Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 79 - Menikah Muda


__ADS_3

...༻✫༺...


Ranti sangat frustasi dengan keadaannya. Sudah merasa bersalah atas kematian Tias, kini dia juga terbukti mengkonsumsi narkoba.


Setiap kali tertidur, Ranti juga selalu bermimpi buruk tentang Tias. Dia benar-benar sudah tak tahan. Sekarang Ranti sedang bicara dengan seorang psikiater bernama Nina. Ini sudah ketiga kalinya mereka bicara. Namun keadaan Ranti tak kunjung membaik.


"Ran, aku yakin ada sesuatu hal yang kau sembunyikan. Sesuatu itulah yang membuatmu begini. Beritahu aku apa itu?" bujuk Nina dengan bertutur kata lembut.


Ranti terdiam. Dia menangis dengan tangan yang gemetar.


"Jangan sampai kau menanggung derita ini sendiri," ucap Nina.


"A-aku yang melakukannya..." gagap Ranti.


"Melakukan apa?" tanya Nina.


Tangisan Ranti semakin menjadi-jadi. "Aku yang merekam video Tias bugil dan menyebarkannya. Akulah juga yang menjadi alasan kenapa dia mati..." ungkapnya yang pada akhirnya mengaku.


"Hukum saja aku... Kalau perlu bunuh saja aku... Aku sudah tidak sanggup lagi... Hiks..." lanjut Ranti.


Nina merasa iba. Sebagai psikiater, dia paham bagaimana penderitaan Ranti. Nina langsung menghampiri dan memberi pelukan.


"Kita atasi masalah ini bersama-sama. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri... Semuanya sudah terlanjur terjadi..." ucap Nina. Mencoba menenangkan Ranti sebisa mungkin.


"Beritahu pada keluarga Tias kalau aku minta maaf..." lirih Ranti.


"Kau yakin?" Nina memastikan.


Ranti mengangguk. Jujur saja, dia merasa sedikit lebih lega dibanding sebelumnya.


Di sisi lain, Andi sudah membaik. Dia dalam perjalanan menuju tempat rehabilitasi. Untuk bergabung bersama teman-teman yang lain.

__ADS_1


Andi menatap kosong ke arah jendela. Sekarang yang ada hanya penyesalan.


Sesampainya di tempat tujuan, Andi langsung di antarkan ke kamarnya. Saat dalam perjalanan, dia melihat ada keributan. Andi sontak berhenti melangkah dan melihat. Ia menyaksikan kedua orang tua Tias yang tampak marah besar pada Ranti.


Para petugas di tempat rehabilitasi bergerombol di sana. Berupaya menghentikan keributan. Terlebih ayahnya mendiang Tias terus mencoba menyerang Ranti.


Sementara Ranti tampak berlutut dan menangis. Dia meminta maaf atas kesalahannya.


Andi berlari menghampiri Ranti. Dia berlutut ke sebelah cewek itu. Semua orang seketika diam. Bingung dengan apa yang dilakukan Andi. Terutama kedua orang tua Tias.


"Ranti nggak sendiri saat itu. Aku juga bersamanya," ungkap Andi mengakui.


"Dasar keparat!! Anak macam apa kalian ini?!" ayahnya Tias menendang bahu Andi. Hingga cowok itu terjatuh ke lantai.


Karena keributan semakin tak terkendali, Ranti dan Andi dibawa pergi dari hadapan kedua orang tua Tias.


"Lo udah nggak apa-apa, Di? Lo nggak harus mengaku kalau lo juga terlibat. Karena semua yang terjadi sama Tias, itu memang salah gue," kata Ranti.


"Tapi gue juga bersalah kan karena bantuin lo? Kita harus menanggung semua ini sama-sama," sahut Andi.


Andi segera memberi pelukan. "Semua udah terjadi, Ran. Kita cuman bisa menanggung resikonya. Vino dan Elena juga begitu," ujarnya.


"Maksud lo? Emangnya mereka kenapa?" tanya Ranti yang perlahan melepas pelukan Andi.


"Elena hamil, Ran. Dan Vino akan tanggung jawab. Jadi kemungkinan mereka akan menikah dalam waktu dekat," jelas Andi.


Ranti termangu. Dia sadar ternyata tidak hanya dirinya yang menerima masalah besar sekarang. Dan Ranti merasa miris kepada dirinya sendiri dan juga teman-temannya.


"Ayo kita jalan lagi," ajak Andi sembari melangkah bersama Ranti.


Pengakuan Ranti dan Andi segera diketahui oleh semua orang. Termasuk di sekolah. Reputasi mereka seketika tercoreng. Mereka mendapat kebencian dari orang banyak.

__ADS_1


Ranti yang mengira akan tenang setelah mengaku, justru merasa semakin tertekan. Dia juga mendapat semakin banyak pengunjung yang datang. Sayangnya sebagian besar pengunjung datang hanya untuk menebar kebencian padanya. Hingga sekarang, pengunjung yang mendatangi Ranti harus dibatasi.


...***...


Setelah beberapa bulan menjalani rehabilitasi, Vino akhirnya diperbolehkan keluar. Dengan janji tidak akan pernah lagi terlibat pada obat-obatan terlarang.


Vino tidak keluar sendiri. Tetapi juga bersamaan dengan Iyan. Hari bebasnya mereka disambut oleh keluarga masing-masing.


Elena juga hadir untuk melihat Vino. Saat itulah keluarga mereka mulai membahas apa yang akan dilakukan selanjutnya. Yaitu menikah dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


Pernikahan Vino dan Elena dilakukan sangat tertutup. Meskipun begitu, pernikahan mereka terdaftar dalam negara. Mengingat segala urusan sudah di urus jauh-jauh hari sebelum Vino keluar dari pusat rehabilitasi.


Selepas melakukan proses pernikahan, Vino dan Elena tidur di kamar VIP sebuah hotel mewah. Mereka akan bersiap dengan kehidupan baru besok. Keduanya memilih negera Australia sebagai saksi kehidupan baru.


Vino berdiri terpaku menatap keluar jendela. Dia merasa tak percaya bisa menikah di usia muda begini.


Elena yang baru saja berganti pakaian, keluar dari kamar mandi. Vino lantas menoleh.


"Mulai sekarang kita akan hidup serumah kan?" tukas Vino yang tiba-tiba bersemangat. Dia akan membuang segala pemikiran negatifnya. Lalu mengambil hal positif atas pernikahan yang terjadi.


"Apaan sih? Bukannya udah jelas?" tanggap Elena.


Vino memeluk Elena. Mengangkatnya, lalu merebahkannya ke ranjang.


"Vino!" Elena berteriak sambil terkekeh. Setelah sekian lama, dia akhirnya bisa tertawa lagi. Begitu pun Vino.


"Penderitaan kita sudah berlalu. Kita nikmati yang enak-enak saja mulai sekarang," ujar Vino sembari menindih badan Elena.


"Oke, aku setuju," sahut Elena.


"Aku? Lo ngomong pakai aku kan barusan?" Kelopak mata Vino melebar.

__ADS_1


"Iyalah, kita kan sekarang suami istri. Harus terbiasa ngomong sopan. Apalagi bentar lagi kita akan punya anak." Elena memegangi perutnya sambil tersenyum. Dia terus bertukar tatapan lekat dengan Vino.


Vino tersenyum. Ia segera mencium bibir Elena dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2