Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 44 - Hukuman Untuk Elena


__ADS_3

...༻✫༺...


Tidak seperti hari biasanya, di setiap hari pembagian rapor Elena selalu dijemput ibunya. Kini Rika sudah menunggu di mobil. Wajahnya tampak cemberut. Jelas Rika telah mengetahui bagaimana perkembangan nilai Elena.


Dengan kepala tertunduk ragu, Elena berjalan menuju mobil. Dari kejauhan ada dua cowok yang menatap penuh perhatian padanya. Pertama adalah Rendi, cowok yang sudah lama menyukai Elena. Ia semakin merasa tidak enak karena dialah yang merebut juara satu dari Elena.


Cowok kedua adalah Alam. Perasaannya begitu tulus untuk Elena. Ia hanya bisa mendukung Elena lewat doa. Sebab bicara berhadapan dengan cewek itu saja Alam tak sanggup.


Elena masuk ke mobil. Dia duduk ke sebelah Rika yang kebetulan berada di kursi kemudi.


Hening menyelimuti suasana. Rika marah, sedangkan Elena takut.


"Coba beritahu. Apa ada sesuatu yang mengganggumu untuk semester ini?" timpal Rika.


Elena menggeleng. "Enggak. A-aku selalu menjalani les dan belajar keras seperti biasa," jawabnya.


"Jangan bohong! Nggak mungkin tidak ada sesuatu yang membuat pikiranmu teralih!" Rika memukul setir dengan keras. Hingga Elena sampai dibuat tersentak kaget olehnya.


"Beneran, Mah... Aku sudah terus belajar dengan giat. Lagi pula apa salahnya meraih juara ketiga? Bukankah itu juga masih bagus?" ujar Elena. Dia berusaha mengungkapkan pendapat yang menurutnya benar.


"Kau sudah berani melawan ya! Kau itu mau masa depanmu cerah atau tidak?! Jika nilaimu bagus, kau bisa menjadi apa saja, El! Kau dengar itu? Jadi apa saja!" omel Rika. Dia memegang wajah Elena memperhatikan tampilan sang putri. Dirinya baru sadar kalau Elena mengenakan make up. Rika bisa tahu dari pipi Elena yang sedikit merah, bulu mata dengan lentik bagus, serta lipstik yang cukup dominan.


Elena menangis. Dia tidak berani membalas tatapan sang ibu. Air matanya menetes satu per satu. Orang lain mungkin menganggap hidup Elena begitu sempurna. Pintar, cantik, dan memiliki orang tua yang sangat perhatian. Namun pada kenyataannya tak begitu. Elena selalu tertekan terhadap paksaan yang diberikan Rika dan Alan.


"Apa kau berdandan? Ke sekolah?" selidik Rika.


"Aku selalu berdandan semenjak awal semester kelas sebelas. Mamah baru sadar sekarang?" balas Elena sambil terisak.


Rika melepas Elena. Bukannya berempati, dia malah melontarkan kecurigaan lain.


"Apa kau berpacaran tanpa sepengetahuanku?" tanya Rika lagi.


Elena langsung menggeleng tanpa harus berpikir. Untuk urusan itu dia berkata jujur. Sebab hubungannya dengan Vino sama sekali tidak jelas. Terlebih Elena juga sudah mengakhiri hubungan ambigu tersebut.


"Enggak, Mah. Sekalipun nggak pernah," ungkap Elena seraya menghapus air mata.


"Jangan menangis! Kau tahu kemarahan Papahmu akan lebih parah dibanding aku," imbuh Rika. Bertepatan dengan itu, dia melihat Vino keluar dari gerbang.

__ADS_1


"Kalau kau tidak berkata jujur, maka kita lihat bagaimana pendapat temanmu." Rika segera keluar dari mobil. Berniat bicara pada Vino.


"Tapi, Mah!" Elena berusaha menghentikan. Tetapi dia tidak bisa keluar dalam keadaan menangis. Elena hanya bisa membuka kaca jendela mobil. Di sana dirinya bisa melihat Vino dan kawan-kawan berhadapan dengan Rika.


"Vino! Kau ingat denganku kan?" sapa Rika ramah.


Pupil mata Vino membesar. Tentu dia sangat mengenal Rika. "Tentu saja, Tante. Aku ingat," tanggapnya sambil melirik ke arah Elena. Dia bisa melihat wajah sembab cewek itu. Iyan dan Andi juga bisa melihat penampakan tidak biasa tersebut.


"Mah! Aku nggak dekat sama sekali dengan Vino!" seru Elena. Namun diabaikan oleh ibunya.


Karena Vino menatap, Elena menutup kaca jendela sampai wajahnya tak terlihat. Ia membiarkan kaca sedikit terbuka agar bisa menguping.


"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu tentang Elena. Apa di sekolah dia pernah dekat dengan lelaki?" tanya Rika. Dia jelas bertanya pada orang yang salah. Rika menganggap Vino anak baik. Setidaknya itulah yang dia tahu ketika melihat bagaimana kebaikan keluarga Adhitama terhadap banyak orang.


Mendengar pertanyaan Rika, Iyan dan Andi reflek bertukar pandang. Keduanya berusaha menahan tawa. Sebab Rika tidak seharusnya menanyakan hal itu pada Vino.


"Kayaknya nggak ada, Tante. Setahuku Elena adalah murid teladan. Dia selalu belajar dan banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Terutama saat istirahat kedua," terang Vino.


Tanpa sadar Elena tersenyum mendengarnya. Sebab Vino sangat tahu kalau dirinya selalu ke perpustakaan ketika istirahat kedua. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Elena tak mau tergoda pada Vino lagi.


"Banget, Tante. Kalau nggak percaya, Tante bisa tanya sama murid di sekolah ini. Iyakan?" Vino meminta pendapat dari Iyan dan Andi untuk memperkuat pernyataannya.


"Itu benar, Tante," ujar Iyan yang langsung dianggukkan oleh Andi.


Rika tak bisa mengelak. Ia lantas mengangguk saja.


"Ya sudah kalau begitu. Tante pulang dulu. Kalian mau ikut mobil Tante?" tawar Rika.


"Enggak usah, Tante. Aku pakai mobil sendiri." Vino menolak dengan baik-baik. Dia sangat pintar berlagak seperti cowok baik di mata orang lebih tua.


"Ah, pantas saja." Rika segera pergi dengan mobilnya.


Vino mematung melihat kepergian mobil Rika. Saat itulah Rendi menghampiri.


"Dari awal gue harusnya nggak biarin Elena temenan sama orang kayak lo. Nilainya turun drastis karena temenan sama lo," tukas Rendi. Lalu pergi begitu saja.


Vino terperangah. Dia ingin melawan, namun Rendi terlanjur pergi dengan bus. Vino lantas hanya bisa menggeram kesal.

__ADS_1


Ketika tiba di rumah, Elena harus berhadapan dengan Alan. Ia mendapatkan omelan lagi. Tidak peduli seberapa keras Elena membela diri, dia tetap disalahkan. Cewek tersebut hanya bisa menangis.


"Karena peringkatmu turun, liburan ini kau dihukum tinggal bersama Tante Winda!" tegas Alan.


"Tante Winda? Bukankah dia tinggal di panti asuhan?" tanya Elena di tengah tangisannya.


"Iya. Memangnya kenapa?" sahut Alan. "Bisakah kau berhenti menangis? Tidak ada yang perlu ditangisi!" geramnya.


"Justru karena Tante Winda tinggal di panti asuhan yang membuat kami tertarik. Aku dan Papahmu sudah berencana akan mengirimmu ke sana saat liburan. Terutama ketika nilaimu turun drastis. Kami harap kau bisa merenung di sana," ungkap Rika.


"Pergilah ke kamar. Bersiaplah besok pagi!" perintah Alan.


"Tapi, Pah..." Elena mencoba bernegoisasi. Namun keputusan orang tuanya telah bulat.


Elena tidak bisa membantah. Keesokan harinya dia benar-benar di antar ke panti asuhan tempat tantenya tinggal. Elena akan menghabiskan waktu di sana sampai liburan berakhir.


Kini Rika dan Alan berdiri di depan rumah. Keduanya melepas kepergian Elena.


"Tadi malam aku memeriksa kamera pengawas di kamar Elena. Aku melihat di beberapa waktu dia sengaja menutupi kamera dengan sesuatu," celetuk Rika.


"Mungkin dia berganti pakaian." Alan berpikir positif.


"Aku harap begitu. Jika dia melakukan hal buruk, aku harap lingkungan panti asuhan bisa membuatnya belajar tentang kehidupan," ungkap Rika seraya menghela nafas.


Alan merangkul pinggul Rika. "Elena anak yang baik. Kita hanya berusaha membuatnya menjadi lebih baik," katanya penuh keyakinan.


Di sisi lain, Vino sedang telentang di kamar. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Elena. Apalagi saat memergoki cewek itu menangis.


"Apa nilainya benar-benar turun karena gue?" gumam Vino. Ia mengambil ponsel dan memandangi kontak Elena.


Perasaan bersalah membuat tingkat kecemasan Vino bertambah. Tanpa pikir panjang, dia menghubungi Elena. Tetapi tidak ada satu pun panggilan yang diangkat.


Vino berakhir membanting ponsel ketika tidak mendapat respon apapun dari Elena. Alhasil dia tidak punya pilihan selain mendatangi rumah Elena. Seperti biasa, Vino datang dengan cara menyelinap ke kamar. Sayangnya dia tetap tidak menemukan Elena.


Vino sampai menunggu semalaman. Karena Elena tak kunjung datang, dia sekarang menyimpulkan kalau cewek yang dicarinya pergi ke suatu tempat.


"Dia kemana sih?!" Vino mengacak-acak rambutnya. Ia sudah mencari Elena kemana-mana. Tetapi tidak kunjung dapat. Seperti menemukan jarum di tumpukan jerami.

__ADS_1


__ADS_2