
...༻✫༺...
Tangan Vino berpegang erat pada kedua kaki Elena yang terbuka lebar. Cewek itu dibuat kelimpungan akan sentuhannya.
Elena mencengkeram rambut panjangnya dengan satu tangan. Dia merasakan sensasi melayang. Perasaan itu kian memuncak hingga membuatnya mulai mendessah.
Vino mengangkat kepalanya. Kini dia memposisikan diri berada di atas badan Elena. Cowok tersebut menanggalkan kemejanya.
Karena sudah terbuai, Elena ikut melepas pakaian. Ia dan Vino tidak berhenti saling menatap. Sebab itulah mereka kembali berciuman bibir.
Vino lantas melepas pengait bra Elena. Badan cewek itu dalam keadaan tidak tertutupi oleh satu helai benang pun.
Vino melepas tautan bibirnya sejenak. "Lo yakin mau melakukan ini? Gue mau kasih lo kesempatan--"
"Lakukanlah!" potong Elena tak sabar.
Vino tersenyum tipis. Dia segera melepas pakaian yang tersisa di tubuhnya.
Elena telan ludah lagi ketika menyaksikan Vino sudah bugil seperti dirinya. Tanpa basa-basi, Vino kembali memposisikan diri ke atas badan Elena. Perlahan cowok tersebut melakukan penyatuan.
Wajah Elena meringis. Dia juga berpegang erat ke bahu Vino. Bagaimana tidak? Elena merasa kesakitan saat Vino mencoba menembus dinding rahimnya.
Vino jadi khawatir ketika melihat Elena kesakitan. Sesakit itukah? Sebagai lelaki, dia tentu tidak tahu.
"Lo mau gue lanjut atau nggak?" tanya Vino. Di sela-sela pengaturan nafas.
"Udah terlanjur. Terusin aja..." jawab Elena lirih. Lalu mengatup rapat bibirnya. Dia terlihat masih menunjukkan raut wajah kesakitan.
Vino melanjutkan. Ia juga tak lupa menggunakan pengaman yang tadi sudah sempat diambil dari kamar Arya.
Setelah sepenuhnya berhasil melakukan penyatuan, Vino mulai bergerak maju mundur. Rasa nikmat tiada tara langsung terasa. Bukan hanya Vino yang merasakannya, tetapi juga Elena. Walau harus menahan sakit, hasratnya terhadap Vino benar-benar membuncah. Hingga gelitikan di perutnya berulang kali terasa. Alhasil erangan yang pernah dia dengar dalam video bokep, diperdengarkan oleh dirinya sendiri.
Sama seperti Elena. Vino juga melenguh. Mulut cowok itu terus terbuka lebar. Lama-kelamaan dia menghentak lebih cepat. Maka semakin cepat pula durasi dessahan sahut-menyahut yang diperdengarkannya dan Elena.
__ADS_1
"Vino!" sesekali Elena mengelukan nama Vino. Dengan wajah memerah dan mulai bermandikan keringat itu, dia tak berhenti menatap cowok yang ada di atas tubuhnya.
Kali ini Elena merasakan puncak lebih dari satu kali. Hal tersebut memang membuat badannya lemas.
Segalanya berakhir saat Vino mengerang panjang. Pertanda bahwa dia sudah menggapai puncak kenikmatan. Cowok itu segera melepaskan penyatuan. Kemudian merebahkan diri ke sebelah Elena. Vino tak lupa menarik selimut untuk menutupi badannya dan Elena. Mereka sama-sama terengah-engah. Saling memejamkan mata karena sensasi yang sudah dirasakan tadi sungguh luar biasa.
Hening menyelimuti suasana selama lima belas menit lebih. Vino menatap Elena. Dia berbaring miring menghadap cewek tersebut. Lalu membelai puncak rambut Elena.
"Gimana?" tanya Vino.
Elena mengerutkan dahi. Dia yang masih terpejam, segera membuka mata. Kemudian menatap Vino. "Apanya yang gimana?" balasnya.
"Sok-sokan nggak ngerti lagi." Vino terkekeh sampai menampakkan deretan gigi depannya yang rapi.
Elena memutar tubuhnya menghadap Vino. Ia memegang wajah cowok itu.
"Lo nggak berpikir untuk cari cewek lain lagi kan?" tukas Elena. Selepas apa yang terjadi, dia tentu terbawa perasaan.
Vino tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke hadapan Elena. "Mau ronde kedua nggak?" tawarnya. Tak menanggapi pertanyaan Elena.
Ponsel Elena berdering. Namun pemiliknya tak tahu. Sebab ponselnya berada di tas yang tadi sudah dilempar Elena di ruang billiard. Elena tidak tahu ibu dan ayahnya telah bergantian menelepon. Kedua orang tuanya itu hendak mengajak Elena pulang.
"Dia sejak tadi sama Vino kan?" imbuh Alan.
"Iya, aku tahu. Terakhir kali aku melihat mereka makan bersama," tanggap Rika.
"Sebaiknya kita tanya sama Lina dan Arya. Mungkin mereka tahu," usul Alan.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi kedua orang itu juga tidak terlihat sejak tadi." Rika berucap sambil terus menghubungi Elena.
Alan dan Rika lantas mencoba berkeliling untuk mencari Elena. Bersamaan dengan itu, Elena baru saja menyelesaikan ronde kedua bersama Vino. Badan cewek tersebut terasa semakin lemas.
"Gue rasa udah cukup. Gue capek..." lirih Elena seraya merubah posisi menjadi duduk. Ia beringsut ke tepi ranjang. Lalu beranjak ke kamar mandi. Elena tentu tak lupa membawa seluruh pakaiannya.
__ADS_1
Sementara Vino hanya membisu. Dia juga merasa lemas.
Elena membersihkan dirinya di kamar mandi. Jujur saja, organ intimnya masih terasa sakit. Terutama ketika dia berjalan.
"Sakit, tapi bisa ditahan," gumam Elena. Dia segera memeriksa keadaan alat vitalnya. Elena menemukan anggota tubuh sensitifnya itu mengeluarkan darah.
Elena menghela nafas. Dia sama sekali tidak khawatir. Sebab dirinya tahu akan mengalami gejala tersebut jika melakukan hubungan intim untuk pertama kali.
Setelah memastikan tubuhnya agak bersih, Elena mengenakan pakaian. Dia menepuk jidat sendiri ketika baru teringat kalau tasnya tertinggal di ruang billiard. Tanpa pikir panjang, Elena keluar dari kamar mandi. Akan tetapi penglihatannya langsung di sambut oleh Vino. Cowok itu terlihat bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam.
"Gue mau ambil tas--" lagi-lagi ucapan Elena terpotong karena ciuman tiba-tiba Vino. Keduanya bersikap seperti pengantin baru. Belum puas dengan sentuhan yang sudah dilakukan berulang-ulang.
Vino menyudutkan Elena ke depan pintu kamar mandi. Mereka bercumbu untuk yang kesekian kali. Lama-kelamaan cumbuan Vino semakin meliar. Bahkan mulai mencoba melepas pakaian Elena. Namun cewek itu dengan cepat menghentikan.
"Gue bilang cukup," kata Elena sambil mendorong dada Vino.
Meski didorong, Vino tak melepaskan tangan Elena. Ia menggenggam satu tangan cewek tersebut dengan erat.
"Gue sarankan, lo buang CCTV tambahan di sekitar kamar lo itu," ujar Vino. Dia mendekat lagi dan berbisik, "dan jangan kunci jendela lo lagi."
"Terserah gue dong." Elena membalas dengan nada arogan. Ia mencoba melepas genggaman tangan Vino. Tetapi sangat sulit dilakukannya.
"Vin," panggil Elena dengan tatapan memohon. Binar matanya dan Vino menampakkan perasaan cinta yang jelas.
"El..." Vino balas memanggil sambil tersenyum.
Elena terkekeh malu dan tertunduk. Hatinya benar-benar melambung tinggi sekarang. Seolah dunia hanya miliknya dan Vino berdua.
Agar tangannya dilepas, Elena menghamburkan ciuman ke wajah Vino. Cowok itu lantas lengah. Hingga Elena dapat melepas tangannya dan pergi.
Vino bergegas mengejar Elena berlari. Mereka tergelak bersama. Namun langkah Vino harus terhenti saat sadar dirinya tidak memakai baju. Dia otomatis terpaksa kembali ke kamar. Membiarkan Elena pergi.
Tetapi saat hendak menutup pintu, sebuah cengkeraman kuat dirasakan Vino di pundak. Orang yang melakukannya tidak lain adalah Arya.
__ADS_1
"Papah?" dahi Vino berkerut dalam. Dia diseret Arya masuk ke kamar. Ayahnya itu menutup pintu dengan bantingan. Selanjutnya Arya menampar keras wajah Vino. Saking sakitnya, cowok itu terjatuh ke lantai.