
...༻✫༺...
Pertandingan berlangsung menegangkan. Poin bola yang masuk ke dalam ring terus kejar-kejaran. Karena ketegangan itu semua penonton tidak berhenti meneriakkan semangat kepada para pemain.
"Vino ayo, Vin!" seru salah satu kakak kelas Elena. Ternyata bukan dia saja yang tak berhenti menyebut nama Vino. Tetapi beberapa siswi lainnya juga.
"Vino go!"
"Vino makin ganteng ya kalau lagi main basket gini."
"Iya, makanya gue sering nonton dia latihan."
"Nonton doang atau apa nih?"
"Sok nggak tahu lagi lo. Gue sama Vino kan pernah ciuman. Biar cuman satu kali, tapi itu berkesan banget buat gue."
Ada pembicaraan yang tak sengaja didengar oleh Elena. Dia merasa bergidik saat mendengarnya. Elena berpikir kalau dirinya bisa saja dianggap Vino seperti cewek lain.
"Lo kenapa? Tadi semangat banget. Sekarang tiba-tiba murung," tegur Ranti.
"Nggak apa-apa. Cuman kesal dengar nama Vino ada dimana-mana," jawab Elena.
Ranti merangkul pundak Elena. "Lo baru sadar? Bukannya di pertandingan-pertandingan sebelumnya juga begini? Kita tahu Vino itu cowok paling populer di sekolah," ujarnya seraya menatap Vino yang masih sibuk bermain basket.
"Iya, gue baru sadar. Nyebelin," ungkap Elena.
"Emang nyebelin sih." Ranti sependapat. Mengingat dia juga suka dengan Vino.
Pertandingan hampir berakhir. Jika memasukkan bola sekali lagi ke dalam ring maka tim Vino menang.
Semua orang dibuat tegang saat perebutan bola menjadi intens. Namun segalanya berjalan mulus saat bola dilempar ke tangan Vino. Sayangnya cowok itu langsung melempar bola ke ring.
"Vino!" seru Romi. Salah satu anggota tim basket Vino. Dia reflek berteriak karena Vino nekat melempar bola dari jarak jauh.
Hening menyelimuti dalam hitungan milidetik. Atensi semua orang tertuju ke arah bola yang melayang karena lemparan Vino.
Buk!
Bola akhirnya mengikuti gravitasi. Tepat terjatuh melewati ring. Saat itulah tim Vino dan pendukungnya bersorak gembira. Melakukan selebrasi di tengah kekecewaan yang ditunjukkan tim lawan.
Semua anggota tim basket bergegas menghampiri Vino. Mengangkat cowok tersebut ke udara. Vino diperlakukan bak seorang pahlawan.
Elena dan Ranti sangat senang. Keduanya tak berhenti bertepuk tangan.
Pertandingan selesai. Para penonton mulai pergi satu per satu. Tetapi ada juga yang tidak pergi karena menunggu salah satu anggota tim basket idola.
Elena dan Ranti bergabung bersama Andi serta Iyan yang sejak tadi duduk di kursi depan.
"Lo tadi nonton juga, El?" tanya Iyan.
"Iyalah, gue juga dukung tim kita buat menang," sahut Elena. "Kalian dari tadi duduk di depan? Kalau tahu, kita harusnya tadi bareng mereka aja, Ran," sambungnya.
__ADS_1
Andi mengerutkan dahi. "Lo bicara seakan kita berteman," tukasnya.
Ranti membulatkan mata. Dia baru ingat kalau dirinya sudah memfitnah Elena. Ranti menyebutkan cewek tersebut tidak mau berteman dengan cowok. Padahal itu hanya akal-akalan Ranti saja.
"Apa?" Elena mengernyitkan kening. Kini dia yang dibuat bingung.
"Kalian ngomong apa sih? Elena cuman mau nonton pertandingan basket antar sekolah doang. Iyakan, El?" Ranti menggandeng lengan Elena. Meski merasa sikap Elena hari ini berbeda, dia masih menganggap temannya tersebut bertengkar dengan Vino.
"Iya. Gue juga mau lihat Vino tanding hari ini," imbuh Elena.
"Yakin lo? Bukannya lo sudah nggak mau temenan sama--"
"Di, udahlah." Ranti lekas memotong perkataan Andi. Dia tentu tidak mau kedoknya ketahuan.
Bersamaan dengan itu, Vino sedang bersuka cita dengan rekan tim basket. Selanjutnya dia beranjak ke kursi penonton. Vino bisa melihat ke-empat orang terdekatnya telah menunggu.
Dalam perjalanan menuju Elena dan kawan-kawan, Vino harus melewati cewek-cewek yang sejak tadi menunggunya. Terutama cewek-cewek yang sering dipermainkan Vino. Bahkan Tyas yang tidak kunjung kapok juga ada di sana. Masih berharap cintanya diterima Vino.
"Vino!"
"Vin!"
Banyak mulut yang memanggil di waktu bersamaan. Namun Vino tak acuh. Dia tetap berjalan lurus tanpa menoleh. Sampai akhirnya berhenti melangkah ketika dapat merangkul Elena. Vino berhasil membuat cewek itu kaget.
"Lagi ngomongin gue ya?" kata Vino. Datang secara tiba-tiba. Tatapan teman-temannya otomatis tertuju ke arahnya.
"Vino!" sedangkan Elena yang kaget, reflek memanggil dengan nada protes. Tetapi Vino justru mempererat rangkulannya. Dia dan Elena tergelak bersama. Pemandangan itu membuat banyak orang penasaran.
"Jangan dekat-dekat ih! Lo bau keringat," keluh Elena sembari menutupi hidung.
Jujur saja, Andi, Iyan, dan Ranti sejak tadi keheranan. Tidak! Bukan mereka saja yang bingung, tetapi cewek-cewek pengagum Vino. Mereka tentu heran dengan sikap Vino dan Elena yang tampak mesra. Ini baru pertama kalinya Vino terang-terangan menunjukkan kedekatan dengan cewek di depan umum.
"Ini namanya bau kemenangan, El." Vino menanggapi keluhan Elena.
"Iya, iya. Terserah lo. Sekarang lo bisa lepasin gue nggak?" Elena mencoba melepas rangkulan Vino. Cowok itu tersenyum miring dan melepas rangkulannya.
Baru saja Elena bernafas lega, Vino tiba-tiba memeluknya dari belakang. Meletakkan dagu ke salah satu bahu cewek tersebut.
"Vin!" Elena merasa malu. Walaupun begitu, dia tidak bisa membendung senyuman di wajahnya. Apalagi saat Vino mendadak berbisik ke dekat telinganya. Rasa geli yang menyengat sontak dapat Elena rasakan. Dia dan Vino lagi-lagi tertawa. Interaksi yang mereka tunjukkan semakin mencurigakan.
"Kalian kenapa? Lagaknya nggak kayak pacaran lagi, tapi kayak pengantin baru." Andi menjadi orang yang pertama angkat suara.
"Tahu nih, Vino. Iseng banget," tanggap Elena. Dia segera bicara pada Vino. "Sekarang mending lo lepasin gue. Kalau ada guru yang lihat gimana?" ujarnya sambil berupaya melepas pelukan Vino. Namun tetap tidak bisa.
"Ikut gue dulu. Baru bisa lepas," bisik Vino.
"Jangan gila deh," sahut Elena yang paham dengan maksud ajakan Vino.
"Cuman satu ciuman." Vino kembali berbisik. "Eh, salah. Maksudnya dua atau tiga kali ciuman," lanjutnya. Masih dengan nada berbisik.
Karena tak kunjung dilepas, Elena menggigit tangan Vino. Hingga cowok itu akhirnya melepas pelukan.
__ADS_1
"Tega ya lo," imbuh Vino.
"Sudah deh, Vin, El. Di sini dari tadi ada kami loh. Kalian seru berduaan aja dari tadi," tukas Iyan yang sudah tidak tahan.
"Dari tadi kalian juga dilihatin banyak orang," ujar Andi seraya mengedarkan pandangan.
Hal serupa lantas dilakukan Elena. Benar saja, ada banyak orang yang menatap ke arahnya. Entah kenapa Elena merasa agak terintimidasi dengan tatapan mereka. Terutama para cewek pengagum Vino.
"Sudah, jangan diladenin." Vino kembali merangkul Elena. "Oh iya, mulai sekarang Elena gabung sama kita lagi," ungkapnya.
"Emang gue pernah bilang berhenti gabung sama kalian?" tanya Elena heran.
"Iya, kata Ranti lo--"
"Sudah. Harusnya kalian senang Elena gabung kita lagi." Ranti terpaksa berkata begitu demi menutupi kebohongannya. Padahal dalam hati sejak tadi dia sangat kesal dengan Elena.
'Vino dan Elena sepertinya sudah baikan. Tapi apa mereka sekarang pacaran? Kalau itu terjadi, gue nggak rela!' batin Ranti.
Sejak tadi Vino terus memposisikan diri di belakang Elena. Kini dia memikirkan cara agar bisa berduaan dengan Elena.
"Oh iya, El. Tadi Bu Siska cari lo," cetus Vino.
"Yang benar? Mau ngapain?" tanggap Elena.
Vino menggeleng. "Nggak tahu. Dia suruh kita berdua datang ke ruang guru," kilahnya.
"Ya sudah. Ayo!" Elena percaya begitu saja. Dia dan Vino beranjak meninggalkan ketiga temannya.
Ketika Vino dan Elena pergi, Andi tiba-tiba memecahkan tawa sendiri.
"Lo kenapa?" timpal Ranti.
"Dia past kebanyakan minum obat, Ran!" sahut Iyan.
Andi perlahan berhenti tertawa. "Kalian tadi nggak lihat?" tanyanya.
"Lihat apaan?" Dahi Ranti berkerut.
Andi terkekeh. Dia segera merangkul Iyan dan Ranti sekaligus. Ia memberitahu dengan berbisik, "Punya Vino tadi tegang."
Iyan yang mengerti langsung tertawa. Tetapi tidak bagi Ranti.
"Punya Vino? Kalian bicara apa sih? Bicara yang jelas dong." Ranti menuntut jawaban.
Andi dan Iyan semakin merasa lucu saat melihat wajah bingung Ranti.
"Dia nggak ngerti, Yan. Bwahaha!" ujar Andi. Lanjut tertawa bersama Iyan.
"Maklum cewek," sahut Iyan. Ia meneruskan, "gue nggak bisa bayangin dia sama Elena ketemu Bu Siska dalam keadaan begitu."
"Terserah kalian deh." Ranti merajuk. Ketika dia hampir pergi, barulah Andi memberitahu dengan jelas.
__ADS_1
"Ya udah jangan ngambek," kata Andi. Lalu berbisik, "Gue tadi mau kasih tahu kalau burung di dalam celananya Vino tegang..."
Bukannya merasa lucu, Ranti justru merasa cemas. Hal itu terbukti dari belalak matanya.