
...༻✫༺...
Ranti baru saja tiba di rumah Andi. Dia mengantarkan cowok itu pulang. Keduanya sekarang berada di dalam mobil.
"Lo masih suka sama Vino kan?" tanya Andi.
"Astaga, Di. Gue tadi cuman dalam pengaruh obat," bantah Ranti.
"Lo pikir gue percaya setelah lihat lo tadi ciuman sama Vino?!" balas Andi.
"Itu kan cuman ciuman, Di!"
"Cuman ciuman lo bilang?! Bibir lo sama Vino nempel kayak lem gitu kok! Kecewa gue sama lo!" Andi membuang muka. Dia duduk di sebelah Ranti yang menggantikannya untuk menyetir. Mengingat Andi masih dalam keadaan setengah mabuk.
"Terus apa?! Lo mau kita putus?!" Ranti tersungut.
"Lo mending pergi sekarang!" ujar Andi.
"Oke! Jangan harap lo bisa tidur sama gue lagi!" Ranti bergegas keluar dari mobil Andi. Dia terpaksa pulang dengan menggunakan ojek online.
Hubungan pertemanan Vino dan teman-temannya benar-benar kacau sekarang. Semuanya berantakan seperti kaca yang pecah. Terasa sulit untuk diperbaiki lagi.
Sebenarnya orang paling menderita sekarang adalah Tias. Dia merasa syok saat mengetahui videonya sudah disebar oleh Ranti.
Yang bisa dilakukan Tias sekarang adalah mengurung diri di kamar. Dia bahkan tidak membuka pintu saat kedua orang tuanya mencoba bicara. Tias merasa bersalah karena sudah mempermalukan keluarganya sendiri.
"Tias? Buka pintunya... Ayo kita bicarakan baik-baik," bujuk ibunya Tias dari depan pintu.
"Tias! Keluar kamu! Kenapa kau tega melakukan ini, hah?! Semua tetangga di sini sekarang membicarakanmu!" berbeda dengan sang ibu, ayahnya Tias terkesan murka.
Membuat Tias semakin kukuh untuk tidak menanggapi. Jujur saja, dia tidak hanya merasa malu sekarang. Tetapi juga takut.
Dua hari berlalu. Tias tidak pergi ke sekolah. Hal serupa juga dilakukan Vino dan Andi. Orang yang pergi ke sekolah adalah Ranti dan Iyan. Mereka melihat bagaimana gemparnya orang-orang membicarakan video Tias.
Ranti memang awalnya puas dengan video tentang Tias yang disebarnya. Namun dia menjadi khawatir saat mendengar pembicaraan beberapa orang.
"Kalian merasa ada yang aneh nggak sama video Tias? Kalau dia sukarela, dia pasti nggak nangis begini. Gue yakin dia dipaksa lepas baju sama seseorang!"
__ADS_1
"Iya, gue juga berpikir begitu. Kalau beneran ada orang yang paksa dia melakukan itu, sumpah pelakunya pasti setan!"
"Iya! Jangan sampai dia lepas setelah minta maaf doang."
Begitulah pembicaraan dua siswi yang seketika membuat Ranti cemas. Dia buru-buru pergi ke toilet dan mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar.
Seberapa keras Ranti berpikir, dia tetap tidak menemukan jalan keluar. Dirinya kini dibuat sangat gelisah.
"Andi! Ya, dia orang yang melakukannya sama gue," cetus Ranti. Teringat dengan Andi yang menemaninya saat merekam video Tias. Pulang sekolah nanti, Ranti akan langsung menemui Andi.
...***...
Setelah dua hari terlewat, Elena masih belum berhenti merasakan mual. Ia sekarang semakin curiga kalau apa yang di alaminya adalah gejala hamil.
Meskipun begitu, Elena merahasiakan kecurigaannya itu dari siapapun. Dia hanya terpikir untuk memberitahu Vino. Elena ingin Vino yang menemaninya ke dokter.
Elena mengambil ponselnya dari lemari. Lalu mencoba menghubungi Vino. Akan tetapi cowok itu tidak kunjung mengangkat panggilan telepon.
"Gue sebaiknya buktikan dulu keadaan gue," gumam Elena. Dia membeli alat testpack secara online. Agar tidak ketahuan, Elena sengaja membeli barang lain agar dikirim bersamaan dengan alat yang dirinya inginkan.
Ketika pesanan sudah datang, Elena langsung memakai testpack. Dia sengaja membeli tiga agar tidak ragu.
Elena duduk mematung di atas closet. Air matanya langsung berlinang. Ia menyesali atas apa yang sudah dilakukannya.
"Mamah... Papah... Harusnya aku menurut sama kalian..." isak Elena penuh sesal.
Karena sudah terbukti hamil, Elena segera mengirim foto bukti atas kehamilannya pada Vino. Dia hanya perlu menunggu balasan pesan cowok tersebut.
Sementara itu, Vino sendiri dalam keadaan mabuk. Selama dua hari ini dia hanya bermalas-malasan di ranjang. Ponselnya bahkan tidak dipakai hingga kehabisan baterai. Itulah alasan Vino tidak bisa menanggapi langsung telepon dan pesan Elena.
"Vino! Ya ampun! Kau mau sampai kapan begini, hah?!" timpal Arya dengan mata menyalang. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh sang putra.
"Jangan ganggu aku, sialan!" racau Vino. Membuat Arya dibuat semakin geram. Lelaki paruh baya itu mencengkeram kerah baju Vino.
"Dengar ya, Papah nggak masalah kamu bersenang-senang dengan cara apapun, tapi jangan sampai kau mempermalukan keluarga ini dengan kebiasaan burukmu!"
"Hahaha!" Vino malah tergelak mendengar ucapan Arya. "Apa? Mempermalukan kata Papah? Seharusnya Papah ngaca dulu sebelum ngomong!" sambungnya.
__ADS_1
"Vinoo!!!" geram Arya.
"Papah, sudah!" Lina yang datang langsung menghentikan. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat untuk Vino.
"Apa kau sedang mendapat masalah sampai tidak mau ke sekolah?" tanya Lina.
"Aku capek! Aku mau pindah sekolah. Papah dan Mamah sebaiknya urus itu untukku!" sahut Vino. Dia terlihat turun dari ranjang. Kemudian mengambil ponsel.
Vino mencoba menyalakan ponsel. Tetapi tidak bisa karena keadaan baterai 0%. Dia lantas mengisi dayanya terlebih dahulu.
"Apa kau bertengkar dengan temanmu?" tanya Arya.
"Ya, itu salah satunya." Vino menjawab sambil membuka ponselnya.
"Apa masalahnya?" tanya Lina.
"Itu si Iyan. Dia suka sama aku. Papah sama Mamah nggak mau kan aku terjebak dengan teman yang begitu," jelas Vino.
"Apa?!" Arya dan Lina kaget bersamaan. Mereka merasa ngeri sendiri. Apalagi Iyan juga sudah tinggal bersama Vino hampir setengah bulan.
"Tapi kau nggak suka sama Iyan kan?" tanya Lina.
"Enggaklah! Gila! Aku udah punya pisang sendiri. Ngapain cari pisang lain," jawab Vino. Saat itulah dia membuka pesan baru dari Elena. Matanya membulat tatkala membaca pengakuan cewek itu tentang kehamilan.
"Syukurlah. Baiklah kalau begitu, Papah akan urus kepindahan sekolahmu," ucap Arya. Dia dan Lina membiarkan Vino sendiri.
Usai membaca pesan dari Elena, dia segera menelepon cewek tersebut. Memastikan kebenarannya.
"El, lo pasti bercanda kan?!" timpal Vino.
"Bukannya udah jelas gue kirim foto testpack sama lo?! Lo tahu cara baca testpack kan?!" sahut Elena.
Vino lantas mengamati foto testpack yang dikirim Elena. Dia juga tak lupa mencari tahu cara membacanya lewat internet.
"Vino?" panggil Elena dari seberang telepon.
Vino menenggak salivanya sendiri saat mengetahui testpack yang dikirim Elena adalah bukti kuat. Jelas cewek itu sedang mengandung anaknya.
__ADS_1
Vino syok. Kakinya melemah. Dia terduduk ke lantai. Tidak tahu harus berbuat apa.
"Sial!" umpat Vino.