
...༻✫༺...
Elena tidak mau menyimpulkan kalau mual yang dialaminya adalah gejala hamil. Dia mencoba berpikir positif dan berusaha bersikap normal. Ia bahkan memaksakan diri pergi ke sekolah.
Kini Elena sudah berada di dalam kelas. Jujur saja, rasa mualnya tidak kunjung hilang. Ketika guru sibuk menjelaskan, dia tidak sengaja kelepasan. Memperdengarkan suara hendak muntah cukup nyaring.
Suasana kelas yang kebetulan hening, tentu bisa mendengar derita Elena. Guru yang mengajar bergegas memastikan keadaan cewek itu.
"Elena, kamu sakit?" tanya Bu Vita.
"Enggak, Bu. Aku masih bisa." Elena tetap memaksakan diri. Dia masih saja berusaha bersikap baik-baik saja. Namun tubuhnya tidak bisa berbohong. Kali ini Elena bahkan mengeluarkan muntahan dari mulutnya.
"Aaaarkhh!"
Beberapa murid yang kaget berteriak. Sebab Elena muntah tanpa aba-aba. Cairan yang berasal dari perutnya sontak menggenang di lantai. Sekarang Elena hanya bisa menanggung rasa malu. Apalagi ketika melihat semua orang sibuk menutupi hidung karena tidak kuat dengan bau muntah.
"Sakit itu nggak bisa ditahan, El. Seberapa keras kamu bohong, badanmu nggak bisa bohong," tutur Bu Vita. Dia segera menyuruh salah satu muridnya untuk mengantar Elena ke UKS.
Sesampainya di UKS, dokter yang bertugas segera memeriksa. Karena sekolah Elena bertaraf internasional, dokter yang ada di sana setara dengan dokter umum di Puskesmas. Nama dokter yang bertugas adalah Ria. Dia merupakan dokter yang terbilang muda.
"Kamu punya riwayat penyakit mag nggak?" tanya Ria.
Elena menggeleng. "Enggak, Bu."
__ADS_1
"Sejak kapan kamu merasa mual begini?" Ria kembali bertanya. Dia terlihat menatap Elena dengan penuh empati. Sebagai dokter, dia tentu sudah memiliki dugaan sementara.
"Baru tadi pagi, Bu. Mungkin aku masuk angin aja," ujar Elena sembari meringiskan wajah. Rasa mualnya perlahan hilang setelah tadi sempat dimuntahkan.
"El, maaf sebelumnya kalau Ibu akan memberikan pertanyaan pribadi. Apa kamu punya pacar?" selidik Ria. Dia hendak memastikan diagnosanya.
Mata Elena membulat. Dia tahu kemana arah pertanyaan Ria akan berakhir. Tanpa berpikir lama, Elena langsung menggeleng dan berkata tidak. Setidaknya dirinya berkata jujur sekarang. Mengingat Elena dan Vino memang sudah putus.
"Ya sudah. Sebaiknya kamu istirahat saja. Ini obat untuk mengurangi mual kamu. Kalau mualnya muncul lagi besok, kasih tahu aku," ucap Ria seraya memberikan obat. Dia menyarankan Elena istirahat di salah satu kasur yang ada di UKS.
"Boleh aku istirahat di asrama aja nggak?" celetuk Elena.
"Tentu saja. Tapi apa kau bisa ke sana sendiri? Mau aku temani?" tawar Ria. Dia cemas melihat wajah Elena yang terlihat agak pucat.
Elena sudah mengambil ponsel dari tempat persembunyian. Sebelum menggunakan benda pipih itu, dia tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Dalam sekejap, Elena menjelajah internet. Ia sekarang mengerti kenapa Ria tadi menyuruhnya melapor jika besok mengalami mual lagi.
"Kalau besok pagi gue mual-mual lagi, berarti gue beneran hamil. Semoga aja ini cuman masuk angin. Semoga besok gue nggak mual lagi. Mustahil gue hamil. Vino selalu pakai pengaman." Elena terus menepis segala gejala kemungkinan yang diterimanya.
Sebelum istirahat, Elena berganti pakaian. Sebab seragamnya agak kotor dan bau karena muntah tadi. Selanjutnya, barulah dia telentang ke ranjang.
Elena mendadak memikirkan Vino. Jika dia benar-benar hamil, kira-kira bagaimana reaksi cowok itu?
"Ah, benar! Gue lupa kasih tahu Vino tentang apa yang dikatakan Tias kemarin." Elena menepuk jidatnya sendiri. Dia segera mengirim pesan pada Vino.
__ADS_1
'Vin, sorry baru bisa kirim pesan sama lo. Tapi gue pengen kasih tahu hal penting kali ini. Kemarin pas gue pulang bareng Tias, gue tahu fakta lain tentang penyebar video kita. Katanya Tias diancam sama orang. Menurut Tias pelaku aslinya adalah salah satu teman dekat kita.' Begitulah pesan pertama yang dikirim Elena. Setelah itu dia sempat terpikir ingin mengatakan keadaannya.
"Nggak! Gue harus pastikan sampai besok." Elena tidak mau buru-buru mengambil kesimpulan. Meskipun begitu, dia merasa harus memperbaiki hubungannya dengan Vino. Sungguh, Elena mulai merindukan cowok itu. Alhasil dia mengirim pesan kedua.
'Gue emang marah banget kemarin sama lo. Tapi kayaknya gue nggak bisa marah lama-lama. Kalau mau balikan, lo bisa temui gue sekarang. Btw, gue lagi sakit. Jadi disuruh istirahat di asrama.' Elena mengirim pesan tersebut untuk Vino. Kini dia hanya perlu menunggu.
...***...
Di rumah Vino, semua orang mabuk berat. Kecuali Ranti yang hanya setengah mabuk. Dia diam-diam berkeliling di rumah mewah Vino. Sampai akhirnya Ranti tertarik memeriksa kamar Vino.
Atensi Ranti langsung tertuju ke arah ponsel yang tergeletak di lantai. Dia segera mengambil ponsel itu.
"Vino pasti galau banget sekarang. Sampai banting handphonenya begini. Salah siapa mau pacaran sama cewek sok baik kayak Elena," ucap Ranti seraya menyalakan ponsel Vino. Pupilnya membesar saat ponsel Vino masih bisa menyala. Bahkan menampilkan banyak pesan yang masuk. Salah satunya pesan baru dari Elena.
Ranti tentu langsung membaca pesan dari Elena. Dia tercengang saat membaca pesan tentang Tias serta kata-kata manis Elena untuk Vino.
"Ada untungnya ponsel ini dibanting Vino," ucap Ranti sembari menghapus semua pesan baru Elena. "Tunggu aja Vino sampai lumutan. Lagian biar dia baca pesan Elena, dia tetap nggak bisa pergi. Orang Vino lagi mabuk berat gitu," sambungnya dengan mimik wajah sinis.
Ranti melangkah cepat keluar kamar. Dia sekarang sangat marah pada Tias. Karena gadis itu sudah memberi Elena petunjuk tentangnya. Setidaknya Ranti beruntung Vino tidak membaca pesan Elena yang tadi dia hapus.
Ranti bergabung bersama Vino dan kawan-kawan ke sofa. Ketiga cowok itu tampak bermalas-malasan karena pengaruh obat-obatan terlarang.
"Di, gue pinjam mobil lo. Gue harus ke sekolah sekarang!" Ranti berucap sambil mengambil kunci mobil Andi dari saku celana. Dia ingin cepat-cepat menemui Tias di sekolah. Berniat akan memberi pelajaran cewek tersebut.
__ADS_1