
...༻✫༺...
Ranti kaget dengan teguran Andi. Dia berhenti merekam dan berbalik badan. Saat itulah Andi mendekat. Memastikan apa yang sedang dilakukan Ranti. Namun yang Andi lihat hanya pemandangan jelas Vino dan Elena yang asyik berciuman panas.
"Lo ngapain--"
Ranti sigap membekap mulut Andi. "Gue akan jelasin," ucapnya dengan nada berbisik. Lalu membawa Andi menjauh dari lokasi Elena dan Vino berada.
Andi yang penasaran, menarik tangannya dari genggaman Ranti. Dia merasa lokasinya sekarang sudah cukup aman untuk bicara.
"Kenapa lo ngerekam video Vino dan Elena diam-diam?!" timpal Andi. Dia benar-benar menangkap basah tindakan Ranti.
Wajah Ranti memasam. Dia mengacak-acak rambutnya karena kesal pada diri sendiri. Ranti sekarang tak punya pilihan lain selain jujur.
"Oke, gue akan jujur," ucap Ranti. Dia menghela nafas sejenak. "Gue suka sama Vino! Gue cemburu lihat dia dekat sama Elena!" ungkapnya.
"Apa?" Andi terperangah. "Berarti selama ini lo manfaatin gue doang biar bisa dekat sama Vino?!" timpalnya penuh amarah.
"Tapi sekarang rasa suka gue udah berubah jadi benci, Di! Gue benci Vino dan Elena. Itulah alasan gue ngerekam video mereka!" jelas Ranti.
"Sinting lo!" Andi sudah tidak tahan. Dia sangat marah terhadap fakta yang ditemukannya.
Andi mencoba pergi. Namun Ranti dengan cepat menghentikan. Memaksa Andi untuk menatapnya.
"Ayo kita balikan!" ajak Ranti. Membuat Andi tertegun sesaat.
"Maafin gue, Di. Gue emang keterlaluan. Tapi jika kita balikan lagi, gue pasti akan jatuh cinta sama lo," ucap Ranti yang tampak bersungguh-sungguh. Semuanya terlihat dari binar matanya.
"Gue nggak nyangka lo bisa sejahat ini! Lo pikir gue bodoh? Gue tahu lo terpaksa ngajak gue balikan biar lo bisa rahasiakan tentang video yang direkam tadi kan?!" balas Andi.
__ADS_1
"Gue--" Andi ingin lanjut bicara. Akan tetapi mulutnya dibekap Ranti dengan ciuman. Cowok itu seketika terdiam. Ia malah membalas ciuman Ranti. Mengingat cewek tersebut adalah orang yang disukainya.
Ranti melepas tautan bibirnya sejenak. "Gue akan buang perasaan gue terhadap Vino buat lo, Di. Gue janji. Ayo kita ke hotel malam ini. Kita lakukan rencana yang belum sempat kita lakukan sebelumnya," ujarnya.
Andi terpana. Tawaran Ranti membuat hatinya goyah. Apalagi cewek tersebut juga menawarkan keperawanan.
"Sekarang lo juga bisa cium gue sepuas mungkin," sambung Ranti. Dia menatap lekat Andi. Namun cowok itu hanya diam.
Andi justru memegangi tengkuk Ranti. Hendak melanjutkan ciuman yang dirasa belum selesai.
Ranti menahan bibir Andi yang nyaris menyentuh mulutnya. "Lo nggak boleh sentuh gue sebelum kasih kepastian," tukasnya.
Andi mengangguk. "Oke, kita balikan! Dasar licik!" cibirnya. Meski mencibir, dia tetap mencium bibir Ranti. Melanjutkan sesi ciuman menjadi lebih lama.
Kali ini Ranti tak menolak sentuhan Andi. Dia malah mencoba menikmati semua itu.
Ketika masih asyik berciuman, suara langkah kaki yang mendekat terdengar. Andi dan Ranti sontak berhenti bermesraan. Mereka buru-buru masuk ke ruangan terdekat untuk bersembunyi.
"Pak Yono," sahut Andi sembari menatap Ranti. Merasa ketagihan, dia kembali mencium Ranti. Suara kecup mengecup memenuhi ruang kelas terbengkalai itu.
Tangan nakal Andi mulai bergerak. Menyentuh titik tubuh sensitif Ranti. Mulutnya bahkan sudah sibuk mencumbu leher cewek tersebut.
Ranti terbawa suasana. Sama seperti Andi, dia juga terbuai akan aktifitas intim yang terjadi.
"Gue yakin sekarang... Akan jatuh cinta sama lo..." kata Ranti yang mulai kesulitan mengatur nafas.
...***...
Waktu menunjukkan jam sembilan malam. Kini Andi dan Ranti sedang ada di kamar hotel. Mereka berhubungan intim untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Suara lenguhan saling sahut-menyahut. Suara tersebut tak terdengar lagi ketika Andi dan Ranti sudah merasa saling terpuaskan. Keduanya telentang di ranjang. Mengatur nafas dan sensasi panas yang masih tersisa.
"Mengenai video Vino dan Elena. Lo berniat akan sebarin video itu?" celetuk Andi. Perlahan melirik Ranti.
"Iya. Lo merasa mereka egois nggak sih? Apalagi Vino. Biar lo teman dekat dia, gue tahu lo sering diperlakukan buruk sama Vino. Iyakan?" Ranti balas menatap Andi.
"Itu memang benar. Mentang-mentang dia ahli bela diri." Andi mengingat beberapa perlakuan buruk Vino terhadapnya.
Ranti terkekeh. Dia memeluk Andi dari samping. "Jadi lo nggak masalah kalau video itu gue sebar?" tanyanya.
"Gue nggak masalah sebenarnya. Tapi yang gue takutkan itu kemurkaan Vino," jawab Andi.
"Itu kan kalau dia tahu siapa penyebar videonya. Tapi kalau nggak tahu, Vino nggak bisa berbuat apa-apa." Ranti meyakinkan Andi.
"Benar juga ya." Andi mengangguk. "Terus apa rencana lo?" tanyanya.
"Gue udah siapin nomor baru biar nggak ketahuan." Ranti beranjak dari ranjang. Dia mengenakan pakaian. Lalu berjalan menuju tasnya berada.
Ranti melangkah sambil meringiskan wajah. Ia menahan sakit di organ intimnya. Karena tadi sudah melepas keperawanannya untuk kali pertama.
Ranti mengambil kartu seluler perdana yang sudah dia siapkan. Lalu memasukkannya ke ponsel.
"Apa lo akan kirim ke grup chat terlebih dahulu?" terka Andi.
"Ding! Salah besar kalau disebar ke grup. Kita harus kirim ke nomor beberapa murid secara pribadi. Setelah itu, baru deh videonya tersebar secara natural." Ranti mulai bertindak dengan jari-jemarinya. Mengirim video ciuman Elena dan Vino ke banyak nomor.
Dalam hitungan detik video tersebut tersebar. Bahkan ke grup chat para guru sekali pun. Semua orang gempar. Terlebih dalam video itu Vino dan Elena sedang melakukan ciuman panas. Tangan Vino juga tampak mencengkeram buah dada Elena. Satu hal yang pasti. Orang yang paling dirugikan atas video tersebut adalah Elena.
Sementara itu, Elena baru tahu mengenai videonya dan Vino saat bangun tidur. Ponsel pembelian Vino seketika terlepas. Elena gemetar ketakutan. Ia merasa sangat syok.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Rika dan Alan datang dengan raut wajah murka.
"Kenapa kau melakukan itu?!!! Sekarang semua orang menganggapmu murahan! Murahan!!!" Alan meneriaki Elena. Dia mengguncang badan Elena dengan histeris. Sedangkan putrinya tersebut hanya bisa menangis.