
...༻✫༺...
Hari liburan terakhir telah tiba. Elena masih berada di kamar hotel Vino. Mengingat dia tidak sengaja ketiduran.
Vino menjadi orang pertama yang bangun lebih dulu. Dia mendapatkan telepon dari Iyan.
"Kenapa, Yan?" tanya Vino. Setelah mengangkat panggilan telepon Iyan.
"Lo dimana? Gue sekarang ada di rumah lo," ujar Iyan dari seberang telepon.
"Hah? Ngapain?" bukannya menjawab, Vino malah berbalik tanya.
"Ceritanya panjang," ucap Iyan sembari menghela nafas kasar.
Vino menoleh ke arah Elena yang masih terlelap. Dia segera berjalan menjauhi ranjang. Tepatnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Gue lagi di hotel. Tapi hari ini gue balik. Lo makan aja apa yang ada di rumah. Kalau mau makan sesuatu, minta masakin pembantu gue aja," kata Vino.
"Oke. Thanks ya, Vin." Pembicaraan Iyan dan Vino berakhir.
Bertepatan dengan itu, Elena bangun dari tidurnya. Dia langsung memeriksa jam. Elena sangat terkejut ketika waktu hampir jam tujuh pagi.
"Vino!" Elena langsung memekik. Dia bergegas mengenakan pakaian yang tampak berhamburan di lantai.
"Kenapa?!" Vino menyahut dari kamar mandi.
"Antarkan gue ke panti sekarang!" seru Elena. "Lagian lo kenapa nggak bangunin gue sih!" keluhnya.
"Bentar!" Vino buru-buru membersihkan diri. Lalu keluar dengan menggunakan handuk kimono. Dia tergelak saat melihat Elena. Cewek itu cemberut dalam keadaan rambut yang berantakan.
"Lo kenapa malah ketawa?" timpal Elena seraya mengarahkan tinju pada Vino.
"Sebelum berangkat, lo mending ngaca dulu," saran Vino.
Elena mendengus. Ia segera melakukan saran Vino. Pupilnya membesar tatkala melihat penampilannya begitu berantakan.
"Astaga." Elena memperbaiki rambutnya sampai rapi.
Ketika Vino dan Elena sudah sepenuhnya siap, keduanya pergi ke panti asuhan. Mereka harus berpisah karena akan pulang dengan cara masing-masing.
__ADS_1
"Sampai ketemu di sekolah besok," kata Vino.
"Jangan lupa kasih tahu kalau udah sampai rumah," balas Elena. Dia lantas keluar dari mobil Vino. Cowok tersebut langsung putar balik dan berkendara untuk pulang.
Butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke rumah. Vino baru saja memakirkan mobil ke garasi. Ia melihat Iyan sudah menunggu di depan pintu.
Vino mendengarkan cerita Iyan. Katanya keluarganya sedang mengalami masalah ekonomi. Mereka bahkan sudah pindah ke rumah kontrakan yang kecil untuk bertahan hidup.
"Selain pembunuh, bokap gue ternyata juga hobi hutang," ungkap Iyan. Ia mengusap kasar wajahnya. "Nyokap gue sekarang sedang stress. Makanya gue nggak sanggup tinggal di rumah," sambungnya.
Walau sering keras pada teman sendiri, bukan berarti Vino tidak punya hati nurani. Apalagi ketika mengetahui temannya terlibat masalah serius.
"Lo bisa ke sini kapan pun lo mau, Yan. Lagian gue juga selalu sendirian di rumah ini," ujar Vino.
"Gue nggak mau ngerepotin lo begini padahal. Tadinya gue mau minta bantuan Andi, tapi bokap dan nyokap dia kebetulan ada di rumah. Jadi gue segan."
"Lo menginap aja dulu di sini. Sampai lo merasa bisa balik lagi ke rumah." Vino menepuk pundak Iyan.
"Thanks ya, Vin. Lo ternyata nggak cuman ganteng, tapi baik. Kayak Reyhan," puji Iyan.
"Dih! Kalau ada maunya baru dipuji." Vino berdecak sambil mendorong kepala Iyan. "Tapi gue akan tetap marah ya kalau lo berani mengusik privasi gue," lanjutnya.
"Siap, Vin!" Iyan yang kesenangan mengacungkan jempol sebagai persetujuan.
Berbeda dengan Vino, Elena pulang saat sore hari. Dia dijemput oleh Rika dan Alan. Sekarang Elena duduk di kursi belakang mobil. Dia bermain ponsel. Asyik berbalas pesan dengan Vino.
Ilustrasi pesan Elena dan Vino :
Vino : Gue udah sampai dari jam sepuluh tadi. Sorry baru kasih tahu. Karena gue keasyikan ngobrol sama Iyan.
^^^Elena : Gue masih di jalan. Iyan ada di rumah lo?^^^
Vino : Iya, katanya ada masalah keluarga. Jadi untuk sementara dia tinggal di rumah gue.
^^^Elena : Baik juga ya lo. Bokap sama nyokap lo nggak marah?^^^
Vino : Enggak. Mereka jarang pulang juga.
^^^Elena : Oke. Lo mending istirahat sekarang.^^^
__ADS_1
Vino : Cium dulu.
^^^Elena : Alay! Di pesan aja minta cium.^^^
Vino : Lo kan pacar gue. Wajar dong kalau gue minta cium. Kalau nggak, gue aja nih yang cium.
Melihat pesan Vino, Elena tak bisa berhenti tersenyum. Dia terus fokus dengan ponsel.
"Apa yang paling berkesan saat kau ada di panti asuhan, El? Bisa kau ceritakan sama Mamah dan Papah?" tanya Rika. Namun Elena tak menjawab. Cewek tersebut terlalu sibuk dengan ponsel.
"Elena?" Rika mengerutkan dahi. Dia dan Alan bertukar pandang. Rika lantas menengok ke belakang. Dia mendapati Elena senyum-senyum sendiri sambil bermain ponsel.
"Elena!" panggil Rika dengan suara lantang. Hingga membuat Elena tersentak kaget.
"Mamah! Aku kaget." Elena reflek memegangi dada.
"Lagian kamu dari tadi di ajak ngomong nggak dijawab!" omel Rika.
"Mamah tadi ngomong apa?" Elena terpaksa bertanya. Raut wajahnya tampak cemberut.
"Makanya, kalau orang tua ngomong tuh didengerin. Wajahmu kenapa merengut seperti itu, hah?! Pantaskah kau bersikap begitu sama orang tua?!" Rika kembali mengomel.
"Mamah kenapa marah?! Lagian aku kan tanyanya baik-baik!" balas Elena. Dia kembali fokus ke ponsel ketika mendapat pesan baru dari Vino. Cowok itu mengirim foto dengan pose memanyunkan bibir dan memejamkan mata. Seakan Vino benar-benar sedang memberikan ciuman.
Rika yang masih terus bicara, tidak didengarkan lagi oleh Elena. Cewek tersebut bahkan tergelak. Dia jelas tertawa karena foto Vino.
"Pah, dia ketawa!" Rika semakin tercengang dengan sikap Elena.
"Ambil ponselnya, Mah!" perintah Alan yang ikut-ikutan geram.
"Sini ponselnya!" Rika meraih ponsel Elena. Namun putrinya itu tidak membiarkan. Dia tetap memegangi ponsel.
"Jangan, Mah!" Elena bertahan.
"Elena! Lepasin nggak!" Rika memaksa. Terjadi aksi saling rebut-merebut di antara dirinya dan Elena.
"Enggak!" Elena menolak tegas. Dia tentu tidak mau Rika mengetahui tentang hubungannya dan Vino.
"Elena!!! Turuti kata Mamah!" titah Alan.
__ADS_1
"Enggak!" Elena mengerahkan semua kekuatannya untuk mempertahankan ponsel dari rebutan Rika. Sampai dia akhirnya nekat menggigit tangan sang ibu. Kini ponsel sudah sepenuhnya berada di tangan Elena.
"Kamu tega ya sama Mamah!" Rika tambah marah. Dia kembali berusaha merebut ponsel Elena.