
...༻✫༺...
Vino menempelkan jidatnya ke dahi Elena. Sama seperti gadis itu, dia juga mengangakan mulut. Semakin mendekat untuk mencium bibir Elena.
Elena yang sudah tak mau menunggu, segera bergerak lebih dekat. Hendak menautkan bibirnya ke mulut Vino. Sialnya cowok itu tiba-tiba menjauh.
"Kalau kita ciuman sekarang, maka gue pengen lebih dari sekedar itu," ucap Vino. Dia terus melangkah mundur menjauhi Elena. "Dan sekolah bukan tempat yang tepat untuk melakukannya pertama kali," sambungnya. Vino tak lupa tersenyum. Lalu beranjak pergi begitu saja.
Elena membeku di tempat. Dia menutup wajahnya dengan dua tangan. Lagi-lagi Elena dibuat malu setengah mati oleh Vino. Ia keluar dari gudang saat bel pertanda masuk kelas terdengar.
Sementara itu Vino, dia menyandar di balik dinding tempat pertemuannya dengan Elena tadi. Cowok tersebut segera pergi setelah Elena keluar dari gudang.
Elena masuk ke kelas dengan tergesak-gesak. Ia terus menggeleng agar melupakan segala hal tentang Vino. Dirinya ingin fokus belajar.
Mulai sekarang, Elena tidak lupa mengunci jendelanya sebelum tidur. Ia juga meminta orang tuanya untuk menambah kamera pengawas di beberapa tempat. Hingga Vino tidak akan pernah bisa lagi menyelinap ke kamarnya.
Benar saja, perbuatan Elena membuat Vino kesulitan menyelinap masuk. Di suatu malam dia mencoba datang lagi. Namun kali ini Vino tidak bisa masuk ke kamar Elena dengan mudah.
Vino menyandar ke depan pagar saat mengetahui CCTV di rumah Elena sudah bertambah. Dia tergelak sendiri ketika mengetahui hal itu.
"Sialan!" umpat Vino sembari menutupi kepala dengan tudung jaket. Dia terpaksa kembali pulang. Dirinya pergi ke apartemen mewah pribadinya. Bagi Vino itu terasa membosankan. Ia merindukan Elena.
Vino mengambil ponsel. Dia menghubungi Elena. Namun panggilannya sudah lebih dulu dimatikan secara sepihak cewek tersebut.
Karena tidak dijawab, Vino tak punya pilihan selain mengirim pesan. Tetapi nasibnya lagi-lagi sama seperti panggilannya. Yaitu diabaikan mentah-mentah.
"Dasar cewek baper," gumam Vino sembari memutar bola mata jengah. Dia lantas menelepon Andi.
__ADS_1
"Kenapa, Vin?" tanya Andi dari seberang telepon.
"Gue mau serbuk itu lagi. Kasih tahu gue nomor telepon langganan lo," ujar Vino.
"Ketagihan ya lo?" tanggap Andi.
"Nggak usah banyak bacot. Gue lagi sumpek sekarang." Vino langsung mematikan telepon lebih dulu. Dia memang selalu merasa gelisah jika dijauhi Elena.
Empat hari terlewat. Selama itu juga Elena berhasil menjauhi Vino. Cewek tersebut selalu berhati-hati. Ia juga terus ditemani Ranti atau teman perempuan lain jika pergi ke toilet. Hingga Vino benar-benar tidak bisa mendekat, apalagi menyentuhnya. Elena benar-benar membuat tameng perlindungan yang kokoh dari Vino.
Ketika hari terakhir ulangan tiba, Vino berniat mentraktir teman-temannya makan di restoran. Sekarang dia, Andi, dan Iyan berdiri menunggu di depan gerbang. Ranti menjadi orang paling terakhir bergabung.
"Oke, cewek gue udah datang. Ayo kita pergi!" seru Andi antusias.
"Kita ajak Elena juga," ujar Vino sembari terus memandangi kelas Elena. Menunggu cewek itu muncul.
"Andi benar, Vin. Gue yakin Elena--"
"Di sini kan gue yang traktir kalian. Kenapa kalian yang ngatur?! Terserah gue mau ngajak Elena atau nggak!" potong Vino dengan mata melotot. Andi dan Iyan sontak diam dan tertunduk. Bagi mereka Vino adalah seorang bos yang tak bisa dilawan.
Elena terlihat baru saja keluar, Vino bergerak. Dia segera berjalan menghampiri cewek itu.
Mata Elena membulat sempurna ketika melihat Vino berjalan ke arahnya. Dia jadi gelagapan. Mengedarkan pandangan ke segala arah karena panik. Sampai sosok Rendi yang kebetulan keluar kelas terlihat oleh Elena.
"El, gue--"
"Rendi!" panggil Elena. Memotong perkataan Vino. Dia langsung berlari ke arah Rendi. Lalu memegangi lengan cowok tersebut.
__ADS_1
"Elena? E-elo kenapa?" gagap Rendi yang gugup karena dipegang Elena.
"Lo mau temenin gue sampai sopir gue datang nggak?" ujar Elena.
"Temenin? Kenapa?" tanya Rendi bingung.
"Gue akhir-akhir ini paranoid sama penjahat kelamin," jawab Elena sambil menatap Vino. Seolah-olah sesuatu yang dibicarakannya adalah cowok itu.
Vino tercengang akan sikap Elena. Cewek tersebut benar-benar menghindarinya habis-habisan. Kini Vino yang dibuat kelimpungan oleh Elena.
...***...
Saat sudah berhasil pergi dari sekolah, Elena mendengus lega. Dia merasa hari-harinya terasa lebih normal saat menjauh dari Vino. Elena tambah bahagia ketika kedua orang tuanya mengajak pergi ke pesta besok malam.
Acara pesta yang dinanti Elena tiba. Dia mengenakan gaun terbaiknya untuk pergi ke sana. Elena memakai gaun hitam selutut. Ia mengenakan make up tipis dan menggerai rambutnya. Kecantikan gadis itu semakin terpancar jika sudah berdandan.
"Anak Mamah cantik banget," puji Rika saat melihat Elena. Mereka sudah berada di mobil. Dalam perjalanan menuju rumah tempat pesta diselenggarakan.
"Siapa dulu dong Papahnya. Aku kan?" tanggap Arya.
"Dih! Papahmu lagi berlagak, El!" sinis Rika. Dia dan Elena lantas tergelak bersama.
Sungguh, Elena merasa sangat bahagia sekarang. Sudah lama dia tidak merasakan kedekatannya bersama Rika dan Arya seperti ini.
Senyuman terus mengembang di wajah Elena. Namun senyumannya langsung pudar saat mobil berhenti di tempat tujuan. Bagaimana tidak? Mobilnya berhenti di depan rumah Vino. Ternyata tempat pesta diselenggarakan adalah di rumah cowok tersebut.
'Sial! Selama beberapa hari ini gue berusaha jauhin singanya. Gue nggak mau terperangkap dalam kandangnya,' keluh Elena dalam hati. Ia harus berbuat sesuatu.
__ADS_1