
...༻✫༺...
"Emang kita nggak boleh bawa handphone ya?" Elena berpura-pura tidak tahu.
"Iya. Lo mending serahin ponsel lo ke Bu Rina. Dari pada nanti ketahuan. Setiap seminggu sekali pasti ada razia penggeledahan kamar," ujar Fida.
"Oh..." Elena mengangguk. Dia segera berdiri. "Ya udah. Gue mau cari Bu Rina dulu kalau gitu," imbuhnya. Lalu beranjak dari kamar.
Saat keluar dari kamar, Elena mendengus lega. Dia menyembunyikan ponsel ke dalam saku celana. Dirinya tentu tidak akan menyerahkan ponsel tersebut pada Bu Rina.
Setelah merasa waktunya cukup, Elena kembali ke kamar. Dia masuk ke kamar mandi. Kebetulan di setiap kamar terdapat kamar mandi. Mengingat sekolah yang ditempati Elena bukan sekolah kaleng-kaleng. Namun sekolah elite bertaraf internasional.
Di kamar mandi, Elena membaca pesan balasan Vino. Cowok itu memberitahu akan menemui Elena nanti malam.
"Emang gila!" komentar Elena. Dia menyalakan keran dan segera menelepon Vino.
"Gimana sekolah barunya?" sambut Vino dari seberang telepon.
"Belum. Gue baru aja pindah ke asramanya. Ternyata pengawasannya cukup ketat. Lo kayaknya bakal kesusahan kalau mau ke sini," sahut Elena.
"Nggak ada kata susah bagi gue, kalau belum dicoba!"
"Eh, jangan nekat ya! Teman sekamar gue orangnya taat aturan banget."
"Pokoknya lo kasih tahu aja posisi kamar lo dimana. Nanti gue pasti datang."
"Vin! Jangan gila deh. Gue nggak mau dapat masalah lagi!"
"Percaya aja sama gue."
Elena terdiam sejenak. Dia tiba-tiba teringat dengan Alam dan Tias yang kebetulan terlibat sebagai tersangka penyebar video. "Oh iya, gimana Tias sama Alam?"
"Ah! Kacau, El. Mereka nggak mau ngaku. Tapi gue pastikan ganggu mereka tiap hari."
"Maksudnya buli mereka setiap hari sampai mereka ngaku?" tebak Elena.
"Iyalah."
"Kalau memang bukan mereka yang nyebar video kita gimana?"
"Gue yakin mereka! Semua bukti terlihat jelas di rekaman CCTV." Vino terdengar begitu yakin.
"Terserah lo deh. Tapi jangan sampai keterlaluan ya." Elena tak bisa melakukan apa-apa dengan keras kepalanya Vino.
__ADS_1
"Ya udah. Sampai ketemu nanti malam. Jangan lupa kasih tahu posisi lo." Pembicaraan Vino dan Elena berakhir. Selepas itu, Elena mengirim pesan pada Vino.
'Gue kirim posisi gue nanti aja. Mungkin besok. Gue capek soalnya. Besok harus bangun pagi-pagi.' Begitulah bunyi pesan yang dikirim Elena. Vino yang membacanya langsung menghela nafas panjang. Padahal dia sangat ingin bertemu Elena. Sebab selama seharian ini dirinya pusing dengan apa yang terjadi.
"Lo baik-baik aja, Vin? Gimana kabar Elena?" tanya Iyan yang sejak tadi telentang di sebelah Vino. Keduanya ada di ranjang. Tepatnya di kamar Vino.
"Dia terdengar baik," jawab Vino singkat.
"Syukur deh." Iyan mendengus kasar sejenak. Lalu meneruskan, "Gue kangen sama dia."
Vino langsung mendelik. Ini sudah sekian kalinya Iyan menunjukkan perhatiannya pada Elena.
Sadar dengan tatapan Vino, Iyan memecahkan tawa. Ia memukul dada Vino.
"Dengar ya, Vin. Gue cuman kangen sebagai sahabat." Iyan mendekatkan wajahnya ke hadapan Vino.
"Bacot! Awas aja lo kalau ketahuan gue ganggu Elena!" tukas Vino. Namun Iyan lagi-lagi tergelak. Dia segera menatap ke langit plafon. "Kita mabuk yuk!" ajaknya tiba-tiba.
Vino terdiam. Dia sebenarnya tertarik dengan tawaran Iyan. Mengingat dirinya tidak bisa menemui Elena malam itu.
"Oke. Gue akan pesan barangnya dulu," ujar Vino seraya mengambil ponsel. Dia menghubungi seseorang yang menjadi langganannya untuk memesan jenis obat-obatan terlarang.
"Siap!" Iyan girang dengan persetujuan Vino.
Selepas menunggu selama setengah jam, barang pesanan Vino datang. Cowok itu langsung menikmati obat-obatan terlarang jenis heroin bersama Iyan. Dalam sekejap Vino tenggelam dalam rasa mabuk.
Ketika Vino sudah sangat mabuk, Iyan mengambil dompet Vino. Dia mengambil salah satu kartu debit di sana.
"Gue mau keluar bentar, Vin." Iyan memegangi wajah tampan Vino. Ia berucap begitu sebelum benar-benar pergi. Iyan butuh uang. Dia terpaksa mengambil uang Vino secara diam-diam.
Kenapa Iyan melakukannya tanpa izin? Itu karena dia ingin mendapatkan uang yang banyak. Mengingat Vino hanya akan memberikan uang secukupnya saja jika dia meminta. Setidaknya cukup untuk uang jajan Iyan seharian. Akan tetapi bagi Iyan itu belum cukup.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Iyan mencuri uang Vino. Dia sudah melakukannya tiga kali lebih. Iyan bahkan mengetahui semua kata sandi kartu milik Vino. Semua kartu menggunakan tanggal lahirnya. Jika berbeda, Iyan hanya perlu membolak-balik angka tersebut.
Sementara Vino, sejak tadi hanya terpejam. Dia sesekali tertawa karena sedang dalam pengaruh heroin. Cowok tajir yang punya uang itu tidak sadar kalau uangnya semakin berkurang.
...***...
Hari pertama Elena di sekolah baru dimulai. Dia mulai aktif belajar kembali. Elena mengenakan seragam yang sangat berbeda.
Karena sekolahnya bertaraf internasional, seragam yang Elena pakai tidak biasa. Mengenakan blazer hitam yang membalut kemeja putih dan rok berwarna abu-abu gelap. Bukan abu-abu kebiruan seragam sekolah SMA pada umumnya.
"Keren!" komentar Elena sembari memasang dasi yang berwarna senada dengan roknya. Dia jadi tidak sabar ingin melihat cara belajar di sekolah barunya.
__ADS_1
"Seragam kita emang keren," sahut Fida.
Hari demi hari berlalu. Elena bertemu banyak teman baru. Ada dua orang yang sangat cepat menjadi teman akrabnya. Yaitu Riani dan Eka.
Elena sama sekali tidak cocok dengan Fida. Anak itu terlalu kaku dan agak pendiam. Jadi hubungan pertemanan Elena dengannya terbilang biasa saja.
Karena terlalu senang dengan sekolah barunya, Elena melupakan Vino. Ponselnya bahkan masih tersimpan di balik baju-bajunya di lemari, dan dalam keadaan nonaktif.
Elena di kantin sekarang. Dia berkumpul bersama teman-temannya. Elena beberapa hari ini merasa senang. Ia merasa semangatnya dalam menikmati belajar telah kembali.
"El, lo punya pacar?" tanya Riani. Saat itulah Elena langsung teringat dengan Vino.
Elena sebenarnya tidak melupakan Vino. Dia hanya malas menghubungi cowok itu. Bukannya tidak kangen, Elena takut Vino berbuat masalah lagi seperti sebelum-sebelumnya.
"Punya," jawab Elena.
Pupil mata Riani dan Eka membesar bersamaan. Tertarik untuk bicara lebih lanjut.
"Enaknya... Gue pengen juga dong," ungkap Eka dengan mulut memanyun.
"Sama..." sahut Riani.
"Emang kalian nggak punya pacar?" tanya Elena.
"Gimana mau punya pacar. Mau keluar aja susah. Gue sama Riani ini pengen banget merasakan yang namanya pacaran. Persis seperti remaja-remaja di luar sana," jelas Eka.
"Iya. Gue juga." Riani menanggapi. Dia memegang wajahnya. "Gue hanya bisa bayangin pacar khayalan. Ganteng, perhatian, dan badboy! Wah! Itu tipe idaman gue banget," sambungnya berkhayal.
"Ish! Sadar sama muka lo!" Eka mendorong kepala Riani. Dia segera menatap Elena kembali. "Kalau pacar lo gimana, El?" tanyanya.
"Ciri-cirinya persis sepeti tipe kesukaannya Riani," sahut Elena. Mendadak dia merasa bangga memiliki pacar seperti Vino.
"Yang benar?" mata Riani membulat. "Irinya..." lanjutnya.
Elena terkekeh. "Kalian mau lihat fotonya? Gue ada simpan di ponsel," bisiknya. Tak sadar keceplosan membicarakan ponselnya. Elena sontak menutup mulut dengan satu tangan.
"Tenang aja, El... Hampir semua orang di asrama punya ponsel simpanan. Kecuali krucil yang satu kamar sama lo. Dia emang nyebelin," ujar Eka.
"Iya. Lo jangan sampai ketahuan dia kalau sedang melanggar aturan. Fida pasti langsung lapor ke guru," ucap Riani membetulkan.
Karena membicarakan Vino, Elena jadi merindukan cowok itu. Ia berniat menghubungi Vino.
Saat malam tiba, Elena berusaha keras mencari waktu yang tepat untuk mengambil ponsel. Sebab posisi Fida yang duduk menghadap ke arahnya. Cewek itu tampak sibuk belajar.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Elena, Vino sudah menyelinap masuk ke lingkungan asrama. Dia nekat melakukannya tanpa mengetahui posisi Elena secara spesifik. Vino juga tidak sendiri. Ia ditemani oleh Iyan.
"Awas aja lo, El!" gumam Vino sambil melompati pagar. Lalu mengenakan tudung jaket hodienya. Dia kesal Elena tidak kunjung memberinya kabar.