
...༻✫༺...
Setelah melihat rekaman CCTV, Vino berniat ingin berhadapan langsung dengan Alam dan Tias. Namun dia merasa juga perlu memberitahukan informasi itu kepada Elena.
Vino lantas mengirim pesan. Memberitahu Elena perihal keterlibatan Alam dan Tias terhadap video yang tersebar.
"Gimana? Kapan lo mau bicara sama mereka, Vin?" tanya Andi.
"Istirahat kedua aja. Lebih sepi. Bawa mereka ke aula lama sekolah!" perintah Vino. Dia dan yang lain segera beranjak dari ruang keamanan.
Ketika istirahat kedua tiba, Vino sudah menunggu lebih dulu di aula. Sementara semua temannya mendapat tugas untuk membawa Tias dan Alam ke aula. Iyan dan Andi, menjemput Alam, sedangkan Ranti bertugas membawa Tias.
Di sisi lain, Elena baru saja tiba di rumah. Dia pulang setelah mengunjungi sekolah barunya. Saat di kamar, Elena membuka pesan Vino.
"Alam dan Tias?" dahi Elena berkerut. Diam-diam dia segera menelepon Vino.
"El!" Vino menyahut penuh semangat.
"Dari mana lo tahu kalau pelakunya Tias dan Alam?" tanya Elena.
"Tadi kami cek CCTV, dan mereka adalah dua orang yang terlihat pergi ke tempat kita berdua sedang berciuman saat itu," jelas Vino.
"Benarkah? Jika begitu, kenapa mereka tega melakukan itu?" Elena percaya saja pada Vino.
"Itulah yang gue mau cari tahu juga. Sekarang Andi dan Iyan lagi cari mereka. Lo mau ketemu sama mereka juga? Secara ini hak lo juga. Karena yang paling dirugikan lo di sini."
"Gue pengen. Tapi gimana?"
"Gue akan pikirkan itu nanti. Sampai ketemu."
"Oke." Pembicaraan Elena dan Vino berakhir. Elena mendengus kasar. Dia menghempaskan tubuh ke ranjang. Dirinya tentu penasaran alasan utama kenapa Tias dan Alam tega merekam videonya dan Vino.
Di waktu yang sama, Andi, Iyan, dan Ranti datang ke tempat dimana Vino berada. Mereka tentu membawa Alam dan Tias ke hadapan Vino.
"Kenapa gue diseret begini?" Tias yang tak mengerti, melakukan protes. Dia risih dengan paksaan Ranti. Di akhir Tias didorong dan terjatuh tepat di bawah kaki Vino.
__ADS_1
Sementara Alam, dia tampak lebih tenang dibanding Tias. Mengingat Alam sudah terbiasa mendapat bulian Vino dan kawan-kawan. Cowok berbadan gempal itu dipaksa duduk bersimpuh di lantai. Tepat di sebelah Tias.
"Gue baru cek CCTV. Dan salah satu dari kalian terlihat muncul dari tempat gue dan Elena ciuman saat itu. Jadi kalian sebaiknya ngaku! Kalian kerjasama, atau salah satu dari kalian yang melakukannya?!" tukas Vino sembari menatap tajam Alam dan Tias.
"Lo nuduh gue yang rekam video lo sama Elena itu?" Tias tercengang. Dia yang merasa tidak melakukannya, tentu merasa tak percaya dengan perkataan Vino.
"Bukan gue, Vin. Lo tahu gue nggak akan berani melakukan itu." Alam langsung membantah.
"Jadi kalian nggak mau ngaku?" tanggap Vino.
Tias terperangah. "Gue bukannya nggak mau ngaku. Pada kenyataannya gue emang nggak melakukan apa yang lo tuduh itu! Lagi pula jalan menuju laboratorium itu juga menuju ke toilet. Gue selalu lewat sana kok!" tegasnya. Lalu segera menoleh ke arah Alam. "Mungkin Alam yang melakukannya!"
"Apa?! Bukan gue! Sumpah!" Alam menggeleng kuat. Kemudian menatap Vino. "Gue berani sumpah, Vin! Bukan gue yang rekam video itu!" ujarnya tak mau disalahkan.
"Alah! Pinter banget kalian ngelesnya ya. Kayak aktor di sinetron aja!" Andi mendorong kepala Alam dengan kasar. Hingga cowok itu terhuyung ke depan.
Ranti segera ikut beraksi. Ia menarik helaian rambut Tias. Sampai kepala cewek itu mendongak.
"Aaaa! Sakit!!" rintih Tias.
"Ranti!" pekik Vino seraya menarik tangan Ranti. Rambut Tias pun terlepas dari cengkeraman cewek tersebut.
"Lo kenapa?!" protes Ranti.
"Lo yang kenapa?!" balas Vino sambil menghempaskan tangan Ranti. "Mereka belum ngaku loh! Pemanasan aja belum, lo kenapa udah nyiksa aja?! Lagian ini masalah gue, kenapa lo yang sok-sokan marah-marah?!" timpalnya.
"Vin, Ranti itu cuman mau bantuin lo doang. Kenapa lo malah marah?!" Andi yang tak terima pacarnya dimarahi, segera melakukan perlawanan. "Lagian udah jelas rekaman CCTV itu membuktikan kalau mereka adalah pelakunya!" sambungnya.
"Udah, Di. Gue setuju sama Vino. Ini baru awal, kita juga belum dapat keterangan lebih jelas dari mereka. Mungkin aja bukan mereka yang rekam video itu." Iyan sependapat dengan Vino.
"Terus siapa, Yan?! Berpikir cara cari pelakunya aja lo nggak mampu!" pungkas Ranti.
"Mu-mungkin dari orang terdekat." Tias memberanikan diri angkat bicara. Dia menatap Vino. "Gue nggak bermaksud pengen menghancurkan persahabatan kalian. Tapi biasanya hal seperti ini bisa juga dilakukan sama orang terdekat kita," ungkapnya.
Mendengar hal itu, Ranti dan Andi bertukar pandang. Posisi mereka terpojok sekarang.
__ADS_1
Vino terdiam. Ia menatap ketiga temannya satu per satu. Saat itulah Andi angkat bicara.
"Lo keterlaluan kalau nuduh kami, Vin. Kami bahkan udah bantuin lo sejauh ini," ucap Andi.
"Kalau lo nggak percaya sama kami, lo bisa cari tahu sendiri siapa perekam video itu," imbuh Ranti. Masih berusaha menutupi kesalahannya.
Setelah mendengar bantahan dari Ranti dan Andi, Vino menatap Iyan. Cowok itu terlihat menggelengkan kepala.
"Gue banyak hutang sama lo, Vin. Uang, jasa, tempat tinggal... Mana mungkin gue khianatin lo," kata Iyan tenang. Dia justru menatap selidik ke arah Ranti dan Andi secara bergantian. Entah kenapa Iyan merasa ada yang aneh dengan tatapan pasangan kekasih itu.
"Aaarghh!!!" Vino kesal. Dia menggeram sambil menendang sebuah kursi sampai tumbang. Setelah itu, Vino menarik kerah baju Alam. "Lo mending sekarang jujur sama gue!" tukasnya.
"Gu-gue benar-benar nggak--" belum sempat Alam bicara, bogem Vino mendarat ke wajahnya. Alam jatuh tersungkur ke lantai. Tias yang menyaksikan sontak ketakutan.
"Vin... Lo tahu gue cinta sama lo. Gue nggak mungkin melakukan sesuatu yang merugikan lo," mohon Tias sembari meraih salah satu tangan Vino.
"Justru rasa cinta itu yang bikin gue tambah curiga sama lo!" Vino mendorong Tias sampai terjatuh. Cewek itu akhirnya menangis.
Ranti diam-diam tersenyum. Bersamaan dengan itu, Tias berhasil melihatnya tersenyum. Dari sana Tias yakin kalau Ranti bisa jadi adalah dalang dibalik deritanya sekarang.
"Lo kan?!" pekik Tias. Semua orang seketika terdiam. Tias segera berdiri ke hadapan Ranti.
"Apaan sih!" Ranti meringis jijik.
Tias menoleh ke arah Vino. "Dia orangnya, Vin! Gue yakin dia yang rekam video lo sama Elena!" tuduhnya sembari menunjuk Tias.
Andi tidak membiarkan Ranti terpojok. Ia langsung melakukan pembelaan. "Jangan didengerin! Jelas dia ngarang. Masa nggak ada angin, nggak ada hujan dia tiba-tiba nuduh Ranti?"
"Gue serahin semuanya ke Vino. Gue terima anggapan dia sama gue kayak apa." Ranti berpura-pura pasrah.
"Gue tadi lihat dia senyum, Vin! Pas lo tonjok Alam tadi." Tias mengadukan apa yang dilihatnya.
Ranti yang mendengar dibuat geram. Dia sangat ingin memberi Tias pelajaran. Tetapi harus ditahan agar Vino mempercayainya.
Vino mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menyangka pencarian pelaku perekam video akan menimbulkan perang batin.
__ADS_1
"Kalian ngapain di sini?" Pak Gani tiba-tiba datang.