
...༻✫༺...
"Gue akan ke tempat lo sekarang!" ujar Vino. Dia mematikan telepon dan langsung pergi menemui Elena. Cewek itu akan menunggu di belakang asrama sekolah. Tempat sepi dan aman untuk bertemu dengan Vino.
Selang sekian menit menunggu, Vino akhirnya datang. Elena yang sejak tadi duduk di rumput, segera berdiri. Vino berhenti melangkah tepat di hadapannya.
"Plis kasih tahu gue lo cuman bercanda," kata Vino.
"Vin, ngapain gue bercanda sama masalah begini sih!" sahut Elena dengan dahi yang berkerut samar.
Vino mendengus. Ia mengusap kasar wajah tampannya. "Dengar, gue selalu pakai pengaman saat kita melakukannya. Aneh banget kalau lo bisa hamil kan?" tanggapnya heran.
"Gue juga heran sama itu. Tapi yang pasti gue sekarang hamil. Dan gue cuman pernah melakukannya sama lo. Jadi otomatis anak yang ada di perut gue ini juga anak lo!" tukas Elena.
"Anak?" Vino tidak menyangka bisa mendengar kata itu. Dia merasa terlalu muda untuk berurusan dengan yang namanya anak.
"Iya, anak! Terus kita harus gimana sekarang Vin? Gue nggak mau berhenti sekolah. Lo nggak tahu gimana menderitanya gue nahan mual yang nggak enak banget," ungkap Elena. Ia mulai meneteskan air mata.
Vino menatap nanar Elena. Dia segera memeluk cewek itu. "Maafin gue. Ini salah gue. Kita sebaiknya tenang dulu. Terus cari solusi terbaiknya," tuturnya.
"Kalau misalkan kita diam-diam nikah gimana?" usul Elena.
Vino mengernyitkan kening. Dia langsung melepas pelukannya.
"Yang pasti bukan itu," ucap Vino.
"Maksud lo?" Elena menuntut penjelasan.
Vino memejamkan matanya rapat-rapat. "El, gue aja nggak bisa bayangan akan menikah di masa depan. Apalagi sekarang," jelasnya.
"Jadi lo nggak mau tanggung jawab?" Elena merasa sangat kecewa.
__ADS_1
"Bukan gitu. Gue cuman merasa nggak percaya sama yang namanya pernikahan setelah melihat gimana nyokap dan bokap gue!"
"Emangnya kenapa bokap sama nyokap lo? Itu mereka, bukan lo! Apa selama ini lo nggak cinta sama gue?!"
"Cinta, El! Tapi gue merasa bukan menikah solusinya. Lo masih mau ngejar mimpi lo kan? Nah, gue juga ingin begitu! Lagian lo pasti nggak mau bokap dan nyokap lo tahu tentang ini." Vino menggenggam kedua tangan Elena. Dia berharap cewek itu mengerti.
Benar saja, Elena seketika terdiam. Memikirkan bagaimana sulitnya nanti jika dia ingin terus melanjutkan pendidikan. Semuanya akan sulit jika dirinya sudah memiliki anak.
"Terus gimana, Vin? Gue takut..." Elena masuk ke dalam pelukan Vino lagi. Keadaan yang menimpanya sekarang membuat dia sulit untuk berpikir jernih. Rasanya Elena akan melakukan apapun agar bisa mendapat solusi yang tepat.
"Ayo kita ke dokter. Lagian lo belum ke dokter kan? Sebelum bertindak, mending kita pastikan dulu sama ahlinya," ajak Vino. Dia dan Elena segera pergi dari lingkungan asrama.
Kini Elena dan Vino ada di dalam mobil. Mereka dalam perjalanan ke klinik terdekat.
Setibanya di tempat tujuan, Elena langsung mendapat pemeriksaan. Dia bahkan menjalani proses USG. Vino terlihat ikut menemaninya.
"Selamat ya, Mbak. Anda hamil," ungkap dokter. Membuat Elena dan Vino saling bertukar tatapan serius. Seorang buah cinta yang seharusnya dinantikan, kehadirannya justru membuat kedua orang tuanya kecewa.
"Sudah dua bulan ini," ucap dokter bernama Bill itu.
"Kalian suami istri kan ya?" tanya Bill. Menatap Elena dan Vino secara bergantian.
"Anu, Dok. Kami--"
"Iya, kami suami istri!" Vino memotong perkataan Elena. Dia terpaksa mengaku suami istri karena tidak mau dipandang aneh oleh Bill.
"Pasangan muda ya. Ganteng dan cantik lagi. Nggak kebayang gimana anaknya nanti. Pasti rupawan seperti kedua orang tuanya," kata Bill ramah.
Vino dan Elena hanya tersenyum. Mereka lagi-lagi bertukar pandang.
"Dok, sebenarnya kami selalu pakai pengaman pas berhubungan intim. Tapi kenapa bisa kebobolan ya?" tanya Vino yang merasa penasaran.
__ADS_1
Bill terkekeh geli. "Gini ya, Mas. Menggunakan kon-dom tidak selalu terjamin keamanannya. Karena bisa aja kon-dom yang dipakai itu bocor dari awal atau pas sedang dilakukan," terangnya panjang lebar.
"Oh begitu..." Vino mengangguk-anggukkan kepala.
"Makasih, Dok!" pamit Elena. Dia dan Vino segera beranjak dari klinik. Mereka sekarang saling terdiam di mobil.
Elena kembali menangis. Dia tampak berusaha keras menghentikan tangisannya.
Vino berpindah duduk ke sebelah Elena. Memeluk cewek itu dengan lembut.
"Kita harus gimana sekarang, Vin..." isak Elena. Entah sudah berapa kali dia mengucapkan kalimat itu.
"Lo mau kita kabur aja, El? Kita pergi untuk beberapa hari sampai dapat keputusan yang tepat. Lagian gue juga lagi sumpek di rumah," ungkap Vino. Dia mengangkat kepala Elena. Hingga cewek itu mendongak untuk menatapnya. Tangan Vino segera menyapu bersih air mata yang berderai di wajah Elena.
"Ya udah." Elena mengangguk. Setuju dengan usulan Vino.
"Kasih tahu lo mau kemana sekarang? Kita akan pergi kemana pun lo mau," tawar Vino. Dia dan Elena saling menatap lekat. Cewek tersebut juga berhenti menangis.
"Gue pengen ke tempat yang dekat sama laut," jawab Elena.
"Oke." Vino tersenyum. Perlahan dia mencium bibir Elena. Cewek itu lantas membalas ciumannya.
Perlahan ciuman Vino beralih ke leher. Dia malah terbuai untuk terus memberi sentuhan. Hal serupa juga dirasakan Elena. Cewek itu bahkan mulai terangsang.
"Gue nggak apa-apa kan ngelakuin ini?" tanya Vino yang merasa ragu untuk meneruskan.
"Kita keterlaluan nggak sih kalau melakukan ini?" tanggap Elena.
"Jadi lo pengen juga?" Vino tersenyum lebar.
"Nafsu gue pas hamil ini agak beda, Vin. Gue bahkan ngilangin stres dengan cara nonton video bokep malam-malam," ungkap Elena. "Makanya gue merasa frustasi banget. Gue merasa kepribadian gue makin buruk. Gue merasa nggak normal, Vin. Seharusnya-"
__ADS_1
"Hush!" Vino meletakkan jari telunjuk ke depan bibir Elena. "Jangan cemasin apa-apa dulu. Sekarang bukan cuman lo yang frustasi," bisiknya seraya melepas kancing baju Elena satu per satu. Selanjutnya, dia segera membuka pengait bra cewek tersebut. Lalu mulai melahap buah dada Elena satu per satu.
Mata Elena reflek terpejam. Bukannya memikirkan solusi, dia dan Vino malah memilih bercinta hari itu. Mereka melakukannya karena berusaha bertahan dari masalah berat yang menimpa.