Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 70 - Pengakuan Iyan


__ADS_3

...༻✫༺...


Keadaan sekarang terbalik. Sebab Vino yang mengambil alih untuk memukuli Andi. Dia melakukannya dengan beringas. Seolah seperti sedang dirasuki setan. Mengingat Vino memang dalam kendali obat.


"Vino, cukup!" pekik Elena. Berusaha menghentikan Vino. Akan tetapi cowok itu masih belum berhenti memukuli Andi.


Alam lantas turun tangan untuk melerai perkelahian. Namun justru dia yang didorong oleh Vino. Alam jatuh terhempas ke lantai.


Elena tidak tahan lagi dengan kelakuan Vino. Dia meraih tangan cowok tersebut. Lalu menjauhkannya dari Andi.


"CUKUP! Gue bilang cukup!!!" tegas Elena. Dia terpaksa mendaratkan tamparan ke wajah Vino. Apa yang dilakukannya sukses menghentikan amarah Vino. Cowok itu kini menatap nanar Elena.


"Kenapa lo tampar gue?!" timpal Vino.


"Lo yang kenapa!" balas Elena.


"Gue marah lah! Dia mukul gue tanpa alasan!" sungut Vino yang merasa dirinya tidak bersalah. Akibat mabuk, dia masih belum sadar kalau cewek yang diciumnya tadi adalah Ranti.


"Tanpa alasan lo bilang?! Jelas-jelas lo tadi ciuman sama Ranti! Ya jelas Andi marahlah. Gue juga marah sekarang sama lo!" tukas Elena.


"A-apa? Gue ciuman sama Ranti?" Vino tampak terkejut.


Sementara Andi, terlihat babak belur. Dia terkapar di lantai. Ranti segera mendekat untuk mengurusnya.


Elena terlampau begitu kecewa dengan Vino. Dia segera pergi. Dirinya tak lupa mengajak Alam untuk ikut.


Ketika Elena sudah beranjak, barulah Vino bergegas mengejar. "El! Tunggu!" ujarnya sambil memaksakan diri untuk berlari.


Lari Vino terseok-seok karena adanya pengaruh obat-obatan yang belum hilang. Dia jadi tidak bisa mengejar Elena dengan cepat. Vino bahkan jatuh tersungkur di depan pintu. Ia benar-benar tampak menyedihkan.


"Elena!!!" teriak Vino saat Elena sudah keluar dari gerbang rumahnya. "Elena..." panggilnya lagi yang berakhir dengan terisak.


"Vino!" Iyan buru-buru membantu Vino berdiri. Dia membawa cowok itu masuk kembali ke rumah.

__ADS_1


Iyan tampak menatap tajam Ranti. Dia menarik cewek tersebut ikut bersamanya. Iyan hendak bicara empat mata.


"Lo kenapa sih pakai cium Vino segala?! Gila ya?!" timpal Iyan.


"Gue juga dalam pengaruh obat kali. Gue kira Vino Andi," kilah Ranti tak mau mengaku.


"Lo benar-benar rubah licik!" Iyan mengarahkan jari telunjuk ke wajah Ranti. Giginya menggertak kesal.


"Kenapa lo yang marah? Elena aja nggak marah tadi ke gue?! Suka lo sama gue?!" balas Ranti sambil melipat tangan ke depan dada.


"Cuh! Jijik gue!" cibir Iyan sinis.


Bersamaan dengan itu, suara ponsel tiba-tiba berbunyi saling sahut-menyahut. Iyan lantas memeriksa pesan yang masuk. Pupilnya seketika membesar ketika melihat video Tias setengah telanjang.


"Apa-apaan!" gumam Iyan tak percaya. Sedangkan Ranti, tampak mengukir senyuman puas.


Di sisi lain, Elena dan Alam juga sudah melihat video Tias. Elena sangat terkejut menyaksikan video tersebut.


"Jangan-jangan ini kartu As yang dibilang Ranti," duga Elena.


"Harusnya gue tadi omelin Ranti habis-habisan! Semua gara-gara Vino!" Elena menghentakkan sebelah kakinya. Dia mengusap kasar wajahnya. Karena Vino, Elena tidak terpikir lagi untuk membongkar kejahatan Ranti.


"Masih ada waktu, El. Tadi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bicara sama Vino," ucap Alam. Berusaha menenangkan Elena. Cewek itu lantas mengangguk.


...***...


Waktu menunjukkan jam tujuh malam. Vino yang sudah seharian telentang di ranjang, akhirnya bangkit. Dia merasa sepenuhnya pulih dari kendali obat.


"Akhirnya lo bangun juga," seru Iyan yang sejak tadi menemani Vino.


"Mana Andi?" tanya Vino. Dia merasa bersalah sudah memukuli Andi.


"Dia balik sama Ranti. Udah! Lo mending istirahat aja kalau masih leyot," saran Iyan.

__ADS_1


"Nggak! Gue harus ketemu Elena." Vino beranjak dari ranjang. Dia segera mengenakan jaket hodie. Bersiap untuk mendatangi Elena ke asrama.


"Elena, Elena, Elena terus! Dia itu cewek yang nggak bisa toleransi kebiasaan buruk lo, Vin! Jelas Elena bukan cewek yang cocok buat lo!" tukas Iyan. Dia sepertinya berusaha mencegah kepergian Vino.


"Tapi dia cinta sama gue! Gue yakin Elena pasti akan terbiasa," balas Vino.


"Nggak yakin gue. Jelas-jelas dia tadi kayak jijik sama lo!" sahut Iyan yang terkesan sinis.


"Lo kenapa sewot, Yan?! Kenapa lo peduli sama masalah pribadi gue, hah?!" Vino akhirnya kesal. Dia mendorong Iyan sampai terhuyung.


"Lo beneran mau tahu alasannya?" tanggap Iyan.


"Bacot! Gue nggak punya waktu! Kalau lo sok-sokan bersikap ngatur begini, lo mending angkat kaki dari rumah gue!" usir Vino tegas. Kemudian melangkah menuju pintu.


"Gue suka sama lo!" ungkap Iyan. Membuat langkah kaki Vino sontak terhenti.


"Apa?" Vino berbalik dan menoleh ke arah Iyan. Menatap tak percaya. Ia takut dirinya salah dengar.


"Itulah alasannya kenapa gue nggak pernah dekat sama cewek sampai sekarang. Tapi gue senang akhir-akhir ini bisa tidur bareng lo. Gue manfaatin itu--"


"Lo udah sakit! Sekarang lo mending pergi dari sini!" potong Vino dengan mata melotot.


Iyan mendengus kasar. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Vino. Iyan mengembangkan senyuman tak berdosa. "Thanks buat semuanya. Oh iya, gue juga beberapa kali cium lo pas lo tidur," ungkapnya.


Mata Vino membulat sempurna. Pengakuan Iyan tidak hanya membuatnya syok, tetapi juga sampai bergidik ngeri.


"Lo sinting!!!" umpat Vino. Dia merasa tertipu habis-habisan oleh Iyan. Tanpa pikir panjang, Vino menarik kerah baju Iyan. Menyeret cowok itu keluar dari rumahnya.


"Mulai sekarang lo bukan teman gue lagi! Tidur sana sama banci di lampu merah!" Vino menutup pintu dengan bantingan. Ia menyandar di depan pintu sambil mengatur nafas. Baru kali ini dirinya menghadapi hal seperti sekarang.


"Vin... Harusnya lo nggak terlalu baik sama gue. Jadi gini kan gue akhirnya. Makasih celana dallamnya ya," ucap Iyan sambil menatap pintu. Dia tahu Vino masih di sana.


Pupil mata Vino membesar. Dia buru-buru memeriksa celana dallamnya di lemari. Semuanya masih utuh seperti semula. Namun tetap saja Vino merasa frustasi.

__ADS_1


"Aaaaarghhhhh!!!" Vino mencengkeram erat rambutnya. Lalu terduduk ke lantai. Dia meneteskan air mata. Vino benar-benar kecewa dengan semua orang.


Vino terduduk di lantai dalam keadaan melipat kedua lutut. Dia meratap sendirian. Alhasil Vino tidak jadi menemui Elena malam itu. Dirinya malah melarikan diri dari masalah dengan meminum alkohol milik sang ayah. Semua orang membuat Vino stres. Termasuk Elena sendiri.


__ADS_2