
...༻✫༺...
Saat sudah ada di aula lama sekolah, Alam didorong oleh Andi dan Iyan hingga terjatuh ke lantai. Dia tersungkur tepat di hadapan Vino.
Alam menatap nanar. "Katanya lo nggak akan gangguin gue setelah menari dan bernyanyi di depan Elena..." lirihnya.
"Emang janjinya begitu. Tapi lo nggak melakukannya dengan baik. Lima detik bahkan nggak sempat," tukas Vino beralasan.
"Tapi gue setidaknya sudah melakukannya," bantah Alam.
"Lo juga beli baksonya kelamaan!" Andi ikut menimpali.
"Gue kan harus antri dulu. Coba lo beli sendiri. Pasti--"
"Apa?! Lo nyuruh gue beli sendiri?!" potong Vino gamblang. Dia menarik kerah baju Alam. Tanpa diduga cowok berbadan gempal tersebut berani menghempaskan tangan Vino.
"Lo kalau mau cari masalah sama gue bilang aja! Nggak usah melotot dari jauh. Lo pikir gue nggak lihat?!" timpal Vino sambil mendorong kasar bahu Alam.
"Lo nggak pantas jadi pacar Elena. Jauhin dia!" ujar Alam. Secara tidak langsung dia mengaku terganggu terhadap hubungan Vino dan Elena akhir-akhir ini. Selain karena menyukai Elena, dirinya juga sangat membenci Vino. Manusia mana yang senang ketika melihat orang yang dicintainya dekat dengan sosok paling dibenci.
Alam sudah tak tahan lagi akan sikap Vino. Dia awalnya tidak masalah jika harus disuruh membelikan bakso, namun dirinya merasa semakin dibuat kesal kala Vino kembali merundungnya seperti dulu.
"Apa?!" Vino tercengang mendengar perlawanan dari Alam. Meskipun begitu, dia berakhir tertawa.
"Dia udah berani, Vin." Iyan berkomentar. "Lo mau gue ceburin dia ke kolam renang sekolah?" tawarnya.
__ADS_1
Vino tidak menanggapi perkataan Iyan. Ia berjongkok ke hadapan Alam yang masih terduduk di lantai.
"Kalau gue jauhin Elena terus lo mau apa?" tukas Vino.
"Elena cewek baik! Lo nggak pantas jadi cowok dia!" papar Alam.
"Terus cowok yang pantas buat Elena lo gitu?" balas Vino.
Alam seketika terdiam. Merasa memiliki banyak kekurangan, dia tentu ragu untuk mengiyakan.
Vino manarik sudut bibirnya ke atas. "Kalau lo nggak pede, ngapain lo terus peduli sama Elena? Gue yakin lo pasti sadar gimana penampilan sendiri pas ngaca," tukasnya.
Alasan utama Vino membawa Alam ke aula bukan karena masalah bakso. Melainkan karena saat di kantin tadi dia memergoki Alam terus mencuri pandang ke arah Elena. Selain itu, Vino juga mengetahui Alam dengan berani menatap tajam dirinya dari kejauhan.
"Gue tahu wajah gue nggak seganteng lo, Vin. Tapi gue setidaknya bukan bajingan kayak lo!" timpal Alam. Dia mencoba melayangkan tinju. Namun Vino yang menguasai bela diri dapat menghindar dengan baik.
Sambil menggertakkan gigi, Alam terus maju untuk menyerang Vino. Akan tetapi tidak ada satu pun pukulan yang mengenai cowok tersebut.
Mengetahui Vino bisa menghadapi Alam, Iyan dan Andi tetap diam. Keduanya justru asyik merokok. Mereka merasa geli melihat amukan Alam yang hanya bisa memukul udara. Sampai akhirnya cowok berbadan gempal itu tersandung sendiri dan jatuh. Alam lantas terjerembab tepat ke bawah kaki Vino.
"Haha! Vino dilawan," ucap Iyan.
Vino mendengus. Lalu memaksa Alam berdiri. Salah satu tangan Vino sudah terkepal erat. Dia siap melayangkan tinju ke wajah Alam. Namun belum sempat semua itu terjadi, Elena dan Ranti datang.
Vino bergegas merangkul Alam. "Kalau lo nggak mau babak belur karena balasan gue, mending lo senyum sekarang," bisiknya.
__ADS_1
Alam mengerutkan dahi. Dia merasa kesal sekaligus tertekan. Tersenyum tentu adalah hal tersulit untuk dilakukan.
"Vino!" panggil Elena seraya melangkah laju menghampiri Vino dan Alam. Dia memperhatikan Alam dengan baik.
"Lam, Vino nggak ngapa-ngapain lo kan?" tanya Elena.
"Ya enggaklah. Iyakan, Lam?" Vino sengaja bicara lebih dulu dibanding Alam. Dia segera menatap cowok tersebut.
"El, gue--"
"Dia katanya suka sama lo, El." Vino memotong ucapan Alam. Dia bahkan membeberkan perihal perasaan cowok berbadan gempal itu. Alam sontak merasa malu dan panik.
"A-apa?" Elena bingung harus menjawab apa.
"Bu-bukan begitu, Gu-gue..."
"Tuh kan dia jadi gugup." Vino lagi-lagi bicara lebih dulu. Dia memanfaatkan kegugupan Alam dengan baik.
"Udah deh, Lam. Kalau lo nggak sanggup menatap Elena, mending lo pergi aja sekarang. Gue yakin Elena butuh waktu buat mikir," usul Andi.
"Karena gue, sekarang Elena sudah tahu tentang perasaan lo," ujar Vino seraya tersenyum. Dia melepas rangkulannya dari Alam.
Dengan kepala tertunduk, Alam buru-buru pergi. Saking gugupnya karena Elena, dia sampai tidak berani menatap cewek tersebut.
Elena terdiam. Dia mendelik ke arah Vino yang mentertawakan Alam. Elena sekarang memilih bicara pada Andi dan Iyan. Dia berjalan ke hadapan dua cowok itu.
__ADS_1