
...༻✫༺...
Meski memutuskan untuk meninggalkan Vino, namun hati kecil Elena terus berharap cowok itu datang. Mengakui segalanya dan bicara langsung dengan kedua orang tuanya.
Apa yang dilakukan Elena sekarang sebenarnya sesuatu hal gila. Ia nekat melakukannya karena ingin melihat kesungguhan Vino. Kini dia duduk di lantai sambil melipat lutut. Elena tak berhenti memandangi kontak nomor telepon Vino di ponselnya.
Sudah lama Elena menunggu telepon Vino. Sampai akhirnya penantian dia tiba. Ponselnya berdering. Nama Vino tertera jelas di layar.
Elena sengaja membiarkan ponselnya berdering cukup lama. Karena dia tidak ingin terkesan seperti orang yang sudah menunggu panggilan Vino.
Merasa waktunya tepat, Elena mengangkat panggilan Vino.
"Kenapa?!" timpal Elena.
"Lo dimana?" tanya Vino dari seberang telepon. Ia terdengar begitu sendu.
"Apa peduli lo?" balas Elena ketus.
"Ayo kita bicarakan semuanya baik-baik, El... Ini semua demi masa depan kita berdua," tutur Vino.
Mata Elena berkaca-kaca. Dia sangat mengerti pembahasan Vino menjurus kemana. Entah kenapa Elena merasa cowok tersebut seolah ingin menggugurkan kandungannya.
"Lo nggak usah cemasin gue sekarang. Biar gue yang tanggung jawab semuanya sendiri. Lo jalanin aja hidup lo yang berharga itu," tukas Elena yang akhirnya menangis juga.
Vino terdiam seribu bahasa. Jelas perkataan Elena begitu menohok untuknya.
Elena terpikirkan sesuatu hal untuk membuat Vino semakin tidak karuan. Jujur saja, jika harus menikah sekarang, dia hanya ingin menikahi Vino. Meski cowok tersebut bajingan, tetapi kenyataannya begitulah keinginan hati kecil Elena.
Bersamaan dengan itu, Rika datang. Langkahnya terhenti di depan pintu saat mendengar Elena bicara. Kebetulan juga pintu tidak tertutup rapat. Jadi Rika bisa mendengar dengan jelas pembicaraan Elena.
"Mungkin gue akan pergi ke luar negeri, Vin. Gue akan pertahanin anak kita. Terus menikah sama cowok yang cintanya tulus sama gue," ungkap Elena. Dia langsung mematikan telepon lebih dulu.
__ADS_1
Rika yang mendengar mengerutkan dahi. Dia fokus dengan nama lelaki yang disebut Elena.
'Vin? Apakah lelaki itu Vino?' batin Rika menduga. Ia langsung masuk ke kamar Elena.
"Apa laki-laki itu Vino?" timpal Rika.
"Mamah!" Elena kaget. Dia segera berdiri sembari menghapus air mata.
"Cepat kasih tahu Mamah apakah lelaki yang sudah menghamilimu itu Vino?!" Rika mengguncang tubuh Elena. Tak sabar menunggu jawaban dari sang putri.
Elena tertangkap basah sekarang. Dia tak punya pilihan lain selain mengakui.
Setelah mendengar pengakuan Elena, Rika buru-buru pergi. Wajahnya tampak murka. Dia juga segera menghubungi Alan. Sepertinya Rika berniat ingin mendatangi rumah Vino.
"Mamah!" Elena mengejar. Mencoba menghentikan kepergian Rika.
"Mamah akan temui kedua orang tuanya!" Rika menolak untuk dihentikan.
"Kamu kenapa berusaha menghentikan Mamah?! Apa kau tidak mau Vino bertanggung jawab?!"
"Aku punya caraku sendiri, Mah... Aku cuman nggak mau ada perselisihan yang terjadi."
"Tidak! Mamah sama Papah akan tetap pergi. Kau sebaiknya juga ikut!" tegas Rika. Dia membawa Elena untuk ikut juga bersamanya.
...***...
Vino sudah pergi meninggalkan villa. Dia menunggu kedatangan Andi. Sebab dirinya menyuruh temannya itu membawakan obat-obatan terlarang.
Untuk sementara Vino melarikan diri dari masalah dengan cara mabuk. Masalah yang menimpanya sama sekali tidak membuat dia berpikir lebih dewasa.
Sesungguhnya Vino terus memikirkan segala hal yang berbau pernikahan. Dia juga sudah mencoba membaca artikel bersangkutan dengan hal tersebut.
__ADS_1
Pikiran Vino semakin terganggu saat bicara dengan Elena di telepon tadi. Dia menenggak alkohol dari botolnya. Berharap minuman tersebut mampu menenangkan.
Kini Vino duduk di sofa. Keadaan di sekitarnya tampak berhamburan dengan botol bir milik sang ayah.
Tak lama kemudian Arya datang. Dia kaget menyaksikan kekacauan yang dibuat Vino di ruang tengah.
"Apa-apaan ini?! Bukankah semua ini minumanku?!" timpal Arya dengan mata menyalang.
"Hai, Pah..." sapa Vino yang setengah mabuk.
"Dasar anak kurang ajar!" geram Arya. Dia memukulkan tas kerjanya ke tubuh Vino berulang kali sebagai hukuman.
Vino malah tergelak. Ia sama sekali tidak merasakan sakit. Pikirannya masih saja dihantui oleh kalimat Elena tadi.
"Gue akan pertahanin anak kita. Lalu menikah sama cowok yang mencintai gue dengan tulus." Begitulah kalimat yang sejak tadi terngiang di kepala Vino.
"Pah... Pacarku hamil tapi dia mau nikah sama cowok lain... Aku harus gimana?" ujar Vino. Membuat Arya langsung berhenti memukuli.
"Maksudmu?" Arya menuntut jawaban.
"Pacarku hamil. Terus dia malah akan menikah sama cowok lain," ulang Vino.
"Kau menghamili seorang perempuan?!" Arya membulatkan mata.
"Ya... Padahal aku selalu pakai pengaman seperti saran Papah. Tapi nyatanya itu semua nggak selalu bisa mencegah kehamilan," sahut Vino.
Arya melepas tas dari genggamannya. Dia terkejut dengan pengakuan Vino.
"Siapa perempuan itu?" tanya Arya. Dia duduk untuk menenangkan diri.
"Dia adalah..." Vino tidak melanjutkan perkataannya tatkala pintu depan mendadak terbuka. Rika, Alan, dan Elena datang.
__ADS_1
Melihat hal itu, Arya dan Vino berdiri. Mereka bisa melihat wajah marah yang ditunjukkan Rika dan Alan. Hanya Elena yang menjadi satu-satunya orang dengan ekspresi wajah khawatir.