
...༻✫༺...
Sebelum pulang, Vino tak lupa mengambil jaket yang dititipkan Elena di pos satpam. Dia menemukan jaketnya sudah harum dan bersih. Setelah itu, Vino segera pulang ke rumah. Ia mengerutkan dahi saat melihat mobil kedua orang tuanya sudah ada. Padahal biasanya mereka pulang larut malam.
Vino mendengus kasar. Dia berjalan memasuki rumah.
"Vin! Langsung siap-siap ya. Paman Ravi hari ini ada acara penting di rumahnya," ujar Lina.
"Sekarang?" Vino mamastikan.
"Tentu saja. Dari tadi kami nungguin kamu," sahut Arya.
"Beri aku sepuluh menit." Vino bicara sambil menaiki tangga.
"Cepatlah!" pekik Lina. Tepat sebelum sang putra benar-benar menjauh.
Saat masuk ke kamar, Vino menghempaskan diri ke ranjang. Ia lagi-lagi memikirkan Elena. Vino tidak menyangka gadis itu sangat serius dengan ciuman yang diberikannya.
Elena memang bukan gadis yang pertama kali terbawa perasaan dengan ciuman Vino, tentu ada banyak cewek di luar sana yang menjadi korban. Akan tetapi segalanya berbeda dengan Elena.
"Mungkin karena gue temenan sama dia. Jadi rasanya nggak enak gini. Harusnya dari awal gue nggak usah cium dia," gumam Vino seraya merubah posisi menjadi duduk.
Vino melepas pakaian atasan. Tubuhnya yang bugar terpampang jelas. Dia melangkah memasuki kamar mandi. Vino akan bersiap pergi ke rumah pamannya.
Di sisi lain, Elena sedang menjalani les seni. Dia memandangi pesan yang dikirimnya untuk Vino. Pesan itu hanya dibaca.
"Ck! Ngapain gue nunggu balasan dia." Elena berdecak. Dia meletakkan ponsel dan fokus belajar.
'Ternyata Vino benar-benar hanya main-main sama gue. Dasar cowok bejat, keparat, bangsat, k***!' Elena merutuk dalam hati. Baru pertama kali dirinya marah sampai mengumpat kasar dalam hati. Elena menggenggam pensilnya dengan erat. Dia semakin kesal ketika dirinya tidak berhenti memikirkan Vino.
Kretak!
Tanpa diduga pensil yang dipegang Elena patah. Dia bahkan dibuat kaget akan hal itu.
"Elena? Kamu nggak apa-apa?" tanya Della. Guru les privat yang sedang mengajari Elena.
"Nggak apa-apa, Kak." Elena menggeleng sambil tersenyum kecut. Dia segera kembali fokus dengan les yang diberikan Della.
__ADS_1
...***...
Vino dan kedua orang tuanya telah tiba di tempat tujuan. Sebagian besar orang menyambut kedatangan mereka.
Acara yang sedang berlangsung sendiri adalah perayaan atas keberhasilan bisnis pamannya Vino. Jujur saja, semua yang hadir di acara adalah orang-orang kelas atas. Di keluarga Vino tidak ada yang namanya orang miskin. Sejak dulu keluarga mereka seolah ditakdirkan untuk kaya raya.
Sama seperti di sekolah, kehadiran Vino selalu menjadi pusat perhatian. Tidak heran, dia memang dianggap sebagai lelaki paling tampan di keluarga.
Dengan langkah malas Vino bergabung bersama para sepupunya.
"Badan lo makin mantap aja, Vin," komentar Alvi. Usianya sepantaran dengan Vino.
"Kenapa? Jadi naksir sama gue?" canda Vino.
"Dih! Sombong amat dia, Al!" Riki menyahut. Dia tergelak bersama Alvi dan Riki.
Dari kejauhan terlihat seorang gadis yang bernama Dara. Dia merupakan putrinya Ravi yang mengartikan kalau cewek itu juga sepupu Vino. Atensi Riki dan Alvi langsung tertuju kepada Dara. Mereka melambaikan tangan. Menyuruh Dara untuk ikut bergabung.
Dara tersenyum lebar. Dia buru-buru menghampiri tempat para sepupunya berada. Gadis tersebut kebetulan dua tahun lebih tua dari Vino. Ia juga sudah berkuliah.
"Bisa gitu ya? Kayak kalian punya pacar aja," balas Dara tak terima.
"Eh, jangan meremehkan. Biar begini, gue sama Alvi sudah punya pacar." Riki merogoh saku celana. Ia mengambil ponsel dan memperlihatkan foto pacarnya.
Pembicaraan terus berlanjut. Namun Vino justru merasa bosan. Dia lantas berdalih pergi ke toilet. Sebenarnya Vino hanya mencari tempat aman untuk merokok.
Vino memilih balkon samping rumah pamannya. Di sana tempatnya tidak terlihat dari lokasi acara utama.
"Lo kenapa?" Dara datang. Dia ternyata mengikuti Vino.
"Sumpek!" sahut Vino. Dia sudah mengapit rokok ke bibirnya. Hampir menyalakan rokok tersebut. Tetapi urung dilakukan karena melihat kedatangan Dara.
Dara berseringai. Dia menarik Vino untuk ikut bersamanya. Gadis itu membawa Vino masuk ke ruangan terdekat.
Setelah pintu tertutup, Dara langsung menyambar bibir Vino dengan ciuman intens. Sebenarnya sosok Dara adalah gadis yang mendapat ciuman pertama Vino. Bisa dibilang Dara adalah penyebab dari kenakalan cowok itu.
Suara kecup-mengecup memecah kesunyian. Vino membalas ciuman Dara dengan lihai. Keduanya bahkan tak peduli terhadap hubungan pertalian sepupu yang ada.
__ADS_1
Dahi Dara berkerut dalam. Semakin lama, dia kian menikmati ciuman Vino. Gairahnya memuncak. Akan tetapi Vino mendadak berhenti menciumnya.
"Kenapa? Mau yang lebih dari ini?" tanya Dara. Dia memegangi tangan Vino dan meletakkannya ke salah satu buah dada.
Vino menatap serius Dara. "Lo ngajak gue--"
"Iya. Lo belum pernah kan?" potong Dara. Dia mengajak Vino berhubungan intim.
"Parah. Kita kan sepupu." Vino mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia melangkah mundur untuk menjauh.
Dara memutar bola mata jengah. Dia mendengus kecewa. Kemudian memasang tatapan lekat. "Lo mau tahu kenapa gue belum punya pacar?" ungkapnya.
"Gue nggak mau tahu," tanggap Vino. Dia malah berbalik dan membuka pintu. Namun Dara sigap menghentikan.
"Gue suka sama lo!" kata Dara.
Vino menghempaskan tangan Dara. "Sinting lo!" hardiknya.
Dara kembali meraih tangan Vino. Tak membiarkan cowok itu pergi. "Terus kenapa lo cium gue?" timpalnya.
Vino tercengang. "Karena lo yang duluan ngerayu gue! Kalau lo pengen bercinta, lakukan saja sama Ravi atau Alvi. Mereka pasti juga pernah ciuman sama lo kan?"
"Enggak! Cuman lo di keluarga ini yang pernah ciuman sama gue. Ya itu tadi alasannya, karena gue suka sama lo!" Dara melakukan pembelaan.
"Lo emang gila ya." Vino tetap menolak. Dia segera melepas genggaman tangan Dara. Tetapi cewek itu justru mencengkeram lebih erat.
"Lepasin nggak? Sebelum gue melakukan cara kasar," ancam Vino.
"Enggak! Gue tahu lo juga punya perasaan yang sama," balas Dara.
Vino meringis jijik mendengarnya. Sekali lagi permainan yang dibuatnya menjadi boomerang.
Karena Dara tak kunjung melepas pegangannya, Vino tak punya pilihan selain mendorong sekuat tenaga. Ulahnya membuat Dara jatuh terduduk ke lantai.
"Tega ya lo, Vin!" keluh Dara.
Vino tak peduli. Dia bergegas pergi meninggalkan Dara. Tidak tanggung-tanggung, Vino langsung pergi meninggalkan rumah pamannya. Ia melangkah cepat dengan raut wajah cemberut. Entah kenapa satu-satunya tempat yang ingin Vino tuju adalah rumah Elena.
__ADS_1