
...༻✫༺...
Kini Elena sedang bertukar pesan dengan Rendi. Dia melakukannya sambil memakan keripik kentang. Karena di rumah, Elena mengenakan baju ketat dan celana pendek sepangkal paha.
Kaki Elena bergerak mengiringi irama musik yang terputar. Waktu santainya harus terganggu dengan suara aneh dari jendela.
Elena mematikan musik. Dia menatap ke jendela. Berharap tidak ada hantu yang muncul dari sana.
Bukannya hantu, justru Vino yang nampak. Dia menaiki jendela Elena dan duduk di sana.
"Cepat tutupi CCTV lo. Kalau perlu, matikan aja sekalian," ujar Vino dengan santainya.
"Gila ya lo!" geram Elena tak percaya. Dia terpaksa menutupi kamera pengawas di kamarnya terlebih dahulu. Lalu segera mengusir Vino.
"Pergi nggak?!" timpal Elena dengan mata menyalang.
"Enggak." Vino menggeleng sambil melipat tangan di depan dada. Dia melompat masuk ke kamar Elena.
"Kalau lo berani dekat-dekat, gue akan laporin lo ke polisi!" ancam Elena yang terlampau kesal terhadap sikap berandal Vino.
"Gue cuman butuh tempat dan teman." Vino berjalan melingus di hadapan Elena. Kemudian merebahkan dirinya ke ranjang cewek itu. Vino mengambil ponsel Elena yang tergeletak di ranjang. Di sana dia bisa melihat pesan percakapan Elena dan Rendi.
"Jangan!" Elena tak terima. Dia segera mengambil ponselnya dari Vino. Namun cowok tersebut sigap menjauhkan ponsel dari jangkauan Elena.
"Cie lagi dekat sama cowok. Katanya nggak mau pacaran," komentar Vino.
"Kembaliin ponsel gue!" Elena memegang tangan Vino. Lalu mengambil ponselnya. Dia kali ini berhasil.
"Elena?" tanpa diduga terdengar suara Rika memanggil. Mata Elena membuncah hebat.
Vino yang mengerti segera menyembunyikan dirinya di balik selimut. Bertepatan dengan itu, pintu terbuka.
"Kau bicara dengan siapa?" selidik Rika seraya memindai keadaan kamar sang putri.
"Di ponsel, Mah. A-aku tadi bicara sama Ranti," kilah Elena.
"Tapi kok kedengerannya kayak ada orang selain kamu?"
__ADS_1
"Enggak ada kok, Mah. Mamah kan lihat sendiri nggak ada siapa-siapa di kamar aku." Elena mencoba berlagak tenang. Padahal jantungnya berdegup sangat kencang sekarang. Jika ibunya tahu ada cowok di atas ranjangnya, maka matilah sudah dia.
"Ya sudah kalau begitu. Kau sebaiknya tidur. Ini sudah larut malam, besok juga ada ulangan kan?" ujar Rika.
"Iya, Mah." Elena mengangguk.
Rika lantas pergi. Saat itulah Elena bergegas mengunci pintu. Vino juga langsung menyibak selimut yang tadi menutupinya.
Gigi Elena menggertak kesal. Dia mengambil sebuah majalah dari atas nakas. Kemudian memukulkannya berulang kali ke badan Vino.
"Ini semua gara-gara lo!" geram Elena. Wajahnya memerah karena merasa sangat kesal.
"Pssst! Pelan-pelan. Nanti nyokap lo balik lagi," kata Vino yang tak tahu diri. Dia justru menyuruh Elena untuk diam. Vino segera berdiri.
"Bacot!" cibir Elena dengan nada pelan.
"Mending lo tidur. Tadi nyokap lo suruh lo tidur kan?" Vino berucap sambil masuk ke kamar mandi. Dia bersikap seperti tuan rumah.
Elena terperangah. Dia benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi sikap kurang ajar Vino.
Saat sudah mengangakan mulut karena hendak bicara, pintu kamar mandi telah ditutup oleh Vino. Hingga Elena mengurungkan niat untuk bicara.
Selang sekian menit, Vino keluar dari kamar mandi. Dia melihat keadaan kamar Elena sudah gelap. Cewek itu sengaja mengusir Vino dengan cara berpura-pura ingin segera tidur.
"Gue mau tidur. Lo mending cari tempat dan teman yang lain," ucap Elena yang telentang miring membelakangi posisi Vino.
"Gue akan pulang setelah merokok di jendela," sahut Vino. Dia berjalan ke dekat jendela. Dirinya menyalakan sebatang rokok di sana.
Elena yang belum tidur, terus mendengarkan. Dia berharap Vino bisa secepatnya pergi. Jujur saja, kedekatannya dengan Rendi sudah cukup berhasil mengalihkan perhatian Elena dari Vino. Tetapi cowok itu mendekatinya lagi. Bahkan langsung mendatangi kamar Elena.
"Lo padahal bisa ngerokok di hotel atau tempat mewah. Kenapa malah pilih kamar gue? Itu cari mati tahu nggak," celetuk Elena.
"Kamar lo nyaman dan penuh tantangan. Gue suka," sahut Vino yang masih menikmati rokok. "Tidur aja, El. Nanti pas pergi, gue tutupin jendelanya," sambungnya.
Mata Elena mendelik. Meskipun begitu, dia tak bisa sepenuhnya menatap Vino. Mengingat cowok tersebut berada di belakangnya.
Hening menyelimuti suasana. Vino hanya duduk di jendela dan diam. Sampai waktu berjalan hingga setengah jam lebih.
__ADS_1
Akibat penasaran, Elena akhirnya menoleh ke jendela. Dia menemukan Vino sudah menghilang. Jendela juga terlihat telah tertutup. Anehnya, Elena malah merasa kecewa.
Elena lekas menggeleng kuat. Dia tidak ingin dirinya tenggelam lagi dengan perasaan. Elena memilih untuk tidur saja. Kebetulan juga malam semakin larut.
'Tuh kan gue mikirin Vino lagi!' keluh Elena dalam hati. Karena Vino, dia bahkan tidak mengantuk. Dirinya fokus dengan pikiran.
"Belum bisa tidur?" suara itu membuat Elena jantungan. Bagaimana tidak? Pemilik suara tersebut jelas adalah Vino. Suaranya juga sangat dekat. Persis di belakang Elena. Entah sejak kapan Vino telentang di belakang cewek itu.
"Vino? Lo belum--"
"Iya, gue belum pulang. Sekarang mending lo diam. Kita sebaiknya tidur," potong Vino. Dia memejamkan mata.
"Kita?" Elena berbalik. Benar saja, dia bisa melihat Vino dalam mode siap untuk tidur.
Elena tidak tahu harus bagaimana. Mau mengusir sudah tengah malam, mau mengomel merasa sia-sia, alhasil Elena tak punya pilihan selain membiarkan. Lagi pula sepertinya Vino benar-benar ingin tidur. Cowok itu tidak mungkin berbuat nakal seperti biasa kan?
Elena menjaga jarak dari Vino. Bahkan menjadikan bantal guling sebagai pembatas. Dia berbaring membelakangi Vino.
'Sial! Bukannya ngantuk, mata gue malah tambah seger,' batin Elena. 'Gimana kalau Vino cium gue lagi? Atau jangan-jangan dia pengen lebih dari itu?' lanjutnya yang langsung menggeleng tegas.
Pikiran Elena menduga-duga banyak hal. Dia jadi gelisah sendiri. Sampai dirinya bisa tenang ketika memikirkan materi pelajaran yang mungkin terkait dengan ulangan besok.
Saat mulai mengantuk dan melupakan Vino, Elena tiba-tiba merasakan sentuhan di perutnya. Darah disekujur badan Elena berdesir hebat. Cewek itu juga reflek menggigit bibir bawahnya.
Pelaku yang sedang menjamah perut Elena jelas adalah Vino. Ia masih berada di belakang Elena. Cowok itu melakukannya dalam keadaan memejamkan mata.
Tangan Vino perlahan bergerak turun ke bagian bawah perut Elena. Menyusup masuk ke area paling sensitif cewek tersebut. Ketika sudah tiba di sana, jari-jemari Vino mulai bermain.
Kenikmatan yang terasa, membuat Elena tak berpikir untuk menghentikan Vino. Dia membasuh mulutnya beberapa kali dengan lidah. Terasa ada gelitikan aneh dan candu di perutnya. Gairah Elena perlahan meningkat.
Saat mulut tak sengaja menganga, Elena langsung mengatupnya rapat-rapat. Sebab dia tidak mau mengeluarkan suara aneh karena perbuatan Vino.
Jari-jemari Vino benar-benar tahu cara membuat Elena terbuai.
"Vin..." lirih Elena. Dia sejak tadi berusaha untuk tidak mendessah.
Sementara Vino hanya diam. Ia bahkan masih memejamkan mata. Dirinya berlagak seakan-akan sedang tertidur. Padahal satu tangan Vino terus bergerak aktif memuaskan hasrat Elena.
__ADS_1
Lama-kelamaan, tibalah Elena merasakan puncak kenikmatan. "Akh..." lenguhnya kelepasan. Dia sigap membekap mulut dengan tangannya sendiri. Kini Elena merasa tubuhnya melemas. Ia tidak pernah merasakan sensasi seperti itu sebelumnya.
Mendengar Elena mengerang, Vino berhenti memainkan jarinya. Di belakang Elena, dia diam-diam mengontrol nafas. Vino jelas juga menikmati seperti halnya Elena.