Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 69 - Kedatangan Alam


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena menanti kedatangan Vino. Namun cowok itu tidak kunjung datang. Dia bahkan sempat tertidur dalam beberapa saat.


Suara ketukan mendadak terdengar. Elena lantas membuka pintu. Dia menemukan Bu Rina mendatanginya. Bu Rina memberitahu kalau ada seseorang yang mencari Elena.


"Katanya dia sepupumu," ujar Bu Rina.


"I-iya, Bu. Besok kebetulan ada acara keluarga," kilah Elena. Dia yakin orang yang datang menemuinya adalah Vino.


Betapa terkejutnya Elena saat melihat cowok yang datang. Dia ternyata Alam. Kelopak mata Elena melebar. Ia tidak tahu kenapa cowok bertubuh gempal itu menemuinya.


"Ibu tinggal ya. Kalian bicara saja," ujar Bu Rina sembari beranjak. Kini tinggal Elena dan Alam berduaan duduk di ruang tamu.


"Lo ngapain ke sini? Gue kira tadi Vino," kata Elena. Masih merasa heran.


"Maaf kalau kedatangan gue mendadak. Soalnya ada hal penting yang pengen gue bicarakan. Ini terkait video lo sama Vino," jelas Alam. Dia sejak tadi menundukkan kepala. Tidak kuasa menatap ke arah Elena.


"Iya. Kenapa? Lo tahu siapa penyebar video itu yang sebenarnya?" tanya Elena.


"Lo tahu kalau penyebarnya bukan Tias?" tanggap Alam.


"Tias yang kasih tahu gue," sahut Elena.


"Orang yang sebar video lo sama Vino adalah Ranti dan Andi. Gue dengar mereka membahas video lo sama Vino pas di belakang sekolah. Andi dan Ranti sengaja jadiin Tias kambing hitam mereka," ungkapnya.


"Apa?!" Mata Elena membulat sempurna.


"Lo harus percaya sama gue kalau mau membantu Tias. Dia sekarang tertekan banget, El. Wajahnya pucat pas di sekolah tadi."

__ADS_1


"Kenapa Tias nggak laporin aja kelakuan Ranti dan Andi. Lo juga! Kenapa nggak dilaporkan ke guru?"


Alam menggeleng. "Untuk murid lemah dan kurang mampu seperti kami nggak bisa melakukan apapun. Apalagi Ranti punya kartu As milik Tias. Gue nggak tahu itu apa. Tapi kayaknya sesuatu hal yang kuat dan berdampak banget buat Tias," terangnya panjang lebar.


Elena membisu. Perlahan matanya berkaca-kaca. Dia tidak menyangka Ranti tega berbuat begitu kepadanya. Apalagi sampai menyalahkan orang lain atas kejahatan yang sudah diperbuat.


"Gue ke sini karena merasa lo satu-satunya yang mau percaya," imbuh Alam. Ia akhirnya memberanikan diri menatap Elena. Dirinya baru sadar kalau wajah cewek tersebut tampak sedikit pucat.


"Lo sakit, El?" tanya Alam.


"Enggak." Elena lekas menggeleng. Dia terpikir ingin menemui Vino secepat mungkin. "Ayo kita temui Vino!" ajaknya sembari berdiri.


"Vino tadi nggak ke sekolah," ujar Alam.


"Kalau begitu gue yakin dia di rumah sekarang. Gue minta izin dulu ya. Lo tunggu di luar!" suruh Elena. Dia segera meminta izin pada Bu Rina untuk pergi dari asrama. Dengan alasan ingin mengurus acara keluarga.


Kini Elena dan Alam berada di taksi. Dalam perjalanan menuju rumah Vino.


Alam tersenyum tipis. "Menyamar jadi keluarga emang selalu berhasil," sahutnya.


Elena membalas senyuman Alam. Membuat cowok itu tersipu malu. Jujur saja, Alam sangat gugup. Sebab dia duduk sangat dekat dengan cewek yang disukainya sejak lama.


"Huek!" tiba-tiba Elena merasakan mual kembali. Alam sontak khawatir.


"El! Lo nggak apa-apa?" tanya Alam.


"Kenapa, Dek? Mabuk mobil ya? Mau kantong plastik?" tawar sopir taksi yang juga cemas.


"Nggak usah. Aku nggak apa-apa," sahut Elena sambil mencoba menenangkan diri.

__ADS_1


Di sisi lain, Ranti baru saja beranjak dari sekolah. Dia tidak bisa menemukan Tias karena seluruh murid di sekolah sudah banyak yang pulang.


Ranti kembali ke rumah Vino. Dia tiba lebih dulu dibanding Elena dan Alam.


"Mungkin gue nggak usah kasih pelajaran langsung." Ranti mengambil ponselnya ke saku rok abu-abu. Dia kali ini menyebarkan video bugil Tias yang sempat di ambilnya tempo hari.


Setelah melakukan sesuatu yang membuatnya lega, Ranti bergabung bersama Vino. Cowok itu mulai pulih dari mabuk. Tetapi masih menyandar di sofa. Penglihatannya masih agak samar.


Sementara Andi dan Iyan, tidak terlihat keberadaannya. Ranti memanfaatkan itu untuk duduk ke atas pangkuan Vino. Ia memegang wajah cowok tersebut.


Vino mengerjap pelan. Berusaha mengenali cewek yang sekarang duduk di atas pahanya.


"Elena?" terka Vino.


"Vino..." Ranti sengaja meniru suara Elena. Ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Tanpa pikir panjang, dia memagut bibir Vino.


Karena mengira Ranti adalah Elena, Vino membalas ciumannya. Bertepatan dengan itu, Elena dan Alam datang. Mereka diperbolehkan masuk oleh satpam karena Elena yang diketahui beberapa kali datang ke rumah Vino.


Elena melangkah masuk melewati pintu bersama Alam. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan pemandangan kurang mengenakkan di sofa. Dia dapat melihat jelas bibir Vino dan Ranti menyatu.


Alam melirik Elena. Memastikan cewek itu baik-baik saja. Elena terlihat mematung sembari memasang tatapan getir.


"Bangsaaat!!!" suara umpatan terdengar dari sebelah kanan. Dia tidak lain adalah Andi. Teriakannya mengharuskan Ranti menghentikan ciumannya. Saat itulah Andi menarik kerah baju Vino. Memukulinya hingga membuat Vino mulai sepenuhnya sadar. Cowok itu bahkan bisa melihat kehadiran Elena.


"Elena..." lirih Vino. Tampilannya benar-benar kacau. Mata merah dengan tatapan tidak fokus, mengindikasikan bahwa dia sedang mabuk berat.


Elena mundur satu langkah. Dia merasa tidak mengenal Vino sama sekali. Beberapa tetes air mata Elena bahkan terjatuh. Dirinya menjadi takut ketika melihat Vino mulai murka dengan serangan Andi. Suasana benar-benar kacau sekarang. Pertengkaran Andi dan Vino berlanjut.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Yang merasa nggak sanggup lagi baca ceritanya bisa stop aja. Karena dari awal aku sudah bilang seri kedua akan lebih gelap dari yang pertama. Author juga nggak akan merubah alurnya. Semua sudah aku atur sebelum nulis cerita ini... 🙂


__ADS_2