Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 67 - Patah Hati


__ADS_3

...༻✫༺...


"Gimana nih? Elena bawa Tias tuh. Nggak jadi kan kita kasih pelajaran," cetus Andi seraya mendengus kecewa.


"Tenang aja kali. Kan kita masih bisa ketemu Tias di sekolah. Mungkin dia selamat dari kita sekarang. Tapi nggak tahu kalau besok," sahut Ranti. Dia berjalan ke sebelah Vino.


Andi yang melihat, mengerutkan dahi. Ia tentu takut Ranti masih mempunyai rasa dengan Vino.


"Mending kita ke klub aja malam ini. Gue yakin lo pasti butuh pengalihan kan, Vin?" ujar Ranti.


Vino tidak menanggapi. Ia melangkah cepat menuju rumahnya. Vino benar-benar kecewa dengan Elena.


"Vino kayaknya sekarang butuh waktu sendiri," ucap Iyan yang segera mengekori Vino.


Sementara itu, Elena terpaksa pulang dengan taksi. Dia masih bersama Tias sekarang.


"Makasih ya, El. Udah mau bantu," ungkap Tias.


"Lo harus bayar bantuan gue dengan cara mengakui kesalahan lo sama guru," sahut Elena.


Tias seketika terdiam. Ia tentu ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Elena. Bahwasanya orang yang merekam Elena dan Vino saat berciuman adalah Ranti.


Tetapi Tias meragu. Sebab dia ingat Ranti memiliki video rekamannya yang nyaris telanjang. Ranti pasti akan menyebarkan video itu jika dirinya nekat memberitahu Elena.


"Gue nggak bisa, El. Karena bukan gue pelakunya," ucap Tias.


"Terus kenapa lo ngaku kalau lo pelakunya?" tanya Elena terheran.


"Karena gue dipaksa oleh pelaku aslinya. Dan gue nggak bisa bilang sama lo siapa dia. Sorry, El..." kata Tias.


Elena membulatkan mata. Dia berpikir sejenak. Sampai dugaan kuat dalam pikirannya muncul.


"Apa jangan-jangan pelakunya salah satu teman dekat gue dan Vino?" tebak Elena.

__ADS_1


Tias lekas mengangguk. "Hanya itu petunjuk yang bisa gue berikan," ujarnya.


Kening Elena mengernyit. Dia menggeleng beberapa kali. "Gue pusing! Gue sekarang benar-benar nggak tahu harus percaya sama siapa," ungkapnya. Lalu menyuruh sopir menghentikan mobil.


"Kita berpisah di sini," pamit Elena. Suasana hatinya memang buruk. Apalagi setelah harus putus dari Vino.


...***...


Malam telah tiba. Hampir seharian Vino terkulai di atas sofa karena malas melakukan apapun. Teman-temannya bahkan disuruh pergi ke klub tanpa dirinya. Jadi Vino sendirian sekarang. Tak berhenti memikirkan Elena.


Vino menunggu Elena menghubungi. Namun karena cewek itu tidak kunjung memberi kabar, dia lantas menelepon lebih dulu. Vino bahkan mengirimi Elena pesan puluhan kali. Akan tetapi cewek tersebut tidak ada menanggapi telepon dan pesannya.


"Sialan!" Vino membanting ponselnya sampai hancur berkeping-keping. Ia duduk sambil mengacak-acak rambutnya.


Di akhir, Vino mengambil jaket hodienya. Kemudian langsung pergi dengan mobil menuju asrama sekolah Elena.


Vino kali ini menyelinap sendirian. Dia langsung mendatangi jendela kamar Elena. Sayangnya jendela tersebut terkunci, jadi Vino tak punya pilihan selain mengetuk.


Elena yang baru keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri jendela. Ia takut temannya yang bernama Fida terbangun dari tidur.


"Lo nggak ada jawab telepon atau balas satu pun pesan gue!" sahut Vino yang tak kalah pelan.


"Bukannya kita udah putus?" balas Elena.


"Gue minta maaf sama omongan gue tadi siang. Gue nggak pengen putus dari lo," ungkap Vino.


Elena mengusap kasar wajahnya. Ia melirik ke arah Fida. Memastikan cewek itu masih terlelap.


"Gue nggak mau pacaran sama lo, kalau lo masih suka menindas orang lain!" tegas Elena seraya menjangkau pintu jendela. Berniat menutupnya secepat mungkin. Namun Vino dengan sigap menahan.


"Kenapa lo peduli banget sih? Lagian itu--"


"Ya udah kalau nggak mau. Mending lo pergi sekarang!" potong Elena sembari mencoba menutup jendela.

__ADS_1


"Oke, oke! Gue nggak akan menindas orang lain lagi. Puas lo?!" Vino yang tidak kuasa putus dengan Elena, akhirnya menurut.


Elena menarik sudut bibirnya ke atas. "Gue pegang janji lo. Tapi bukan berarti kita udah balikan. Nggak semudah itu kali, Vin. Kejadian tadi sore berdampak banget buat gue! Lo bahkan nggak ngejar pas gue pergi!" tukasnya.


"Maafin gue, El. Gue nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi," mohon Vino.


Elena menatap serius Vino. Memastikan kesungguhan cowok tersebut. Menurutnya Vino bersungguh-sungguh sekarang. Tetapi dirinya ingin memberi cowok tersebut pelajaran dengan mengulur waktu.


"Gue butuh bukti." Elena menolak. Kali ini dia berhasil menutup jendela rapat-rapat. Hingga Vino tidak bisa lagi bicara dengannya.


Vino terpaksa pergi. Bukannya membaik, dia malah tambah kesal. Dirinya merasa Elena sekarang mencoba main-main.


...***...


Keesokan harinya, Vino memilih tidak sekolah. Mengingat ini adalah pertama kalinya dia mengalami patah hati. Vino tak menyangka rasanya akan sedalam ini. Hatinya terasa tidak karuan. Takut Elena akan pergi dan melupakannya begitu saja.


"Sudahlah, Vin. Lo udah bela-belain datangin Elena tadi malam. Kalau dia nggak mau, ya itu pilihan dia. Gue yakin Elena nanti pasti nyesel sendiri," ujar Iyan. Berusaha menenangkan Vino.


Tak lama kemudian Andi dan Ranti datang. Mereka membolos karena ingin bergabung dengan Vino dan Iyan.


"Kita bikin party aja gimana, Vin? Gue punya barang baru soalnya. Efeknya lebih kuat dari yang sebelum-sebelumnya," cetus Andi.


"Ya udah. Pesan aja!" Vino setuju tanpa harus berpikir dua kali. Ia memang butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya sekarang.


Di sisi lain, Elena sedang berada di kamar mandi. Dia mengalami mual. Cewek itu bahkan muntah-muntah beberapa kali.


"Lo baik-baik aja kan, El?" tanya Fida dari luar. Sebagai teman sekamar, dia tentu merasa cemas.


"Gue baik-baik aja!" sahut Elena sambil memegangi perut.


Anehnya, meski Elena sudah memuntahkan cairan dari mulut, rasa mual masih dirasakannya. Dia jadi khawatir kalau dirinya sedang hamil. Terlebih siklus menstruasinya sudah lewat satu minggu dari tanggal biasanya.


"Gue nggak hamil kan?" gumam Elena yang mulai diselimuti rasa takut.

__ADS_1


"Enggak! Nggak mungkin. Vino selalu pakai pengaman." Elena mencoba menepis dugaan yang menurutnya tidak logis.


__ADS_2