Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 64 - Cowok Ganteng Nyasar


__ADS_3

...༻✫༺...


Vino memperhatikan bangunan asrama di depannya. Memikirkan harus mulai pencarian dari mana.


"Coba telepon Elena lagi," saran Iyan.


"Sudah. Tetap nggak aktif!" sahut Vino dengan raut wajah cemberut. "Sekarang kita mending periksa kamarnya satu per satu," ajaknya.


Vino memilih kamar terdekat untuk didatangi. Diam-diam mengintip dari jendela. Setelah tidak melihat Elena di sana, Vino memeriksa kamar lainnya. Hal serupa juga dilakukan Iyan. Untuk sekarang keberadaan mereka tidak diketahui siapapun.


"Semua kamar di lantai bawah udah kita periksa. Sepertinya kamar Elena ada di lantai dua atau tiga. Ini kita belum periksa kamar bagian kanan loh," ucap Iyan yang merasa lelah lebih dulu.


Berbeda dengan Vino, tanpa pikir panjang dia langsung memanjat ke lantai dua. Ia sekarang berada di balkon salah satu kamar. Sedangkan Iyan masih di bawah. Tidak seperti Vino yang lihai, dirinya kebingungan memanjat ke lantai dua.


Saat mencoba memeriksa, pintu balkon dibuka oleh pemilik kamar. Dia tidak lain adalah Riani. Untung saja cewek itu tidak berteriak. Ia hanya menunjukkan ekspresi kaget.


Vino reflek meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Lalu bertanya, "Lo tahu anak baru yang namanya Elena?"


"Elena?" Riani memastikan. Vino lantas menjawab dengan anggukan.


"Iya, tahu. Kami teman dekat malah. Lo pacarnya?" tebak Riani.


Vino mengangguk. "Lo tahu kamar Elena dimana?" tanyanya.


"Tahu! Tapi--"


"Bagus! Kalau begitu kasih tahu gue!" potong Vino tak sabar.


"Gimana kalau gue yang bawa Elena keluar dari kamar? Lo tunggu di sini aja. Soalnya Elena bisa kena masalah kalau ketahuan bawa owok. Teman sekamar dia agak nyebelin," jelas Riani sambil menengok ke belakang. Memastikan kamar sekamarnya tertidur.

__ADS_1


"Ya sudah. Gue tunggu. Thanks ya!" Vino setuju. Riani lantas pergi.


"Wajarlah Elena punya cowok seganteng itu," komentar Riani sambil berjalan keluar dari kamarnya.


...***...


Sekarang jam tidur sudah lewat. Fida telah tertidur di ranjang. Saat itulah Elena mengambil ponsel dari lemari.


Bersamaan dengan itu, suara ketukan pelan terdengar. Elena yang heran, membuka pintu. Dia melihat Riani ada di depan mata. Temannya tersebut memberitahukan mengenai kedatangan Vino.


"Apa?! Lo yakin dia pacar gue?" Elena merasa tak percaya. Dia menutup pintu dan bicara dengan nada berbisik.


"Dia ngakunya begitu sih," sahut Riani sembari melirik ke kamera CCTV yang ada di sudut atas. Lalu menatap Elena kembali. "Pacar lo ganteng banget. Makin iri gue," ungkapnya.


Elena tersenyum. Sekarang dia yakin cowok yang datang memang adalah Vino. Elena dan Riani segera pergi.


"Lo harus pura-pura ke kamar gue. Terus kita keluar lewat balkon," bisik Riani. Dia menyarankan itu agar CCTV tidak menangkap kepergian Elena.


Di balkon, Vino terlihat cemberut. Elena segera bergabung dengannya.


"Gue tinggal ya, El. Jangan berisik!" ucap Riani sambil menutup pintu serta gorden balkon.


"Thanks ya, Ri!" kata Elena. Dia mengalihkan pandangan ke arah Vino.


"Kenapa ponsel lo nggak aktif?" timpal Vino.


"Sorry, pakai handphone nggak semudah itu di sini," sahut Elena. Dia berhasil menyadari kehadiran Iyan ketika menengok ke bawah. Cowok tersebut tersenyum dan melambaikan tangan.


"Lo ajak Iyan juga?" tanya Elena.

__ADS_1


"Terpaksa. Karena gue butuh bantuan buat cari kamar lo," jawab Vino yang masih tampak marah.


"Udah deh... Masa cowok ngambek. Gue kan udah minta maaf," tutur Elena seraya memegang pindak Vino.


"Kenapa lo harus pindah sekolah sih?" tanggap Vino.


Elena tersenyum. "Kenapa? Menderita sama yang namanya kangen?"


"Sekolah jadi sepi karena nggak ada lo," ungkap Vino dengan raut wajah tak acuh. Ia bahkan membuang muka. Mungkin Vino ingin mengatakan kalau dirinya sangat merindukan Elena. Namun terlalu gengsi untuk menyatakannya secara langsung. Jadi dia hanya mengucapkan kalimat-kalimat kode.


Elena terkekeh. Dia merasa gemas. Perlahan Elena memutar kepala Vino menghadapnya. Lalu memberikan kecupan singkat ke bibir.


"Bentar banget sih," keluh Vino. Dia ingin mencium Elena lebih lama.


"Dasar nafsuan!" cibir Elena. Meskipun begitu, dia memagut bibir Vino. Keduanya lantas berciuman lebih lama.


Tanpa diduga, Elena menjadi orang yang lebih bergairah. Ciuman panasnya bahkan membuat Vino terpojok ke depan pagar balkon.


Vino mendorong Elena. Hingga mereka berhenti berciuman. "Lihat sekarang siapa yang nafsuan!" tukasnya.


Elena tak menanggapi. Dia menarik kerah baju Vino dan kembali berciuman.


Di bawah Iyan bisa melihat segalanya. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia merasa agak kesal melihat kemesraan Elena dan Vino. Iyan semakin kesal saat Vino mengajak Elena pergi ke mobil.


"Yan! Lo jaga di luar!" perintah Vino yang sudah berada di mobil bersama Elena.


Iyan mengangguk malas. Dia mendengus dan menyalakan sebatang rokok. Memasang mimik wajah kesal saat mendengar suara lenguhan dan pergerakan mobil di belakang. Alasan utama Iyan merasa kesal karena dia merasa keberadaannya tidak dianggap. Baik oleh Vino dan Elena.


Satu malam telah terlewat. Di pagi hari Vino bersiap untuk sekolah. Dia baru selesai mandi dan masuk ke walk in closet. Mata Vino terbelalak saat melihat Iyan ada di dalam sana.

__ADS_1


"Lo ngapain?" timpal Vino. Kaget melihat Iyan mengenakan celana dallam miliknya.


__ADS_2