Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 23 - Gagal Fokus


__ADS_3

...༻✫༺...


Vino buru-buru mendatangi kelas Elena. Namun dia tidak menemukan cewek itu di sana. Hanya ada Ranti yang tampak menatapnya dengan dahi berkerut.


"Ngapain lo ke sini?" tukas Ranti yang langsung berdiri dari tempat duduk. 'Apa Vino ke sini untuk cari gue? Apa dia cemas karena gue marah?' duganya dalam hati.


"Mana Elena?" tanya Vino. Harapan Ranti seketika pupus. Gadis itu memutar bola mata sebal. Dia kembali duduk.


"Elena ke toilet!" jawab Ranti ketus. "Emangnya lo--" perkataan Ranti terpotong ketika Vino pergi begitu saja. Cowok tersebut tampak berjalan keluar kelas dengan tergesak-gesak.


"Kayaknya ada sesuatu sama Vino dan Elena," cetus Andi seraya duduk ke atas meja Ranti.


"Menurut lo?" tanggap Ranti yang terlihat memasamkan wajah. Dia tentu khawatir Vino dan Elena memiliki hubungan spesial.


"Mereka aneh. Nggak biasanya kan Elena ngajak kita cari Vino. Terus sekarang Vino terlihat panik begitu. Dia berlagak seperti Elena kenapa-napa," jelas Andi.


Tetapi Ranti hanya diam. Ia tak bisa membantah kalau ada sesuatu yang aneh dengan Vino dan Elena. Keduanya akhir-akhir ini menjadi lebih dekat setelah insiden ciuman dalam permainan rolet.


Di toilet, Elena keluar dari bilik saat memastikan tidak ada orang di luar. Ia segera membasuh wajah. Elena tentu tidak mau ada orang yang tahu kalau dirinya menangis.


"Kenapa gue nangis coba!" keluh Elena. Berbicara pada pantulan cermin. Dia sekarang berdiri di depan wastafel.


Pintu mendadak terbuka. Sosok Vino muncul dan sukses membuat Elena kaget.


"Ngapain lo ke sini?!" timpal Elena. Dia melangkah mundur untuk menjaga jarak.


Vino tak bicara. Dia hanya menghampiri Elena. Sampai dirinya menyadari wajah sembab cewek itu.


"Lo habis nangis?" tanya Vino.

__ADS_1


"Nggak usah sok-sokan peduli!" jawab Elena ketus. Dia buru-buru melangkah menuju pintu. Akan tetapi Vino sigap memegang lengannya.


"Nggak ada yang terjadi sama gue dan Tias. Dia telanjang begitu cuman karena--"


"Udah cukup! Lo pikir gue peduli? Mau dia telanjang atau lo yang telanjang, gue nggak peduli!" potong Elena tegas.


"Nggak peduli?" Vino menarik Elena lebih dekat. "Terus kenapa lo nangis?" tukasnya.


"Nggak usah kepedean! Gue nangis bukan berarti karena lo!" Elena melepas paksa genggaman tangan Vino. Namun cengkeraman cowok itu malah semakin kuat. Hingga dia kesulitan untuk melepasnya.


Meskipun begitu, Vino tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Elena dengan mimik wajah serius. Lalu mengukir seringai.


"Bisa lepasin gue nggak?!" Elena masih berusaha melepas pegangan tangan Vino.


Karena terus memberontak, Vino akhirnya mengalah. Dia melepas tangan Elena. Kemudian membiarkan cewek itu pergi.


Vino tidak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. Dia berputar menghadap cermin di depan wastafel.


"Harusnya lo nggak usah marah sampai begitu, El. Lo semakin bikin gue tertarik," ucap Vino lagi. Melihat wajah sembab dan kemarahan Elena, dia yakin cewek itu merasakan sesuatu terhadapnya. Tetapi anehnya Vino malah merasa senang. Nama Elena kini terus menghantui kepalanya.


...***...


Ulangan akhir semester minggu depan akan dilaksanakan. Para guru menyarankan semua murid untuk belajar dengan giat. Mengingat nilai rapor sangat penting untuk kelulusan nanti.


Karena sebentar lagi ulangan, Elena lebih serius belajar. Dia juga merasa belajar dapat mengalihkan pikirannya dari Vino. Sekarang gadis itu sedang melakukan les Matematika.


Butuh waktu sekitar dua jam lebih untuk menjalani les. Setelah itu, Elena beristirahat. Dia memanfaatkan waktu untuk menonton televisi dan memakan camilan.


Bertepatan dengan itu, Elena menemukan berita tentang petinggi politik yang terlibat pembunuhan. Dia cukup terkejut dengan kabar tersebut.

__ADS_1


"Randi Rahaja? Bukankah itu nama bokapnya Iyan?" gumam Elena. Merasa tak percaya. Dia lantas kembali mendengarkan berita dengan serius.


"Yayan Trisna diketahui sudah menghilang selama dua minggu lebih. Mayatnya ditemukan di belakang rumah yang sengaja ditutupi dengan semen. RJ disebutkan telah terbukti menjadi otak kejahatan dibalik pembunuhan Yayan. Sekarang RJ harus menjalani pemeriksaan dengan pihak kepolisian." Begitulah penjelasan reporter yang ada di televisi.


Elena merasa masih tidak yakin. Karena penasaran, dia mencari ponselnya. Ia diam-diam mengambil ponsel dari kamar orang tuanya. Mengingat tempo hari benda itu di sita dari Elena.


Sebelum mengambil ponsel, Elena tak lupa mematikan CCTV yang ada di rumah terlebih dahulu.


"Gue terlalu penasaran. Maaf, Mah, Pah..." ungkap Elena. Dia tahu ponselnya disimpan di laci. Elena langsung menyalakan ponsel tersebut.


Ketika ponsel menyala, banyak sekali pesan yang masuk. Elena berniat mencari informasi tentang Iyan. Namun atensinya justru fokus dengan pesan dari Vino tempo hari. Elena segera membuka pesan cowok itu.


'El, lo mau ngomong apa tadi? Telepon gue kalau lo kena marah bokap sama nyokap lo!'


'Handphone lo kok nggak aktif? Ponsel lo disita ya? Oke kalau begitu gue ke tempat lo sekarang.'


Begitulah pesan yang harusnya diterima Elena sebelum Vino menyelinap masuk ke kamar kemarin.


Elena mendengus kasar. Dia lagi-lagi teringat dengan apa yang dilakukannya dengan Vino saat di ranjang.


"Aarghh! Udah, El! Kenapa lo terus mikirin dia sih?" Elena mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Memarahi dirinya sendiri.


Bersamaan dengan itu, bel pintu berbunyi. Elena bergegas membuka pintu.


Orang yang datang adalah Vino. Mata Elena sontak terbelalak.


"Parah! Berani benget lo ke sini!" geram Elena. "Dengar ya! Gue udah nggak berminat lagi ciuman sama lo! Emang lo nggak puas udah dapat ciuman tiga kali dari gue, hah?!" tegasnya. Ia mengira kalau kedatangan Vino ke rumah karena ingin menggodanya lagi.


"El, gue--"

__ADS_1


"Lo pikir gue sudi terus jadi mainan kayak cewek-cewek yang dekat sama lo itu?!" potong Elena.


Vino mengerutkan dahi. Dia segera menengok ke belakang. Ternyata sejak tadi ada Ranti dan Andi di belakangnya. Saking fokusnya dengan Vino, Elena sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka.


__ADS_2