vino. Dia merasa tak percaya. Dirinya terlihat berdiri menyandar sambil melipat tangan di dada. "Tapi gue akan tunggu sampai jam istirahat pertama selesai," gumamnya.
Perlahan terdengar suara langkah kaki seseorang. Vino lantas menoleh ke arah sumber suara. Ia mengira orang yang datang adalah Elena. Tetapi nyatanya tidak. Sosok yang muncul adalah Tias.
Dahi Vino berkerut dalam. Dia memang merasa tidak asing dengan wajah Tias. Namun Vino tidak merasa sedekat itu dengannya.
__ADS_1
"Akhirnya ketemu." Tias menghampiri. Dia berdiri ke hadapan Vino. Cowok itu hanya tersenyum singkat.
"Gue kirim lo pesan sejak kemarin. Tapi nggak ada satu pun yang lo balas," ungkap Tias sembari mengaitkan anak rambut ke daun telinga. "Gue tadi ke kantin. Di sana cuman ada teman-teman lo yang nongkrong. Karena pengen ketemu, gue cariin lo keliling sekolah. Lo ternyata di sini," sambungnya bercerita panjang lebar.
"Bisa langsung aja nggak? Mau lo apa?" tanya Vino. Dia sedikit menunduk untuk menatap Tias lebih dekat. Sebab tinggi badan gadis itu lebih rendah darinya.
"Gue mau lo..." sahut Tias. Dia memegangi wajah Vino. Lalu mengangakan mulut karena ingin memagut bibir cowok tersebut. Akan tetapi Vino seketika menghindar.
"Lo bukan cewek yang gue tunggu," ucap Vino seraya menyeringai remeh.
"Lo lagi nungguin siapa?" Tias lantas penasaran.
Vino justru terkekeh. "Mau tahu aja lo," balasnya.
"Tapi kayaknya cewek itu nggak bakalan datang. Waktu istirahat juga bentar lagi habis," cetus Tias. Setelah memeriksa jam yang melingkar di tangan.
"Lo mau nyerahin diri lagi? Telanjang dulu. Baru gue mau nyentuh lo!" titah Vino. Dia kembali mengukir senyuman nakal nan meremehkan.
Tias menenggak ludahnya sendiri. Dia menengok ke kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang selain dirinya dan Vino.
"Gue lakukan ini buat lo." Tias mulai membuka kancing seragamnya satu per satu. Hingga seragam putih tersebut ditanggalkan.
Pupil mata Vino membesar. Dia tidak menduga Tias langsung setuju tanpa harus berpikir lama.
"Sini, biar gue yang pegang," tawar Vino. Tias lantas menyerahkan bajunya pada cowok itu.
Sekarang Tias tinggal melepas branya. Sejak tadi dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Vino.
Usai bertelanjang dada, Tias beralih mengurus roknya. Dia menyerahkan bra yang baru dilepas pada Vino. Cowok tersebut tampak memegangnya dengan dua jari karena merasa jijik.
"Stop, stop! Udah cukup!" cegah Vino. "Oh iya, nama lo siapa tadi?" tanyanya. Jelas dia sedang mempermainkan Tias sekarang.
"Tias..." jawab Tias lirih. Dia menutupi buah dadanya dengan tangan sambil tertunduk.
"Ah, Tias." Vino mendekatkan mulut ke telinga Tias. "Lo kayaknya masih butuh waktu lagi. Lo bisa kembali pas dada lo agak besaran dikit," bisiknya sembari menyerahkan pakaian Tias.
Tias menatap tak percaya. Dia tidak tahu kenapa dirinya jatuh cinta dengan cowok brengsek seperti Vino. Namun jujur saja, Tias sangat tergila-gila pada cowok tersebut. Terutama saat sudah merasakan sentuhannya tempo hari.
__ADS_1
Gigi Tias menggertak kesal. Karena harga dirinya sudah terlanjur jatuh, dia menjatuhkan pakaian dan menarik kerah baju Vino. Kemudian langsung mencium bibir cowok itu.
Mata Vino membulat sempurna. Bersamaan dengan itu, Elena datang. Dia tidak sendiri. Ada Andi dan Ranti yang juga ikut.
"Anjir! Gila lo, Vin!" timpa Andi.
Vino langsung mendorong Tias. Dia mengusap kasar bibirnya. "Berani banget lo!" geramnya yang merasa terlecehkan.
Tias merasa malu sekaligus kesal. Dia bergegas mengenakan bra dan seragamnya.
"Harusnya gue yang bilang begitu!" tukas Tias. Dia melangkah cepat meninggalkan aula.
Elena dan Ranti menatap tak percaya pada Vino. Entah sudah berapa kali tatapan itu mereka lakukan saat memergoki Vino berbuat nakal.
"Kalian salah paham. Gue tadi--"
"Mending mulai sekarang lo nggak usah temenan sama gue lagi. Nggak mau gue kecipratan masalah bareng lo!" tegas Elena. Dia buru-buru pergi.
"Kapan tobatnya sih lo!" Ranti ikut angkat bicara. Dia segera menyusul kepergian Elena.
Hanya Andi yang tetap bertahan bersama Vino.
"Argh! Sialan! Ngapain kalian tiba-tiba ke sini? Lo yang ngajak mereka kan?" tanya Vino.
"Enak aja. Elena yang ngusulin buat cari lo," jawab Andi.
"Elena?" Vino merasakan hatinya tiba-tiba tidak nyaman. Terutama saat memikirkan perasaan Elena.
Sekarang Elena melangkah berbarengan dengan Ranti. Keduanya saling terdiam karena sama-sama kecewa.
"Gue ke toilet dulu. Lo duluan aja," ujar Elena. Ranti hanya menjawab dengan anggukan. Mereka segera saling memisah.
Elena mengunci dirinya di salah satu bilik toilet. Dia duduk di atas closet. Elena memecahkan tangis. Ia tidak tahu kenapa ada rasa sesak ketika melihat kebersamaan Vino dan Tias tadi.
"Apa yang terjadi sama gue... Hiks..." isak Elena. "Apa yang bisa gue harapkan dari cowok kayak Vino?" tambahnya. Elena menutupi wajah dan masih lanjut menangis. Sekarang dia sadar bahwa dirinya memiliki perasaan terhadap Vino.
Elena sebenarnya lebih kesal pada dirinya sendiri. Sebab dari banyaknya cowok, kenapa hatinya justru menyukai cowok brengsek seperti Vino?
__ADS_1