Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 25 - Bukan Teman Lagi


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena membuang muka. Dia segera mengusap matanya yang hampir mengeluarkan cairan bening.


"Sebaiknya mulai sekarang lo jangan dekatin gue lagi. Jauhi gue. Kalau perlu kita nggak usah temenan. Gue akan pastikan hari ini adalah hari terakhir kita berteman," ungkap Elena.


Mendengar Elena berucap begitu, entah kenapa Vino merasa gundah. Anehnya dia merasa tidak terima Elena berhenti menjadi temannya.


"Kenapa begitu? Gue emang nggak berminat jatuh cinta, tapi bukan berarti gue ingin memutuskan tali pertemanan kita," sahut Vino.


Elena tercengang. "Lo emang nggak punya hati!" cibirnya. "Lo pikir kita bisa berteman setelah apa yang terjadi? Cewek-cewek murahan yang lo dekatin mungkin bisa terima. Tapi gue nggak!" sambung Elena.


"Lo serius banget. Pantas hidup lo monoton," komentar Vino sinis. Entah sampai kapan perdebatannya dan Elena berakhir. Jika itu terjadi, maka waktu seolah tidak akan berakhir.


Di saat Vino dan Elena bicara serius, ada Ranti yang mendengarkan dari balik pintu. Ia tentu senang mendengar penolakan Vino terhadap Elena. Namun di sisi lain dirinya juga sedih mengetahui kenyataan kalau Vino tidak berminat berpacaran.


Di waktu yang sama, Iyan datang. Ranti langsung menyambut. Mereka segera bergabung bersama Vino dan Elena di dekat kolam renang. Saat itulah perdebatan Vino dan Elena harus berakhir.


Iyan berlari ke pelukan Vino. Ia menghela nafas panjang di sana. Lalu memejamkan mata sejenak.


"Emosional banget lo!" tukas Vino sembari menepuk punggung Iyan yang masih memeluknya.


Iyan mengembangkan senyuman tipis. Ia tampak menikmati pelukannya sekarang.


"Astaga, kalian lebih mesra dari gue sama Ranti tahu," tegur Andi yang baru saja bergabung.


"Gue sebenarnya pengen meluk cewek. Tapi nggak bisa." Iyan melepaskan dekapannya dari Vino. "Mau peluk Ranti, dia pacar lo. Mau peluk Elena, nggak berani. Nanti gue kena semprot omelan dia," jelasnya.


"Jelaslah," tanggap Elena sambil terkekeh. Hal serupa juga dilakukan yang lain.


"Tapi gue enggak tuh. Elena malah kepikiran gue terus," celetuk Vino. Seketika suasana menjadi serius. "Hahaha! Bercanda," ralatnya dengan tawa hambar.


Elena mendelik. Ia merasa sikap Vino sudah keterlaluan. Entah kenapa ucapan cowok itu terasa seperti penghinaan baginya.


Tak lama kemudian, Bi Irna datang membawakan minuman serta makanan. Semua orang lantas duduk dan menikmati.


"Lo kelihatan baik-baik aja, Yan," selidik Andi.


"Lo pikir begitu? Kepala gue mumet banget sekarang. Plis jangan ngomongin masalah gue sedikit pun," jawab Iyan sambil mendengus.


Hari itu Elena dan kawan-kawan berusaha menghibur Iyan. Mereka mengobrol dan bercanda. Berusaha mengalihkan pikiran Iyan dari masalah mengenai ayahnya.

__ADS_1


"Sumpah, Vin. Gue penasaran sudah berapa kali lo begituan sama cewek. Gue aja yang punya pacar belum pernah begitu," cetus Andi yang langsung dapat senggolan siku dari Ranti.


"Lagian lo sebagai cowok harus bisa juga hargain cewek. Kalau mereka belum siap ya nggak bisa dipaksa. Iyakan, Ran?" ujar Iyan. Menatap ke arah Ranti.


"Benar tuh kata Iyan." Ranti menjawab sambil menatap Andi.


"Iya, iya gue ngerti." Sebagai orang yang mencintai Ranti, Andi mencoba memahami. Setelah itu, dia menatap Vino. "Ngomong-ngomong. Pertanyaan gue tadi belum dijawab Vino," sambungnya.


"Iya, gue juga penasaran ada berapa banyak cewek yang jadi korban Vino," ucap Ranti. Atensinya dan yang lain segera tertuju ke arah Vino. Termasuk Elena.


Vino berdecak. "Kan gue pernah cerita kalau nggak pernah begituan sama cewek mana pun. Main mulut mungkin sering, tapi--"


"Aaaah!" Semua orang berseru tak percaya.


"Bacot lo!" hardik Andi.


"Lo pikir kita percaya? Apalagi setelah lihat lo telanjangin Tias di aula sekolah?" timpal Ranti.


"Tuh semua orang nggak ada yang percaya," ucap Elena.


Vino mengulurkan dua tangannya ke udara. Dia sebenarnya berkata jujur. "Gue nggak bohong. Terserah kalian mau percaya atau nggak. Tapi sekarang gue emang lagi berpikir mau cobain itu," terangnya sembari melirik Elena. "Gue tinggal cari ceweknya," kata Vino lagi.


"Ide bagus," tanggap Vino. Kali ini dia memilih mengalah. Vino tidak mau berdebat lagi dengan gadis itu.


"Lo serius, Vin?" tanya Ranti. Berbeda dengan Elena. Dia justru tertarik ingin menjadi cewek yang pertama kali bercinta dengan Vino.


"Ya." Vino mengangguk. Dia kembali menatap Elena. Hal tersebut seolah mengisyaratkan kalau Vino masih berharap bisa melakukannya dengan Elena.


"Sudahlah, Vin. Jangan mikirin hal begitu terus. Kita masih muda. Fokus belajar aja," ujar Iyan.


"Ampun! Ngeri gue dengarnya. Sejak kapan omongan lo kayak murid teladan?" balas Vino.


"Mungkin dia sekarang mau insaf, Vin." Andi segera ikut menyahut. Dia dan Vino tergelak bersama.


Tak terasa hari semakin sore. Tibalah Vino, Ranti, Iyan, dan Andi pergi dari rumah Elena. Mengingat kedua orang tua Elena akan pulang tidak lama lagi.


Elena melepas kepergian teman-temannya. Dia berdiri di teras sambil memperhatikan dari jauh.


Sebelum pergi, mata Elena dan Vino sempat bertukar pandang. Akan tetapi Elena langsung membuang muka. Ia terlanjur sakit hati pada cowok itu.


Selepas Vino dan kawan-kawan pulang, Elena masuk ke kamar. Ia menjatuhkan diri ke ranjang, lalu menangis. Air mata yang sejak tadi terus ditahan akhirnya luruh ke pipi.

__ADS_1


"Gue harusnya nggak tangisin cowok kayak Vino..." isak Elena. Dia sebenarnya tidak mau menangisi Vino. Namun perasaan dan air matanya berkata lain. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan lubuk hati terdalam.


...***...


Satu malam berlalu. Sekolah mulai memasuki masa ulangan akhir semester. Jadi jam belajar akan lebih cepat dari biasanya.


Elena dan Ranti sedang duduk di kelas. Keduanya melakukan kegiatan yang berbeda. Elena membaca buku, sedangkan Ranti bermain ponsel.


Dahi Elena berkerut. Dia heran pada Ranti. Padahal beberapa menit lagi akan ada ulangan. Tetapi cewek itu terlihat sangat tenang.


"Lo nggak belajar?" tukas Elena.


"Gue udah belajar tadi malam," sahut Ranti.


"Padahal biasanya lo yang paling rajin baca buku sebelum detik-detik ulangan dimulai."


"Tapi kali ini enggak."


Elena mengangguk. Berusaha memahami perubahan Ranti.


"Oh iya. Nanti istirahat pertama Vino mau traktir kita--"


"Gue nggak ikut. Mulai sekarang gue nggak mau temenan sama dia," potong Elena.


Diam-diam Ranti tersenyum. Dia tentu tahu alasannya apa. Sebab Ranti telah menguping pembicaraan Elena dan Vino kemarin.


Meskipun begitu, Ranti sengaja bersikap seperti teman yang baik. Dia tentu tidak mau Elena mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


"Loh, kenapa?" tanya Ranti.


"Gue merasa Vino akan memberikan dampak buruk sama hidup gue. Jadi gue mulai sekarang nggak akan temenan sama dia lagi," jawab Elena.


"Padahal kemarin lo kelihatan baik-baik aja sama dia dan yang lain. Lo ngizinin kita main di rumah lo lagi." Ranti mengerucutkan bibirnya. Bersikap sok kecewa.


"Anggap aja apa yang gue lakukan kemarin sebagai bentuk empati gue sama Iyan. Gue senang lihat dia ketawa," jelas Elena. Dia segera kembali fokus dengan bukunya.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi kita berdua tetap berteman kan?" Ranti memastikan.


"Ya iyalah. Lo itu jelas beda dari Vino!" tegas Elena. Dia dan Ranti lantas saling tersenyum.


Elena tidak tahu betapa senangnya hati Ranti sekarang. Cewek itu bahkan berniat memutuskan hubungan dengan Andi. Lalu segera bicara pada Vino terkait perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2