
...༻✫༺...
Usai bicara dengan Arya, Vino langsung pergi ke rumah Elena. Seperti biasa, dia selalu menyelinap kamar cewek itu.
Vino tak lupa memberitahu kalau Elena tidak perlu khawatir akan hukuman berat di sekolah karena rambut. Dia mengatakan dirinya sudah meminta tolong pada Arya.
"Tapi gue nggak bisa pastikan kita akan dapat poin minus atau nggak," ujar Vino. Dia dan Elena telentang bersama di ranjang.
"Sebenarnya nggak apa-apa juga dapat poin minus. Gue cuman pengen lihat gimana respon nyokap dan bokap gimana." Elena memeluk Vino dari samping.
"Lo berharap mereka gimana?" tanya Vino.
"Memahami gue..." lirih Elena. Dia mendongak dan melanjutkan, "persis seperti lo."
Vino balas menatap Elena. "Gue nggak pernah merasakan hal seperti ini sama cewek sebelumnya. Ini aneh banget. Tapi gue senang bisa lihat lo happy," tuturnya.
"Berhentilah bicara terlalu manis. Lo bikin gue semakin nggak bisa berpikir logis," sahut Elena.
"Biarin. Gue malah suka sama lo yang sekarang." Vino tersenyum sembari menatap lekat. Ia dan Elena berciuman bibir.
Sambil terus bergulat lidah, Elena dan Vino saling melepas pakaian. Mereka yang sedang dimabuk cinta, tak perlu berpikir dua kali untuk melakukan penyatuan. Vino yang selalu siap sedia, tidak pernah lupa menggunakan pengaman.
Lenguhan Elena dan Vino mulai saling sahut-menyahut. Gairah cinta muda yang mereka rasakan begitu membara.
Kedua tangan Elena berpegang erat ke punggung Vino. Terutama ketika cowok itu mempercepat pergerakan.
Hentakan demi hentakan diberikan Vino. Memperdengarkan bunyi penyatuan dari tubuh mereka yang saling bergesekan dalam milidetik.
"Vino! Akh!" Elena sudah mencapai puncak. Ia terus merasakannya berulang-ulang saat Vino masih melakukan pergerakan. Sungguh, Elena tak bisa membuat mulutnya diam. Kenikmatan yang diberikan Vino benar-benar membuatnya menggila.
"Sebentar lagi, El... Akh... Sial!" desaah Vino yang terus memaju mundurkan pinggul dengan cepat dan tanpa henti. Sama seperti Elena, dia juga sangat menikmati. Hingga tibalah Vino juga mencapai klimakss. Cowok tersebut mengerang panjang dan langsung tumbang ke dada Elena. Mereka kini sama-sama sibuk mengatur nafas.
Selang sekian menit, Vino dan Elena kembali tenang. Mereka telentang di ranjang dengan badan yang dibalut selimut. Keduanya masih belum mengenakan pakaian.
"Ada satu hal yang gue pengen pastikan sama lo," celetuk Elena.
"Apa?" tanya Vino.
"Lo beneran nggak punya cita-cita?" Elena menatap Vino dengan sudut matanya.
Vino tersenyum tipis. "Mikirin aja nggak pernah. Prinsip gue adalah jalanin hidup ini apa adanya. Yang penting bahagia," jawabnya.
Elena mengembangkan senyuman. "Pantas lo selalu santai di setiap waktu. Tapi, Vin... Mikirin masa depan itu juga penting loh," katanya.
"Gue kira lo udah nggak peduli lagi sama masa depan," tanggap Vino.
__ADS_1
"Sebenarnya gue juga bingung sama cita-cita gue," ungkap Elena.
"Bukannya lo pengen belajar hukum juga kayak bokap dan nyokap lo?"
"Gue emang selalu bilang begitu kalau ditanya sama guru. Tapi gue sebenarnya masih bingung. Gue merasa harus mencari jati diri gue yang sebenarnya. Tapi gue nggak tahu gimana. Mungkin itulah salah satu alasan gue jadi berani sekarang. Bukan cuman karena lo," jelas Elena.
"Jati diri..." Vino bergumam memikirkan perkataan Elena. "Itu sulit buat gue," sambungnya seraya menggelengkan kepala. Kemudian memeluk Elena.
"Bisa kita bicarakan topik yang lebih menyenangkan?" ucap Vino.
"Apa?" tanggap Elena.
"Atau melakukan sesuatu yang menyenangkan," usul Vino. Sementara Elena tampak mengerutkan dahi.
"Seperti ini misalnya!" ujar Vino. Dia menggelitiki perut Elena. Ulahnya sukses membuat cewek itu tertawa karena geli.
...***...
Di pagi yang cerah, Elena baru saja tiba di sekolah. Ia segera keluar dari mobil. Semua pasang mata langsung tertuju kepadanya.
Bagaimana tidak? Murid yang selama ini dikenal sebagai anak teladan dan taat peraturan, tiba-tiba mewarnai rambut dengan warna merah.
"Apa-apaan itu, El!" tegur Pak Bagas selaku guru BK. Dia langsung menyuruh Elena pergi ke ruang BK. Namun belum sempat dirinya mengurus Elena, Vino muncul dengan tampilan rambut yang sama.
"Lo nggak malu? Ini edan sih," cetus Vino.
"Emang. Semua orang pada lihatin kita. Tapi gue nggak peduli." Elena menjawab sambil menggenggam jari-jemari Vino. Cowok itu tertegun.
"Sumpah! Sejak kapan lo jadi berandal begini?" tukas Vino. Ia melepas genggaman tangan Elena. Vino memilih merangkul pundak cewek itu.
"Sejak pacaran sama lo!" balas Elena.
"Eh, benar juga ya. Tapi lo happy kan?" tanggap Vino.
"Banget!" Elena mengangguk. Dia dan Vino saling tersenyum.
Ketika sudah di ruang BK, Vino dan Elena sangat tenang. Pak Bagas kalah telak ketika Pak Seno datang. Pak Seno segera memberitahu Pak Bagas untuk tidak mempermasalahkan rambut Vino dan Elena.
"Kenapa begitu, Pak? Nanti kalau murid yang lain ngikutin bagaimana? Kalau peraturan nggak berlaku sama Elena dan Vino, bukankah itu nggak adil?" protes Pak Bagas.
"Terus aku harus gimana? Aku diancam akan dipecat kalau tidak melindungi mereka berdua," terang Pak Seno dengan nada pelan.
"Tidak usah cemas, Pak!" Elena berdiri. Dia mendapat ide baru di kepalanya. "Kami tidak masalah dapat poin minus dan hukuman," lanjutnya.
"El!" panggil Vino. Dia tak masalah dengan poin minus. Namun hukuman? Jelas Vino enggan melakukannya.
__ADS_1
"Baguslah kalau kalian sadar!" sahut Pak Bagas. Dia memikirkan hukuman yang tepat untuk Vino dan Elena.
"Bersihkan toilet saja," saran Pak Seno.
"Jangan! Mereka harus mendapat hukuman yang lebih melelahkan!" sergah Pak Bagas. "Aku ingin mereka membersihkan area sekolah di setiap jam istirahat. Mereka harus melakukan itu setiap hari jika warna rambut masih tetap begini!" tegasnya.
"Baik, Pak. Itu nggak masalah." Elena setuju. Keduanya lantas diperbolehkan pergi dari ruang BK.
Sesuai janji, saat istirahat Vino dan Elena membersihkan seluruh area sekolah. Keduanya sedang berjalan ke tempat yang ingin mereka bersihkan lebih dulu. Yaitu perpustakaan.
"Karena lo yang ngusulin, lo yang bersih-bersih sendiri," cetus Vino sembari duduk ke sebuah kursi.
"Bisa ya begitu sama pacarnya!" Elena melempar buku ke arah Vino. Cowok tersebut tertawa.
"Lagian kan emang lo yang ngusulin buat dihukum," ujar Vino yang masih duduk ke kursi.
"Gue melakukan itu biar nggak ada masalah! Soalnya kalau kita nggak dihukum, nanti siswa lain pada protes. Kemungkinan besar mereka akan mengejek kita!" Elena cemberut. Jelas dia marah terhadap keluhan Vino. Cewek tersebut mengambil sapu dan mulai bersih-bersih di bagian rak buku paling belakang.
Vino yang melihat, tersenyum. Dia segera menyusul Elena.
"Sorry, gue nggak bermaksud nyalahin lo. Gue tarik omongan gue," bujuk Vino. Tetapi Elena terlihat masih merengut. Cewek itu bahkan tidak menatap ke arah Vino sama sekali.
"El?" Vino berusaha mendapatkan perhatian Elena.
"Sayang?" panggil Vino. Melakukan percobaan lain. Panggilan itu langsung berhasil membuat Elena tak bisa menahan senyuman.
"Apaan pakai panggil sayang? Gila!" Elena mendorong Vino. Wajahnya bersemu merah.
"Kan gue emang sayang," ucap Vino. Ucapan yang keluar dari mulutnya selalu sukses membuat hati Elena meleleh.
Vino mendadak mengangkat Elena. Hingga kaki Elena melingkar erat di pinggulnya.
"Lo gemesin banget kalau pipinya merah begitu!" ungkap Vino. Dia segera menyatukan mulutnya dengan bibir Elena. Mereka kembali bermesraan.
Hari demi hari terlewat. Elena dan Vino malah memanfaatkan hukuman mereka untuk bercumbu. Semuanya tentu dilakukan tanpa sepengetahuan orang. Terutama guru.
Dari banyaknya orang, tentu ada orang yang tahu kebiasaan Elena dan Vino. Dia tak lain adalah Ranti, Andi dan Iyan. Sebagai teman, mereka juga berusaha ikut merahasiakan apa yang dilakukan Vino dan Elena. Mereka bahkan sesekali membantu bersih-bersih.
Namun tidak untuk Ranti. Di depan dia memang terlihat seperti teman yang baik. Padahal dirinya sedang membuat rencana buruk untuk Elena dan Vino. Ia sudah terlampau kesal pada pasangan sejoli itu.
Ketika istirahat kedua, Ranti diam-diam mengamati Elena dan Vino yang sedang membersihkan laboratorium. Sampai momen yang dia tunggu tiba. Yaitu saat Vino dan Elena mulai bercumbu seperti biasa.
Ranti mengambil ponsel dan merekam semuanya. Dia melakukan itu sambil tersenyum puas.
"Lo ngapain?" tanpa diduga seseorang memergoki apa yang dilakukan Ranti. Dia tidak lain adalah Andi.
__ADS_1