
...༻✫༺...
Elena melangkah menyusuri jalanan. Dia berlinang dengan air mata. Sedangkan Vino hanya berdiri dan melihat dari kejauhan. Cowok itu mengacak-acak rambutnya sendiri. Vino frustasi dan tidak tahu harus bagaimana.
Sebelum menghubungi sang ibu, Elena menoleh ke arah Vino. Dia masih saja berharap cowok tersebut mengejar. Namun pada kenyataannya tidak.
Elena mengambil ponsel dari dalam tas. Dia langsung menghubungi ibunya.
"Halo? Ini siapa?" sambut Rika dari seberang telepon. Mengingat Elena menggunakan ponsel pemberian Vino sekarang.
"Mah... Ini aku Elena..." isak Elena.
"Elena? Kamu kenapa? Bagaimana bisa kau--"
"Mamah bisa jemput aku nggak? Ada yang ingin aku bicarakan sama Mamah," ujar Elena yang memotong ucapan Rika.
"Baiklah. Mamah akan ke sana sekarang!" sahut Rika yang terdengar cemas.
"Aku akan kirimkan lokasiku..." Elena segera menutup panggilan telepon. Lalu memberitahu lokasinya pada Rika. Ia memilih menunggu kedatangan ibunya di depan sebuah mini market. Elena duduk tenang di sana.
Sampai akhirnya Rika datang. Elena langsung berlari ke dalam pelukan sang ibu.
"Elena? Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu bisa sampai di sini?" tanya Rika sembari memeluk lembut putrinya. Dia tidak kuasa bertanya lagi karena Elena sibuk menangis.
"Aku mau pulang, Mah..." lirih Elena.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Nanti pas di rumah kita bicarakan baik-baik," ajak Rika. Dia dan Elena segera masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Vino sejak tadi mengamati dari kejauhan. Ia diam-diam mengikuti Elena. Namun terlalu ragu untuk mencegah kepergian cewek itu. Alhasil Vino tetap membiarkan Elena pergi.
__ADS_1
Vino memang mencintai Elena. Tetapi masih terlalu takut untuk berkomitmen. Menjalin hubungan pacaran saja Vino sempat ragu, apalagi menikah. Dia benar-benar butuh waktu untuk berpikir.
Vino tidak tahu betapa kecewanya Elena sekarang. Cewek tersebut bahkan terpikir ingin menggugurkan kandungannya. Sebab Elena merasa anak itu tidak pantas lahir karena memiliki ayah yang buruk seperti Vino.
Bagi Elena, anaknya hanya akan menanggung derita jika dibiarkan lahir. Itulah alasannya meminta jemputan dari Rika. Elena ingin meminta dukungan kedua orang tuanya terkait masalah sekarang.
Ketika tiba di rumah, Alan langsung menyambut. Mengingat Rika sudah memberitahukan semuanya lewat telepon.
Wajah Alan tampak marah. Berbanding terbalik dengan Rika yang penuh empati.
"Kamu keluyuran kemana, hah?!" timpal Alan saat melihat Elena.
Rika bergegas menghampiri Alan. "Jangan begitu. Anak kita sepertinya mengalami masalah serius. Kau harus tenang," sarannya.
Alan lantas memperhatikan Elena baik-baik. Anak perempuannya itu memang terlihat sangat sendu. Seakan menanggung masalah berat.
Suasana hening dalam sesaat. Alan yang tadinya ingin memarahi Elena karena nekat pergi dari asrama, kini merasa kasihan. Dia merasa kesedihan putrinya kali ini sangat berbeda.
"El, kamu kalau capek. Sebaiknya istirahat dulu. Baru kita bicarakan nanti," imbuh Rika.
"Enggak." Elena menggeleng seraya menghapus air mata yang bercucuran. Dia segera menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Pah... Mah... Aku hamil..." ungkap Elena.
"Apa?" Alan sangat kaget mendengarnya. Begitu pun Rika. Wanita itu sampai tidak bisa berkata-kata.
"Kamu serius, El?" Rika memastikan. Dia memegangi pundak Elena. Menatap putrinya dengan serius.
Elena mengangguk. Dia tidak berhenti memainkan jari-jemarinya.
__ADS_1
"Siapa lelaki yang melakukannya padamu?" tanya Alan.
"Itu tidak penting, Pah. Aku cuman pengen minta bantuan kalian untuk gugurin anak ini. Aku nggak bisa putus sekolah karena ini," ucap Elena.
Alan dan Rika bertukar pandang. Mereka tampak sama-sama memancarkan tatapan nanar.
"El, menggugurkan kandungan itu perbuatan yang sangat buruk. Itu juga bisa membahayakanmu," ujar Rika.
"Apa lelaki yang melakukan ini denganmu tidak mau bertanggung jawab?" tukas Alan.
"Bukannya nggak mau tanggung jawab, tapi dia nggak percaya sama pernikahan," sahut Elena.
Alan berdecak kesal. "Ck! Alasan aja itu. Kasih tahu Papah siapa dia?! Sebagai lelaki, tanggung jawabnya harus lebih besar dari kau. Cepat katakan siapa dia biar kita temui keluarganya!" desaknya.
"Katakan saja, El..." bujuk Rika.
Elena menggeleng. "Enggak! Aku mau gugurin kandungan ini saja. Lagi pula aku nggak mau menikah sama cowok kayak dia, Mah..." ungkapnya.
"Kalau begitu, kenapa kau nekat melakukannya sama lelaki itu?!" timpal Alan dengan lantang.
"Itulah penyesalan terdalamku sekarang, Pah... Aku kira dia lelaki yang bisa diandalkan. Tapi ternyata tidak..." isak Elena. Dia segera memeluk sang ibu yang kebetulan duduk di samping.
"Jadi gimana, Pah? Kita harus bagaimana? Aku nggak mau Elena gugurin kandungannya," kata Rika yang ikut menangis. Dia bisa merasakan penderitaan putrinya.
Alan mengusap kasar wajahnya. Dia menatap Elena kembali. "Suruh Elena istirahat ke kamar. Kita akan pikirkan lagi dan temukan solusi terbaik," ucapnya yang sepertinya sependapat dengan sang istri.
Rika mengangguk. Dia membawa Elena pergi ke kamar.
Karena keadaan yang tidak memungkinkan, Alan terpaksa membuat Elena berhenti sekolah. Hal tersebut menyebabkan munculnya rumor tentang kehamilan Elena. Mengingat cewek tersebut sempat mengalami mual-mual tidak jelas sebelum berhenti sekolah.
__ADS_1