
...༻✫༺...
"Cuman ngumpul kok, Pak." Iyan bergegas membawa Alam berdiri. Merangkul pundak cowok itu layaknya teman akrab. Alam lantas ikut berpura-pura dengan tersenyum. Hal yang sama juga dilakukan Ranti pada Tias.
"Iya, kami lagi diskusikan tugas Bahasa Inggris. Bu Retno kalau ngasih soal susah banget," ujar Ranti yang juga memberi alasan.
"Kembali ke kelas! Bentar lagi bel masuk kelas bunyi!" perintah Pak Gani. Dia menyuruh Vino dan kawan-kawan meninggalkan aula.
"Eh, eh! Itu wajahmu kenapa?" Pak Gani menegur wajah Alam yang terlihat lebam. Itu semua tentu akibat tonjokan dari Vino.
"Aku nggak sengaja jatuh tadi, Pak." Alam terpaksa berbohong. Jika dia mengadu, kemungkinan dirinya akan mendapatkan tinju dari Vino lagi.
Pak Gani mengangguk. Tatapannya segera teralih ke arah Vino. "Vino! Kamu disuruh ke ruang BK!" ujarnya. Lalu beranjak pergi.
Vino mendengus kasar. "Gue belum selesai sama kalian!" tegasnya. Bicara pada Alam dan Tias. Ia segera mendatangi ruang BK.
Karena video tidak senonoh, Vino diberi sanksi. Dia mendapatkan poin minus yang tinggi.
"Apa cuman aku yang dihukum, Pak? Harusnya yang dapat sanksi besar itu penyebar videonya dong!" kata Vino.
"Kami sedang berusaha mencarinya. Bagaimana denganmu? Apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Pak Seno. Karena keberadaannya, guru BK tidak bisa berkutik. Itulah alasan kenapa hukuman yang didapatkan Vino tergolong biasa saja. Meskipun begitu, poin minus yang didapatkannya tentu akan mempengaruhi nilai kelulusan.
"Aku juga sedang mencarinya. Nanti jika sudah yakin, aku pasti akan langsung memberitahu." Vino bangkit dari tempat duduk. Kemudian beranjak dari ruang BK.
Di sisi lain, Ranti dan Andi membawa Tias ke belakang sekolah. Tempat yang tentu saja tidak ada kamera pengawas. Ranti sangat kesal dengan tuduhan yang dibuat Tias.
Ranti mendorong Tias sampai jatuh tersungkur ke lantai. "Beraninya ya lo nuduh gue begitu!" timpalnya.
"Sekarang gue tambah yakin kalau emang lo yang rekam video Vino dan Elena!" sahut Tias.
Plak!
Ranti langsung melayangkan tamparan keras ke pipi Tias. "Bukannya ngaku malah nuduh-nuduh orang!" geramnya.
"Gue emang--"
Plak!
Belum Tias selesai bicara, dia lagi-lagi mendapat tamparan dari Ranti.
"Gue akan laporin ini ke--" Untuk kesekian kalinya Ranti menghentikan ucapan Tias dengan tamparan. Kini sudut bibirnya berdarah.
"Lo harusnya ngaku aja. Dari pada harus disiksa gini," ujar Andi yang sejak tadi menontoni bulian yang dilakukan Ranti.
__ADS_1
"Tolong! Pak! Ibu! To--" Tias berteriak. Namun Andi sigap membekap mulutnya.
"Ck! Sialan banget lo! Pakai teriak segala lagi!" Andi yang kesal, mendorong kepala Tias.
Ranti melipat tangan di dada. Dia tiba-tiba mendapat ide bagus agar bisa membuat Tias mengaku. Tanpa pikir panjang, dia segera bertindak.
"Pegangi dia, Di!" perintah Ranti yang langsung dipatuhi oleh Andi.
Sebelum melakukan rencananya, Ranti membekap mulut Tias terlebih dahulu. Dia mengambil salah satu kaos kakinya dan menyumpalnya ke mulut cewek itu.
"Gila lo, Ran!" tukas Andi.
"Emang lo mau dengar dia teriak lagi?" balas Ranti. Andi lantas menjawab dengan gelengan kepala.
Satu per satu kancing baju Tias dilepas oleh Ranti. Sampai seragam cewek itu benar-benar dilepaskan. Selanjutnya, Ranti melepas rok abu-abu Tias.
"Lo mau telanjangin dia?" tanya Andi. Namun Ranti tak menjawab. Cewek itu terus sibuk menanggalkan pakaian Tias.
Tias hanya bisa menangis. Tangisannya semakin menjadi-jadi saat kain yang ada ditubuhnya tinggal bra dan celana dallam.
Merasa Tias tidak akan melakukan perlawanan, Andi melepaskan cewek tersebut. Tias jatuh terduduk ke lantai. Menutup dadanya dengan dua tangan. Dia juga mengeluarkan kaos kaki yang ada di mulut.
"Gede juga ya," komentar Andi. Atensinya tertuju ke arah buah dada Tias.
Andi terkekeh. Mengira Ranti cemburu. "Lo tenang aja. Gue nggak begitu suka sama yang gede-gede," ucapnya sambil merangkul Ranti.
Ranti memutar bola mata jengah. Dia mengambil ponsel dan merekam Tias yang sedang dalam keadaan setengah telanjang.
"Pegangin!" Ranti menyuruh Andi memegang ponsel yang masih dalam mode merekam. Cewek itu berjalan ke belakang Tias. Mengulurkan tangan untuk melepas pengait bra Tias.
"Jangan! Gue mohon, Ran..." Tias mencoba melawan.
"Jeda dulu, Di!" titah Ranti. Andi lantas menurut.
"Lo kalau nggak mau bra sama celana lo dilepas, mending ngaku sama Vino!" timpal Ranti. Tetapi Tias hanya diam.
"Kalau nggak, video ini gue sebar ke internet!" ancam Ranti.
Tias menggeleng dan terisak. Dia merasa terhina sekaligus tak berdaya. Ingin lari dan berteriak tak bisa. Mengingat keadaannya sedang setengah telanjang sekarang.
"Gimana kalau kita buang aja seragamnya ke luar tembok sekolah?" cetus Ranti.
"Sudah cukuplah, Ran." Andi menarik pinggul Ranti. "Sebarin videonya ke internet udah cukup kok," sambungnya.
__ADS_1
"Jangan... Gue mohon..." ujar Tias putus asa.
"Kalau begitu lo harus ngaku sama Vino kalau lo yang sebar videonya. Lo tenang aja, setelah lo ngaku, gue sama Andi akan melindungi. Anggap aja sebagai penghargaan kami," tukas Ranti seraya melepas tangan Andi dari pinggulnya.
Tias berpikir keras. Karena merasa tertekan, dia akhirnya mengangguk.
Pupil mata Ranti membesar. Dia kesenangan. "Dia ngangguk, Di!" serunya.
Andi ikut senang. Lalu berjalan ke hadapan Tias. "Dengar ya, lo harus pegang janji! Awas aja kalau nggak jadi ngaku ke Vino!" ucapnya.
"Ta-tapi gue perlu waktu..." lirih Tias.
"Oke. Gue kasih lo waktu satu hari." Ranti melempar seragam Tias. Andi langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Kita sebaiknya nyantai dulu di sini," ajak Andi. Dia dan Ranti berciuman bibir.
Sementara Tias, dia bergegas mengenakan kembali pakaiannya. Lalu berlari ketakutan ke toilet. Hal yang paling dia inginkan sekarang adalah bersembunyi.
...***...
Elena baru saja tiba di asrama sekolah yang akan ditinggalinya. Dia diantarkan ke kamar yang sudah disiapkan.
"Ini kamarmu," ujar Bu Rina sembari membuka pintu. Dia merupakan guru sekaligus ketua asrama. Orang yang bertugas mengawasi semua murid di asrama.
Elena melangkah masuk ke kamarnya. Di sana dia disambut oleh teman sekamarnya.
"Kenalkan, nama dia Fida. Teman sekamarmu. Dia juga seumuran denganmu. Jadi aku yakin kalian akan cepat akrab," tutur Bu Rina. "Dan Fida. Namanya Elena. Dia adalah teman sekamar barumu," sambungnya yang kini bicara pada Fida.
Fida dan Elena saling tersenyum untuk menyapa. Mereka masih sama-sama canggung.
Setelah mengantarkan Elena, Bu Rina pamit. Meninggalkan Elena dengan teman barunya.
"Lo cantik banget," puji Fida. Mengutarakan kesan pertama saat dirinya melihat Elena.
"Thanks. Gue harap kita bisa akur ya," sahut Elena.
"Lo nggak punya pacar kan?" tanya Fida.
Dahi Elena berkerut. "Memangnya kenapa?" dia justru berbalik tanya.
"Jadi begini. Orang yang sebelumnya sekamar sama gue punya pacar. Dia sering pergi diam-diam saat malam. Terkadang dia juga membawa pacarnya masuk ke sini," jelas Fida. "Gue cuman mau pastikan kalau kejadian yang sama tidak akan terulang lagi," tambahnya.
Elena tersenyum kecut. "Gue pastikan itu nggak akan terjadi," tanggapnya. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Vino.
__ADS_1
"Lo nggak serahin ponsel lo ke Bu Rina?" timpal Fida. Memergoki Elena menggunakan ponsel.