Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 73 - Perdebatan


__ADS_3

...༻✫༺...


Vino dan Elena masih berada di mobil. Mereka duduk tersandar di kursi karena berusaha mengontrol nafas yang ngos-ngosan. Keduanya baru selesai berhubungan intim.


"Lo yakin kan mau kabur bareng gue?" tanya Vino. Dia memperhatikan Elena yang sibuk merapikan pakaian.


"Ayo kita pergi," sahut Elena yang jelas menyetujui ajakan Vino. Keduanya segera pergi.


Vino membawa Elena datang ke villa milik keluarganya. Villa tersebut berada tidak jauh dari laut.


Setibanya di tempat tujuan, Elena langsung keluar dari mobil. Dia tersenyum karena melihat pemandangan laut yang indah.


"Gimana? Suka kan?" tanya Vino.


"Suka." Elena mengangguk.


Vino segera menghubungi penjaga villa untuk membukakan pintu. Mengingat kunci villa dipegang oleh orang itu. Selanjutnya, dia dan Elena segera beristirahat.


"Gini rasanya kalau kita tinggal serumah." Vino memeluk Elena dari belakang. Ia terkekeh bersama cewek itu.


Elena memutar tubuhnya menghadap Vino. Dia segera mendapat ciuman bibir dari cowok tersebut.


"Udah!" Elena melepas tautan bibirnya dari mulut Vino. Lalu memeluk cowok itu.


Elena dan Vino telentang bersama di ranjang. Keduanya saling berpelukan. Tanpa sadar mereka tertidur.


Ketika waktu menunjukkan jam dua sore, Elena menjadi orang yang lebih dulu terbangun. Dia perlahan melepas pelukan Vino. Lalu beranjak dari ranjang.

__ADS_1


Elena pergi ke balkon. Dia duduk termenung di sana. Sambil memegangi perutnya yang masih datar.


Segala kemungkinan dibayangkan Elena. Termasuk apa saja yang terjadi jika dirinya mempertahankan janin dalam perut. Tetapi di sisi lain, naluri keibuannya merasa tidak tega.


"Tapi sebenarnya semuanya bisa dilakukan kalau Vino bersedia nikahin gue. Kami bisa pergi ke luar negeri dan melanjutkan pendidikan di sana. Lagian kayaknya dia pengen banget tinggal serumah bareng gue," gumam Elena. Dia tiba-tiba mendapat ide bagus. Terlebih Elena menyadari dirinya dan Vino berada di keluarga yang mampu dari segi materi.


Masalahnya hanya satu. Apakah Vino mau menikah dengan Elena? Bahkan secara diam-diam sekali pun.


Elena berdiri. Berniat bicara dengan Vino.


"Nongkrong di sini ternyata." Vino datang lebih dulu. Kebetulan sekali Elena ingin mengajaknya bicara.


"Vin, gue punya ide. Kita bisa mempertahankan bayi ini dengan menikah. Kita bisa diam-diam menikah dan tinggal ke luar negeri. Melanjutkan pendidikan di sana!" cetus Elena. Berharap Vino setuju.


"Terus lo nggak peduli sama apa yang dikatakan sama keluarga kita?" tanggap Vino.


"Lo ngomong begitu karena lo nggak tahu apa yang gue lihat. Bokap dan nyokap gue itu bawa selingkuhannya bergantian ke rumah! Gimana gue bisa percaya sama pernikahan?!" balas Vino.


"Jadi lo benar-benar nggak bisa nikahin gue? Bahkan saat gue sudah dewasa nanti?" mata Elena berkaca-kaca.


Vino terdiam. Dia memutuskan pandangannya dari Elena dengan cara menunduk.


Elena menangis lagi. Vino benar-benar cowok yang membuat hatinya tidak karuan. Padahal baru saja dirinya tadi dibuat bahagia oleh cowok tersebut.


"Sorry, El... Tapi gue beneran cinta sama lo," ungkap Vino.


"Cinta tapi nggak mau nikahin itu cinta apa, hah?!" timpal Elena. Dia naik pitam. Wajahnya tampak memerah padam.

__ADS_1


"El!" Vino mendekat untuk menenangkan Elena. Namun cewek itu menghindar.


"Kalau tahu begini, seharusnya sejak awal kita nggak pernah menjalin hubungan! Karena di mata lo gue sama aja seperti cewek-cewek yang pernah lo mainin!" geram Elena.


"Enggak! Lo kenapa ngomong gitu?! Gue nggak pernah bermaksud permainkan lo seperti cewek-cewek itu!" perdebatan Vino dan Elena lantas terjadi.


"Terus kenapa lo nggak mau tanggung jawab?! Apa yang terjadi sama gue itu juga karena lo!"


"Lo nggak akan ngerti, El! Kalau lo jadi gue, lo pasti akan melakukan hal sama!"


"Sok menderita banget sih lo! Padahal di sini yang menderita gue!" Elena menghapus air mata yang meleleh di wajah.


Hening menyelimuti suasana. Vino yang merasa terpancing emosi, menendang meja kecil. Hingga pot keramik bunga yang ada di atasnya jatuh dan pecah.


Elena kaget sampai berjengit. Dia sepenuhnya sadar kalau Vino bukan cowok yang bisa diandalkan. Anggapan Elena ternyata salah selama ini. Ia juga tiba-tiba mengingat bagaimana wajah Vino saat mabuk.


Tangan Elena kembali memegangi perut. Dia merasa anaknya tidak pantas lahir karena mempunyai ayah brengsek seperti Vino.


"Oke kalau itu yang lo mau. Hubungan kita benar-benar berakhir sekarang. Terserah lo mau ngapain. Biar gue yang urus bayinya." Setelah berucap begitu, Elena pergi melewati pintu. Berniat ingin cepat-cepat pergi dari villa.


Vino yang melihat, otomatis diserang perasaan gelisah. Dia merasa lebih kesal menyaksikan kepergian Elena.


"El!" Vino akhirnya mengejar. Dia meraih tangan cewek itu. Elena lantas berhenti melangkah dan menoleh.


"Apa?! Gue yakin lo nggak akan berubah pikiran kan?" timpal Elena seraya menghempaskan tangan Vino.


"Jangan pergi..." hanya itu kalimat yang diucapkan Vino.

__ADS_1


"Gue pastikan ini pertemuan terakhir kita!" tegas Elena. Dia bergegas meninggalkan villa. Sudah tak peduli lagi dengan cintanya terhadap Vino. Berharap pada cowok itu seperti mengharapkan kepompong kosong berubah menjadi kupu-kupu. Jelas hanya sia-sia.


__ADS_2