Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 30 - Berniat Memberi Ketegasan


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena terdiam. Dia memang sependapat dengan Ranti. Namun hatinya tidak. Elena justru menginginkan Vino lebih dari apapun. Gambaran rasa dan bayangan ketika Vino menyentuhnya, bahkan terus menghantui.


"Biar lo cinta sama dia, lo harus tetap tolak. Lo tahu sendiri kalau Vino bukan cowok baik," ucap Ranti.


"Lo benar." Elena mengangguk. Memang secara logika omongan Ranti ada benarnya.


Bersamaan dengan itu, bel pertanda masuk kelas berbunyi. Seluruh murid masuk ke kelas masing-masing. Mereka mengerjakan soal ulangan dengan tenang.


Untuk pertama kalinya, Elena merasa kesulitan menghadapi soal ulangan. Kemungkinan besar itu semua karena dirinya terlalu teralihkan dengan Vino. Beberapa materi penting jadi dilupakan oleh Elena. Alhasil cewek itu menjawab dengan seadanya.


'Vino harus tanggung jawab kalau hasil ulangan gue jelek. Gue kayaknya benar-benar harus tegasin dia,' batin Elena. Dia berniat akan bicara dengan Vino saat istirahat pertama.


Ketika bel pertanda istirahat terdengar, Elena bergegas menemui Vino. Dia juga tak lupa memberitahu Ranti soal itu.


"Bagus, El." Ranti senang dengan keputusan Elena. "Mau gue temenin?" tawarnya.


"Gue bisa sendiri. Lagian gue udah kirim pesan ke Vino," jawab Elena. Dia segera pergi.


Sekarang Vino ada di aula lama sekolah bersama Andi dan Iyan. Mereka tampak berdiri bergerombol. Ketiganya diam-diam mengoleskan serbuk narkotika ke rokok masing-masing.


"Gue dikit aja," ujar Iyan. Membiarkan Andi mengoles serbuk putih ke rokoknya.

__ADS_1


"Cemen lo, Yan!" ejek Andi.


"Kalau gue banyakin aja," kata Vino.


"Lo emang pejantan tangguh, Vin." Andi dengan senang hati memberikan keinginan Vino. Keduanya dan Iyan segera menikmati rokok bersamaan dengan obat terlarang.


Vino memejamkan mata. Sensasi melayang dapat dirasakannya dalam beberapa saat.


"Enak kan, Vin?" tanya Andi.


"Tidak buruk," sahut Vino. Ia menikmati obat yang sedang bekerja ditubuhnya.


Pesan Elena mendadak masuk. Vino segera membuat janji dengan cewek itu untuk bertemu di gudang.


"Kenapa, El? Mau lagi?" tanya Vino. Menyinggung aktifitasnya dan Elena tadi malam.


Plak!


Elena memberi tamparan keras ke wajah Vino. Entah sudah berapa kali cowok itu mendapat tamparan. Tetapi hal tersebut sama sekali tidak membuatnya kapok. Vino bahkan tertawa setelah mendapat tamparan Elena.


"Ketawa lagi! Mau gue daftarin ke rumah sakit jiwa?!" geram Elena.


"Lo selalu begini," komentar Vino. Dia tiba-tiba memancarkan tatapan lekat. Membuat Elena jadi salah tingkah. Cewek itu buru-buru membuang muka.

__ADS_1


Perlahan Vino berjalan mendekat. Dia masih menatap lekat.


"Jangan dekat-dekat!" Elena mencoba tegas. Namun apa yang dirasakan hatinya jelas berbanding terbalik. Jujur saja, sensasi degupan jantung yang dirasakan Elena tak terbantahkan.


Vino tak mendengarkan seperti biasa. Dia terus melangkah maju. Hingga membuat Elena tersudut ke depan kursi tak terpakai. Vino mendorong pelan Elena untuk duduk. Saat itulah Elena membalas tatapan lekat Vino. Logikanya jelas telah dikalahkan oleh keinginan hati.


Senyuman tipis mengembang di wajah Vino. Dia duduk berlutut di depan kaki Elena.


"Lo mau ngapain?" Elena membulatkan mata. Jantungnya berdetak semakin tidak karuan. Mungkinkah itu cara Vino meminta maaf dengan sungguh-sungguh? Atau, cowok tersebut berniat akan mengakui perasaannya?


Vino hanya diam. Ia memegangi rok abu-abu Elena. Menyingkap perlahan rok itu sampai memperlihatkan pangkal paha Elena yang putih bersih dan mulus.


Elena mematung. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan Vino.


Tanpa diduga Vino mendekatkan mulutnya yang menganga ke paha Elena. Ia mengeluskan bibirnya dengan lembut di sana.


Elena reflek mendongakkan kepala. Dia juga menggigit bibir bawahnya. Vino gila! Hanya itulah hal yang terus terlintas dalam benak Elena. Sekali lagi dia tenggelam akan sentuhan Vino.


Usai mengusap bibir secara bergantian pada kedua paha Elena, Vino memberikan kecupan-kecupan kecil. Hal itu membuat bulu kuduk Elena meremang beberapa kali.


Vino mendongak untuk menatap Elena. Dia menyaksikan cewek itu menikmati sentuhannya. Vino perlahan berdiri. Dia mendekatkan wajah ke wajah Elena. Cewek tersebut lantas membuka mata dengan nafas yang sudah tersengal.


Atensi Elena tertuju ke arah bibir Vino. Ia juga sudah mengangakan mulut. Siap menerima ciuman Vino.

__ADS_1


__ADS_2