Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 37 - Mengintip [+Bonus Visual]


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena melangkah lebih dulu menuju ruang guru. Akan tetapi Vino tiba-tiba menarik tangannya. Membawa Elena berbelok ke jalan lain.


"Eh, ruang guru kan di sana!" seru Elena. Meskipun begitu langkah kakinya bergerak untuk mengikuti Vino.


"Gue tahu." Vino menjawab sambil terus berlari. Sampai dia dan Elena memasuki sebuah ruangan. Tempat yang jauh dari keramaian dan jarang didatangi jika tidak ada jam belajar. Yaitu ruang laboratorium Biologi.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Elena dengan dahi berkerut.


"Menurut lo?" jawab Vino. Ia melepas tangan Elena. Lalu berbalik menghadap cewek itu. Hingga menyudutkannya ke depan sebuah lemari dua pintu.


Vino menempelkan jidatnya ke dahi Elena. Memancarkan tatapan lekat.


Elena terperangah. Dia sekarang mengerti kenapa dirinya dan Vino tidak jadi ke ruang guru.


"Oh, jadi mengenai Bu Siska tadi cuman akal-akalan lo pengen kabur dari Andi, Iyan, dan Ranti?" Elena menyimpulkan.


"Ya bisa dibilang begitu," sahut Vino.


Elena memajukan bibir bawahnya. Dia mendorong dada Vino. "Kasih gue nafas. Mepet-mepet aja lo," timpalnya.


"Kan lebih enak mepet-mepet," balas Vino. Sejak tadi dia tidak mengalihkan atensinya dari Elena. Hal itu membuat jantung Elena berdebar tida karuan. Dia juga jadi salah tingkah.


"Jangan tatap gue begitu," tukas Elena.


Vino justru terkekeh. Sampai memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Dia semakin membuat Elena gerah ketika melepas bajunya. Tampilan Vino kini bertelanjang dada dan hanya berbalutkan celana pendek olahraga basketnya.


Elena telan ludah sendiri. Meskipun begitu dia mencoba menghentikan niat Vino. Mengingat mereka berada di lingkungan sekolah sekarang.


"Jangan gila. Kita lagi ada di sekolah," ucap Elena sembari melipat tangan ke dada. Ia masih di posisi awal. Menyandar ke depan lemari dua pintu.


Vino berdiri sangat dekat. Kedua tangannya menopang ke lemari. Seolah mengurung cewek itu di sana.


"Kalau gue nggak kuat gimana?" desis Vino. Matanya terus menatap bibir Elena.


"Ya ditahan," sahut Elena. Dia menahan dada Vino dengan tangan agar cowok tersebut tidak mendekat.


"Sama aja. Gue udah nggak tahan." Vino meraih salah satu tangan Elena. Kemudian meletakkan tangan cewek itu ke bagian tubuh bawah perutnya.


Mata Elena membulat. Dia dapat merasakan organ intim Vino yang sudah mengeras. Elena tergelak kecil. "Sejak tadi?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, padahal gue cuman meluk lo doang. Lo sekarang harus tanggung jawab," ujar Vino yang kian mendekat.


"Nggak bisa, Vin. Bisa gawat kalau ketahuan." Elena berusaha menahan diri.


"Jadi lo nggak mau?" Vino melangkah mundur untuk menjauh dari Elena. Dia membuang muka. "Pinjam ponsel lo," pintanya seraya membuka lebar telapak tangan.


"Mau ngapain?" tanya Elena. Dia menyerahkan ponselnya pada Vino.


"Karena lo nggak mau, gue minta bantuan cewek lain aja," jelas Vino.


Elena langsung mengambil kembali ponselnya. Dia terlihat cemberut. "Gila lo!" cibirnya.


Elena meletakkan ponsel ke meja. Lalu memegangi wajah Vino. Ia memadukan mulutnya dengan bibir cowok itu. Apa yang di inginkan Vino dikabulkan oleh Elena. Cewek tersebut segera melepas seragam putihnya.


Di sisi lain, Ranti sedang berlari kecil ke ruang guru. Setelah mendengar apa yang dikatakan Andi, dia langsung pergi. Perasaannya dirundung gelisah.


Setibanya di ruang guru, Ranti tidak melihat Elena dan Vino. Bu Siska bahkan tampak mengobrol dengan guru lain.


"Bu Siska!" panggil Ranti sembari menghampiri sang guru.


"Iya?" Bu Siska lantas menatap Ranti.


Bu Siska mengernyitkan kening sambil menggeleng. "Nggak ada tuh."


"Nggak ada sama sekali?"


"Iya, nggak ada. Memangnya kenapa?"


Kini jelas sudah kalau apa yang dikatakan Vino tadi adalah kebohongan. Dada Ranti rasanya ada sesuatu yang mengganjal kuat. Dia yakin Vino dan Elena sedang berduaan di suatu tempat.


"Enggak apa-apa, Bu. Aku kayaknya dikerjain mereka." Ranti segera pamit dari ruang guru. Dia memutuskan untuk mencari Elena dan Vino.


Tempat pertama yang dikunjungi Ranti adalah aula lama sekolah. Dia tahu itu adalah lokasi yang sering dikunjungi Vino. Sayangnya, Ranti tidak menemukan siapapun di sana.


Usai memeriksa aula, Ranti pergi ke tempat lain. Karena rasa penasaran yang memuncak, dia sampai keliling sekolah untuk mencari.


Hingga tibalah Ranti di laboratorium tempat Elena dan Vino berada. Langkahnya terhenti saat berdiri di depan pintu. Dari sana dia dapat mendengar sayup-sayup suara perempuan mengerang.


Dengan pelan Ranti mendekati pintu. Dia mencoba mengintip melalui celah. Mata Ranti memang tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam. Sebab celah pintu yang ada tidak menjangkau seluruh ruangan di laboratorium. Meskipun begtu, telinga Ranti dapat mendengar jelas suara Elena. Cewek tersebut sesekali memanggil nama Vino dengan nada suara seperti akan kehabisan nafas. Selain itu, Ranti juga mendengar suara samar desisan lelaki yang mengiringi Elena.


Ranti mengusap kasar wajahnya. Dia memang bisa mendengar suara dari dalam laboratorium. Tetapi suara tersebut tidak cukup membuktikan kalau orang yang di dalam adalah Vino dan Elena.

__ADS_1


Alhasil Ranti mencari tahu dengan cara lain. Dia melihat ada jendela setinggi empat meter. Untuk mencapai jendela itu, Ranti mencoba mencari sesuatu. Ia berjalan mengelilingi laboratorium.


Ranti berhasil menemukan kursi tak terpakai di belakang laboratorium. Ia langsung menggunakan benda tersebut untuk menggapai jendela. Dirinya memilih jendela terdekat. Yaitu jendela yang ada di belakang laboratorium. Sungguh, perjuangannya untuk mencari tahu sangatlah gigih.


Dengan hati-hati Ranti mengintip ke dalam laboratorium. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan orang yang ada di dalam adalah Vino dan Elena. Ranti semakin terkejut saat melihat keduanya tidak sekedar berciuman, tetapi juga melakukan hubungan intim.


Keadaan Vino dan Elena tampak setengah telanjang. Keduanya sama-sama melepas celana dallam. Elena duduk di atas meja. Membiarkan Vino terus menggaulinya dari depan.


Ranti membekap mulutnya sendiri. Dia segera turun dari kursi karena tidak sanggup lagi melihat. Ranti berakhir terduduk di lantai. Ia memasang tatapan kosong. Sakit! dirinya benar-benar sakit hati.


Tubuh Ranti bergetar. Dia mengepalkan kedua tangannya begitu erat.


"Awas kau, Elena!" Kemarahan Ranti hanya tertuju untuk Elena.


..._____...


...Bonus Visual...



..._____...



..._____...



..._____...



..._____...



..._____...


Catatan Author :


Setidaknya begitu visual karakter-karakter di novel ini. Aku juga mau ralat kalau Elena rambutnya panjang dan bukan pendek. Kalau ada yang nggak srek, bisa bayangan visual masing-masing aja ya...

__ADS_1


__ADS_2