Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 58 - Mencari Kambing Hitam


__ADS_3

...༻✫༺...


Arya tersenyum miring. "Sudah kuduga. Aku yakin kau tidak akan menjawab. Jika menjawabnya masih ragu, apalagi melakukannya. Karena itulah, mulai sekarang kau batasi dahulu berhubungan dengan Elena. Kalau perlu, carilah perempuan yang tidak punya orang tua mengerikan seperti orang tuanya Elena," ucapnya. Dia segera pergi. Disusul oleh Lina setelahnya. Arya akan pergi mengurus video tak senonoh Vino ke sekolah.


Tak lama kemudian, Iyan muncul. Dia baru bangun dari tidur. Iyan kebetulan terlambat menerima kabar mengenai video Elena dan Vino.


"Pagi, Om, Tante..." sapa Iyan ramah. Keberadaannya untuk tinggal sementara di rumah, sama sekali bukan masalah bagi Arya dan Lina.


"Pagi, Yan. Sarapan dulu gih." Arya balas menyapa.


"Vino sudah di meja makan tuh," ucap Lina.


Iyan mengangguk. Dia segera bergabung dengan Vino di meja makan.


"Parah, Vin! Lo udah tahu tentang video--"


"Sudah... Lo telat. Gue lagi nggak pengen bicarakan ini. Oke?" potong Vino. "Mending lo sarapan dulu," sarannya.


Iyan tersenyum kecut. Dia lantas mengambil makanan untuk sarapan.


"Hari ini lo nggak usah ke sekolah. Temenin gue di rumah," ujar Vino.


Mata Iyan berbinar. "Siap bos! Kita main PS pasti seru," tanggapnya.


Vino mengangguk. Dia berniat ingin melupakan masalahnya sejenak. Lagi pula Vino merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menemui Elena.


Hari itu Vino dan Elena tidak ke sekolah. Video mereka juga berhasil di atasi oleh Arya. Para guru bahkan ikut membantu. Mereka tentu akan membantu karena apa yang dilakukan Arya juga akan membantu reputasi sekolah.


Bersamaan dengan itu, Andi dan Ranti diam-diam melakukan sesuatu. Mereka sekarang berada di ruang CCTV. Kebetulan satpam yang berjaga sedang betugas membantu Arya dan para guru.


Andi dan Ranti sendiri sengaja menawarkan diri untuk menggantikan satpam berjaga di pos. Padahal mereka memiliki tujuan tertentu. Yaitu memeriksa rekaman CCTV saat Ranti merekam video Elena dan Vino.


"Apa kita tertangkap CCTV?" tanya Andi. Dia memperhatikan Ranti yang sibuk mengutak-atik papan keyboard.


"Enggak. Gue kalau bikin rencana nggak akan kaleng-kaleng, Di. Posisi kita kemarin itu nggak terekam CCTV. Karena gue udah pastikan sebelum merekam video Elena dan Vino."

__ADS_1


"Terus kita ngapain di sini?" Andi penasaran.


"Kita nyari tumbal!" jawab Ranti seraya mengukir seringai.


Mata Andi membulat. "Maksudnya lo pengen menutupi tindakan lo dengan cara menuduh orang lain yang melakukannya? Begitu?" tebaknya.


"Yup!" Ranti mengangguk.


"Ck, ck, ck. Lo emang rubah licik," komentar Andi.


Ranti perlahan menatap Andi. "Tapi lo sayang kan sama rubah cantik ini?" tanyanya sembari menekan bibir bawah Andi. Sengaja menebar pesona pada cowok itu.


"Gue mau gimana lagi," sahut Andi. Dia mendekatkan diri pada Ranti. Berniat ingin mencium bibir cewek tersebut. Namun Ranti segera menahan bibir Andi.


"Tahan dulu. Biar kita selesain ini dulu," kata Ranti.


Andi setuju saja. Dia juga membantu Ranti. Sampai mereka menemukan murid yang pas untuk dijadikan kambing hitam. Yaitu Tias. Entah kebetulan atau apa, cewek itu berjalan melewati jalan yang mengarah ke tempat Elena dan Vino berada. Yaitu laboratorium bahasa. Kebetulan jalan yang dilewatinya terekam CCTV. Jalan yang sengaja dihindari Ranti ketika menjalankan rencana.


Jalan yang terekam CCTV sebenarnya tidak hanya mengarah ke laboratorium bahasa. Tetapi juga tempat lain. Namun keberadaan CCTV tersebut bisa dijadikan bukti untuk membantu Ranti menyerahkan kejahatannya pada orang lain.


Selain Tias, Ranti juga berhasil menemukan jackpot lain. Yaitu keberadaan Alam yang juga melewati jalan ke arah laboratorium bahasa. Cowok gempal itu muncul setelah Tias.


"Lo kenapa mikir keras banget. Gue yakin Vino nggak ingat kapan dia melakukannya. Lagian jarak waktunya nggak terlalu jauh," sahut Ranti.


"Ya, emang Vino nggak secerdas itu. Otaknya juga bukan otak detektif. Lalu gimana sama Elena? Lo nggak lupa kan kalau pacarnya Vino itu jenius?" Andi mengungkapkan segala kemungkinan.


Ranti tertawa kecil. "Lo kalau nggak tahu apa-apa tentang kehidupan Elena mending diam," ucapnya.


"Emang gimana?"


"Orang tua Elena tuh keras banget. Jadi setelah video itu tersebar, gue yakin Elena nggak akan sekolah di sini lagi. Ini prediksi gue sih. Tapi gue yakin 99%!"


"Oh gitu." Andi mengangguk mengerti.


Bersamaan dengan itu, satpam datang. Dia sukses memergoki Andi dan Ranti berkutat di ruang CCTV.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Kami sedang berusaha mencari tahu orang yang merekam video Vino dan Elena." Andi langsung memberikan alasan.


"Oh begitu. Bagaimana? Apa kalian menemukan orangnya?" tanggap sang satpam. Dia malah penasaran.


"Kami--"


"Nggak ketemu. Kami soalnya nggak tahu kapan waktunya." Ranti buru-buru angkat suara. Sengaja menghentikan Andi bicara. Cowok itu hanya bisa menatap sembari mengerutkan dahi.


Karena satpam sudah datang, Ranti dan Andi segera meninggalkan ruang keamanan.


"Lo kenapa nggak biarin gue kasih tahu?" tanya Andi.


"Cukup kita-kita aja dulu. Lo kan nggak bisa bayangin apa yang dilakukan Vino sama Tias dan Alam nanti," bisik Ranti.


"Benar juga." Lagi-lagi Andi membenarkan. Saat itulah terdengar pengumuman kalau seluruh murid diwajibkan berkumpul di lapangan. Ranti sontak mengajak Andi berlari menuju lapangan.


"Kita ke gudang aja kenapa sih. Palingan pengumuman nggak penting," keluh Andi.


"Sabar dong!" Ranti mencium pipi Andi. "Kita harus berbaur biar nggak ketahuan," cicitnya. Andi lantas tak bisa menahan diri untuk tersenyum.


Di sisi lain, Elena baru selesai mengembalikan rambutnya menjadi hitam lagi. Dia sedang ada di kamar. Berdiri di depan jendela.


Pintu perlahan terbuka. Rika datang sambil membawa selembar kertas.


"Mulai sekarang lupakan masalahmu itu. Ayahnya Vino sudah mengatasi semuanya. Tapi bukan berarti kau akan tetap bersekolah di sana." Rika mendekat. Dia menyodorkan kertas yang ternyata adalah formulir untuk pendaftaran sekolah.


"Isilah formulir ini. Lusa Mamah pastikan kau akan sekolah di sana," jelas Rika.


Elena mengambil formulir yang disodorkan sang ibu. Dia membaca isi formulir tersebut. Dari sana dia mengetahui kalau sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar nanti memiliki asrama.


"Aku akan tinggal di asrama?" Pupil mata Elena membesar.


"Iya. Aku rasa pengawasan di sana lebih baik dibanding di sini. Aku dan Papahmu tidak bisa terus mengawasimu setiap waktu," ungkap Rika. "Sekolah itu khusus perempuan. Jadi di sana kau bisa fokus belajar tanpa gangguan dari laki-laki," sambungnya.


Elena tidak tahu kenapa. Tetapi dia merasa gundah. Bukannya mendapat perhatian, dia justru merasa di usir dari rumah secara halus.

__ADS_1


"Tapi aku ingin tetap tinggal bersama Mamah dan Papah..." lirih Elena. Matanya berkaca-kaca.


Rika memegang lembut pundak Elena. "Kami melakukan ini demi kebaikanmu, Sayang..." tuturnya. Namun sama sekali tak berarti bagi Elena.


__ADS_2