Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 32 - Tak Bisa Menolak Pesonanya


__ADS_3

...༻✫༺...


"Mah, Pah! Boleh aku langsung pulang? Aku mendadak sakit perut," ucap Elena seraya memegangi perut.


"Jangan bohong kamu, El. Masa bisa tiba-tiba sakit perut begitu? Kalau nggak tahan, kamu numpang buang air besar di rumah klien Mamahmu ini aja. Dia sangat dekat dengan Lina," ujar Alan.


"Ayo cepat turun. Biar Mamah tanyakan langsung dimana toiletnya," kata Rika sembari keluar dari mobil.


Mendengar hal itu, Elena bergegas menghentikan. Dia tentu tidak mau menanggung malu karena ingin buang air besar di rumah orang. Terlebih dirinya berada di rumah Vino sekarang.


"Nggak jadi, Mah. Aku mulai membaik," ucap Elena. Dia memegangi lengan sang ibu.


"Ada-ada saja kamu," komentar Rika. Dia, Elena, dan Alan segera melangkah masuk ke kediaman keluarga Adhitama.


Elena mendengus kasar. Dia mempererat genggamannya ke lengan Rika. Bersiap menghadapi Vino yang telah dihindarinya selama beberapa hari.


"Kamu kenapa, El? Pegangnya kuat banget," tegur Rika heran.


"Nggak apa-apa, Mah." Elena menggelengkan kepala.


"Oh iya, katanya putra Arya dan Lina juga bersekolah di tempatmu. Mungkin kamu kenal sama dia," cetus Alan.


Elena tersenyum kecut. Jelas dia tahu siapa yang dibicarakan ayahnya. Siapa lagi kalau bukan Vino.


Kedatangan Elena dan keluarganya disambut oleh Lina. Wanita itu ternyata memiliki hubungan yang akrab dengan Rika. Sebab Lina seringkali meminta bantuan Rika mengurus sangketa tanah miliknya beberapa kali. Karena bekerja sebagai jaksa, Rika memperkenalkan Lina dengan pengacara-pengacara terbaiknya.


"Ini anakmu, Ka? Ya ampun... Cantik sekali ya," puji Lina ketika melihat Elena.


"Nggak kalah cakep sama orang tuanya kan," canda Rika. Dia melepaskan pegangan Elena dan merangkul pinggul putrinya tersebut.


"Senang bertemu denganmu lagi, Alan." Lina menyapa ayahnya Elena. Mereka saling bersalaman.


"Aku juga," sahut Alan.


"Tunggu sebentar, aku akan panggilkan Arya," ucap Lina yang langsung memanggil sang suami.


Setelah dipanggil, Arya segera menyambut Elena dan keluarganya. Arya dan Alan sendiri sudah beberapa kali bertemu. Sebab keduanya merupakan orang penting. Tidak jarang mereka tidak sengaja bertemu dalam beberapa acara. Meskipun begitu, hubungan Arya dan Alan tidak seakrab hubungan kedua istrinya.


Sementara kedua orang tuanya mengobrol, Elena berdiri dengan perasaan gelisah. Dia menengok ke sana kemari. Berharap keberadaannya tidak diketahui Vino.


Elena langsung mematung saat melihat Vino di lantai dua. Cowok itu berdiri sambil memegang gelas entah apa isinya. Elena sendiri yakin minuman yang diminum Vino adalah sampanye. Ia tahu ketika melihat warna cairan dari dalam gelas.


Sama seperti Elena, Vino juga tampak terpaku. Keduanya saling mengagumi penampilan mereka satu sama lain.


Bagi Elena, Vino terlihat dua kali lebih tampan dengan kemeja rapi dan celana panjang. Dia benar-benar terlihat seperti putra konglomerat.


Vino beranjak dari tempatnya. Ia menuruni tangga dengan pelan. Kebetulan juga posisi Elena berada tepat di depan tangga.


Ketika sudah dekat dengan posisi Elena, ekspresi Vino langsung berubah. Dia menjadi antusias dan ceria.


"Elena! Kau datang juga ternyata," sapa Vino. Dia berdiri ke samping Elena. Merangkul pundak cewek itu dengan berani di hadapan Alan dan Rika.

__ADS_1


"Vin!" Elena menatap tajam. Menurutnya Vino berlebihan. Atensi semua orang kini tertuju pada Vino dan Elena.


"Kalian saling kenal?" tanya Alan memastikan.


"Iyalah, Pah. Elena ini populer banget di sekolah. Dia selalu jadi juara umum. Kami juga sering belajar bersama," tutur Vino berkilah.


Elena mendelik. Dia tentu tahu apa yang di ucapkan Vino hanyalah kebohongan. Belajar bersama? Melihat Vino membaca buku saja Elena hampir tidak pernah.


"Nggak juga, Tante... Om..." Elena berusaha menahan malu. "Justru Vino lebih populer dibanding aku. Dia atlet sekolah. Dan aku yakin Vino pasti akan mendapatkan nilai yang bagus semester ini. Sebab akhir-akhir ini aku melihatnya sangaaaaaat... rajin belajar," sambungnya. Sengaja melakukan sarkas.


"Ya, tentu saja." Vino mengiyakan sambil melirik kesal Elena. Kebohongan jelas cewek itu tentu adalah sindiran menohok.


"Bagus kalau begitu. Pertemanan kalian berarti sangat bermanfaat," tanggap Rika. Dia, Lina, Alan, serta Arya, merespon positif kedekatan Elena dan Vino.


"Oke, Mah, Pah. Aku sama Elena mau ambil makanan," ungkap Vino. Selanjutnya dia menatap ke arah Rika dan Alan. "Aku boleh bawa Elena-nya kan Tante, Om?" tanyanya. Meminta izin langsung pada orang tua Elena.


"Mah, aku--"


"Tentu saja boleh," sahut Rika. Tak sengaja memotong ucapan Elena. Cewek itu sontak merasa cemas.


"Jagain Elena ya, Vin. Jangan sampai dia kecebur ke kolam renang," ucap Alan.


"Emang Elena nggak bisa berenang, Om?" Tanpa sengaja Vino mengetahui kelemahan Elena.


"Enggak, Vin. Dia dulu pernah tenggelam sampai pingsan. Jadi sekarang Elena nggak pernah mau dekat-dekat sama air yang dalam," jelas Rika.


"Kalau begitu, jangan jauh-jauh dari Vino, El. Dia jago banget berenang soalnya. Tahun ini Vino bahkan sudah didaftarkan bertanding untuk mewakili sekolahnya," cetus Lina. Membanggakan sang putra. Pembicaraan orang tua terus berlanjut.


Vino sendiri muak mendengar segala ucapan Lina dan Arya. Kedua orang tuanya memang selalu begitu. Mereka hanya akan membanggakan Vino saat ada di hadapan orang. Tetapi mengabaikan ketika berhadapan dengan Vino seorang.


"Pilih makanan yang lo mau," suruh Vino. Ia juga terlihat memasukkan makanan ke piring.


Elena menghela nafas panjang. Karena lapar, dia juga mengambil makanan. Dirinya dan Vino makan di meja yang sama. Mereka hanya mengambil makanan secukupnya.


Vino menjadi orang pertama yang menghabiskan makanan. Dia melanjutkan dengan cara memandangi Elena lamat-lamat. Cantik, hanya satu kata itu yang bisa disimpulkan pikiran Vino.


Elena sadar dengan tatapan Vino. Dia sontak menjadi salah tingkah. Elena berhenti makan dan berdehem. "Apa liat-liat? Kalau suka sama gue bilang!" tukasnya garang.


Vino tersenyum tipis. "Lo cantik banget," ungkapnya.


Kalimat pujian itu berhasil membangkitkan detak jantung yang membara untuk Elena. Dia langsung berdiri karena salah tingkah. Ingin cepat-cepat menjauh dari Vino.


Karena ceroboh, Elena tak sengaja menyenggol sebuah gelas. Benda itu otomatis jatuh dan pecah. Serpihan kacanya yang tajam menghantam pergelangan kaki Elena hingga terluka.


"Aaa!" Elena mengerang kesakitan.


Vino segera membawa Elena pergi dari keramaian. Ia juga tak lupa menyuruh pelayan untuk membersihkan keributan yang dibuat Elena. Vino menyuruh cewek itu duduk. Lalu membawakan sesuatu untuk mengobati luka Elena. Keduanya sedang di lokasi yang agak jauh dari tempat acara. Di sanalah kotak P3K keluarga Adhitama tersimpan rapi di lemari.


"Gue bisa sendiri." Elena mencegah Vino yang ingin mengurus lukanya.


"Udah! Lo diam aja. Gue nggak bakal apa-apain lo." Vino memukul tangan Elena yang hendak mengambil alih obat.

__ADS_1


Dengan pelan Vino mengobati luka Elena dengan plester luka. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Vino sigap menarik tangan Elena. Mengajak cewek itu masuk ke ruangan untuk bersembunyi. Vino juga tak lupa membekap mulut Elena.


Mata Elena mendelik. Seakan menuntut penjelasan. Namun Vino menanggapi dengan cara meletakkan jari telunjuk ke depan bibir.


Perlahan Vino membuka pintu. Dia dan Elena mengintip dari sana. Di luar terlihat jelas Lina sedang berciuman bibir dengan seorang lelaki. Jelas lelaki itu bukan suaminya. Lina tentu sedang asyik bermesraan dengan selingkuhannya.


Pupil mata Elena membesar. Saat itulah Vino menutup pintu. Cowok itu mendengus sambil melepaskan Elena.


"I-itu nyokap lo kan?" tanya Elena. Tentu pemandangan yang baru dilihatnya bukanlah hal biasa. Dia menatap Vino. Dirinya dan cowok tersebut berada di ruangan billiard.


"Iyalah. Lo pikir siapa?" sahut Vino sembari mengambil tongkat billiar. Kemudian segera membidik salah satu bola billiard.


"Lo nggak sedih?" Elena berempati. Anggapan mengenai Vino sebagai cowok brengsek, sirna begitu saja karena rasa kasihan.


"Capek!" sahut Vino.


"Jadi lo udah terbiasa melihat hal begitu?" Elena mendekat dan berdiri di seberang meja billiard tempat Vino sedang bermain.


"Menurut lo?" Vino membalas tatapan Elena.


Hening menyelimuti suasana cukup lama. Sampai pintu mendadak terbuka. Dara dan dua sepupu Vino yang lain datang. Atensi mereka tertuju pada Elena.


"Pacar lo, Vin?" tanya Riki.


"Iya, cantik kan." Vino menjawab sambil merangkul pundak Elena. Hal itu sontak membuat Dara membelalakkan mata.


"Jangan bohong. Gue kenal lo sudah--" perkataan Dara terpotong saat melihat Vino tiba-tiba mengecup bibir Elena dengan singkat. Hal itu tidak saja membuat Elena kaget, tetapi Dara, Riki, dan Alvi juga dibuat terkejut.


"Jadi kalian bisa pergi? Gue mau berduaan sama pacar gue," tegas Vino. Dara, dan kedua sepupunya lantas pergi. Terutama Dara yang beranjak dengan wajah cemberut.


Sementara Elena, dia mematung karena ciuman Vino yang tiba-tiba. Dirinya merasakan debaran dan gelitik aneh yang candu. Meskipun begitu, Elena kali ini berusaha mengalahkan perasaan dan memilih logikanya.


Buk!


Kali ini Vino mendapatkan tinju dari Elena. Serangan tersebut membuat Vino terhuyung ke samping.


"Baru aja gue luluh sama kehidupan lo. Tapi tetap aja, lo cowok yang nggak bisa dipercaya!" timpal Elena.


"Gue melakukan itu karena pengen ngusir mereka doang!" balas Vino. Dia mengelus pipi bekas tonjokan Elena. Untung saja kekuatannya tidak membuat Vino kesakitan.


"Dengan cara mengakui gue sebagai pacar? Begitu? Lo bisa berhenti nggak permainkan gue?! Capek gue tahu nggak!"


"Gue nggak permainkan lo kok!"


"Terus mau lo apa, hah?!" Elena menatap tajam. Nafasnya tersengal-sengal karena amarah.


Berbeda dengan Vino. Ia terlihat lebih tenang. Perhatiannya tertuju ke bibir Elena. "Gue mau cium bibir lo sekarang," ungkapnya.


"Bacot!" Elena berbalik dan meninggalkan Vino. Ketika sudah di depan pintu, langkahnya terhenti. Walau marah, dirinya juga ingin mencium Vino sekarang. Godaan itu terus menghantui benak Elena sejak Vino menciumnya tadi.


Di belakang, Vino masih berdiri di tempat. Menatap Elena yang tak kunjung pergi.

__ADS_1


"Sial!" rutuk Elena seraya melempar tas dengan asal. Bukannya pergi, dia malah berbalik. Lalu bergegas menyatukan bibirnya dengan mulut Vino. Cowok itu tentu tak menolak. Ia justru lebih liar dibanding Elena. Ciuman panas mereka berlangsung.


Pertahanan Elena yang sudah dibangun beberapa hari runtuh begitu saja. Ketampanan dan sikap berandal Vino benar-benar mempesona bagi Elena. Akhirnya cewek itu terjebak di dalam kandang sang singa.


__ADS_2