
...༻✫༺...
Elena dan Ranti dalam perjalanan pulang. Keduanya menaiki taksi yang sama. Elena menceritakan semuanya kepada Ranti. Ia selalu menganggap Ranti sebagai sahabat baik.
"Jadi lo berhubungan intim sama Vino tanpa status yang jelas?" Ranti memastikan dengan nada berbisik. Mengingat dia dan Elena tidak hanya berduaan. Ada sopir taksi yang sedang sibuk mengemudi di depan.
Elena mengangguk. Tangisannya perlahan berhenti karena sudah menceritakan masalah pada seseorang.
"Yang sabar ya, El. Harusnya lo nggak pernah percaya sama Vino." Ranti memeluk Elena. Dia memang terlihat seakan ikut sedih. Padahal nyatanya Ranti senang dengan ketidakjelasan hubungan Elena dan Vino.
'Bagus deh. Dengan begitu, gue nggak perlu repot-repot melakukan rencana untuk misahin mereka. Sekarang gue udah putus sama Andi. Misi gue tinggal dekatin Vino,' batin Ranti sembari mengelus punggung Elena. Ia berusaha keras menyembunyikan kebahagiaan.
"Makasih ya, Ran. Lo benar. Gue seharusnya nggak pernah percaya sama Vino lagi," ucap Elena.
Di sisi lain, Vino sedang mabuk bersama Andi dan Iyan. Dia merasa pikirannya melayang. Namun tetap saja Vino tak bisa berhenti memikirkan Elena.
Justru karena miras dan obat-obatan yang di konsumsi, gangguan tentang Elena menjadi-jadi. Vino telentang di atas karpet. Dia menatap ke atap pelafon. Di sana dirinya bisa melihat wajah Elena ada banyak sekali. Sosok Elena dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda tampak sangat jelas. Dari mulai yang tersenyum, tertawa, marah, sedih, bergairah dan banyak lagi.
Vino tergelak sendiri. Penglihatannya sekarang tentu adalah efek dari mabuk.
"Gue paling suka melihat lo begitu. Astaga... Hehehe..." racau Vino sambil fokus dengan penglihatannya. Tepat tertuju ke ekspresi wajah Elena yang bergairah. Menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata. Itu adalah mimik wajah favorit Vino terhadap Elena.
"Lo lihat apa di sana?" tanya Iyan. Dia baru saja telentang ke sebelah Vino.
"Elena..." jawab Vino.
"Hahaha..." Iyan tergelak seraya memegangi jidat. "Bukannya tujuan lo mabuk sekarang adalah biar bisa lupain Elena? Ini kenapa malah mikirin dia?" tanya Iyan.
"Gue nggak tahu... Gue nggak bisa berhenti, Yan..." tanggap Vino.
"Lo harus berhenti. Karena gue cemburu," ungkap Iyan.
Vino memang sedang mabuk. Namun bukan berarti kesadarannya hilang sepenuhnya. Dia segera melirik Iyan. Menuntut penjelasan. Cowok yang telentang di sampingnya itu lantas balas menatap.
"Lo suka sama Elena?" tukas Vino.
Tawa Iyan seketika pudar. Dia bisa melihat raut wajah Vino yang tampak murka.
__ADS_1
"Hahaha!" Iyan memecahkan tawa sembari memukul dada Vino. "Santai aja, Vin. Gue bercanda," ralatnya.
Vino mendengus lega. Kini dia memejamkan mata. Menikmati efek miras dan obat-obatan terlarang.
Tak jauh dari posisi Vino dan Iyan, Andi menjadi orang yang paling banyak mengkonsumsi serbuk putih serta miras. Ia nyaris kehilangan kesadaran, tetapi belum berhenti menikmati semuanya.
Kegilaan Andi makin kacau saat mulai melepas satu per satu pakaian sampai menyisakan celana pendek. Lalu mengajak Vino dan Iyan bercebur ke kolam renang.
"Ayo kita berenang biar segar." Andi memaksa Vino berdiri.
"Enggak! Gue nggak mau!" Vino menolak tegas.
Karena Vino tak mau, Andi mengajak Iyan. Namun teman satunya itu juga menolak. Andi lantas mematung sembari menatap Vino dan Iyan secara bergantian. Hingga terlintas ide dalam benaknya.
Tanpa pikir panjang, Andi melepas celana Vino. Hal serupa juga dilakukannya pada Iyan setelahnya. Semua itu terus berlanjut meski Vino dan Iyan melakukan perlawanan. Ketiganya tergelak bersama. Vino dan Iyan bahkan jadi ikut saling serang satu sama lain. Hingga mereka juga melepas pakaian dan hanya menyisakan celana pendek. Di akhir Andi berhasil menyeret Vino dan Iyan. Kemudian menceburkan keduanya ke kolam renang.
Andi yang tadinya mengajak ke kolam renang, justru tidak bercebur. Dia berdiri di tepi sambil menopang badannya yang sempoyongan. Tanpa diduga, Andi melepas celana pendek yang tersisa. Keadaan cowok itu otomatis jadi telanjang.
"Anjir, Di! Lo kenapa bugil?! Punya lo luntang-lantung gitu," timpal Vino tak percaya.
"Hahaha! Lumayan juga punya lo, Di." Iyan yang melihat berkomentar.
"Habis ini lo harus kuras kolam renang, Vin!" seru Iyan seraya tergelak bersama Vino. Keduanya berenang menjauhi Andi. Ketiga cowok tersebut bercanda tidak karuan dalam pengaruh narkoba.
Selama satu malam, Vino, Andi, dan Iyan melakukan aktifitas tidak karuan. Mereka tidak tidur dan sibuk melakukan hal tak berguna. Dari mulai mengerjai jasa pengantar makanan, menghancurkan barang, dan memainkan musik dengan volume nyaring. Untungnya malam itu kedua orang tua Vino tidak ada yang pulang ke rumah. Mereka memang sangat jarang berada di rumah. Tidak heran Vino sering menjadikan rumahnya sebagai markas berkumpul bersama teman-teman.
Ketika waktu menunjukkan jam lima pagi, barulah Vino dan kawan-kawan tumbang. Mereka sesekali muntah, sampai akhirnya jatuh tertidur.
Hanya Vino yang tak bisa terlelap. Ia sibuk memandangi pesan lamanya dengan Elena di ponsel. Pupil mata Vino membesar saat menemukan sebuah pesan penting.
'Kalau gue juara umum lagi hari sabtu ini, lo harus kasih hadiah spesial.' Begitulah pesan Elena yang menarik perhatian Vino. Sebab hari ini adalah sabtu. Hari pembagian rapor akan dilaksanakan.
"Anjir!" Vino berdiri. Meski sempoyongan, dia memaksakan diri berjalan. Berpegangan pada benda-benda disekitar. Beberapa barang bahkan dibuat jatuh olehnya.
Vino tidak tahu kenapa. Dia merasa harus melihat Elena meraih juara umum. Dirinya juga tak memperdulikan Andi dan Iyan yang asyik tertidur.
...***...
__ADS_1
Seluruh murid disuruh berkumpul di lapangan untuk pengumuman tiga juara umum sekolah. Seperti biasa, Elena dan Ranti berdiri berdampingan. Sejak tadi teman-teman sekelas mereka tak berhenti menggoda Elena. Mereka yakin cewek itu akan kembali menjadi murid yang meraih nilai tertinggi di sekolah.
"Gue yakin pasti lo lagi yang dapat juara umum."
"Iya, gue juga yakin. Elena kan nggak pernah kena remedial."
"Sekali-kali otak lo itu dibagi buat kita dong, El."
Teman-teman sekelas Elena bicara saling bergantian. Mereka membuat cewek tersebut bingung harus menanggapi.
"Kalian apaan sih! Lebay!" ujar Elena. Meskipun bicara begitu, dia tidak menampik kalau dirinya akan meraih juara umum lagi. Elena yakin bisa mempertahankan gelarnya.
"Mereka emang lebay, El." Ranti merangkul pundak Elena sambil terkekeh. Hingga sekarang dia selalu bersikap seperti teman dekat.
Pengumuman tiga besar juara sekolah. segera diumumkan. Pak Seno selaku kepala sekolah mengumumkan nama juara ketiga terlebih dahulu.
Di waktu yang sama, Vino baru saja datang ke sekolah. Dia mencoba sebisa mungkin menahan rasa kantuk. Vino berjalan terseok-seok memasuki barisan. Ia bahkan mendorong murid yang menghalangi jalannya. Wajah para murid yang didorong hanya bisa masam. Tak ada satu pun dari mereka yang berani mengomeli seorang Vino.
Di kala Vino datang, Pak Seno mengumumkan peraih juara ketiga. Raut wajah Pak Seno terlihat kaget ketika melihat nama di kertas. Meskipun begitu, dia berdehem dan segera berucap.
"Peraih nilai tertinggi ketiga di sekolah adalah..." Pak Seno sengaja membuat orang penasaran. "Elena Relia Almahendra!" pekiknya.
Semua orang kaget ketika mendengar nama Elena. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya Elena meraih posisi juara tiga. Padahal dia selalu meraih juara satu di setiap semester.
Elena yang mendengar, tentu merasa lebih kaget. Dia merasa syok sekali. Dirinya tidak menyangka posisinya turun sampai dua tingkat. Mata Elena langsung berkaca-kaca. Ia mematung dalam sesaat.
Dua detik berlalu. Elena tak kunjung maju ke depan. Sampai Pak Seno memanggilnya untuk kali kedua.
"Ayo Elena. Silahkan maju ke depan!" ujar Pak Seno.
Elena menenggak salivanya sendiri. Dia berusaha menahan tangis. Cewek itu memaksakan diri melangkah ke depan. Mimik wajahnya tampak begitu masam. Elena hanya bisa berjalan sambil menunduk.
Saat Elena sudah berdiri di depan, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi. Vino mendadak tumbang ke tanah dan tak sadarkan diri. Sepertinya cowok tersebut sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bertahan. Energinya sudah terkuras habis akibat aktifitas berlebihan mabuk selama semalaman.
"Bukankah itu Vino?" tanya Pak Seno. Dia dan guru lain kaget bersama.
"Iya, Pak. Dia Vino," jawab Bu Agni.
__ADS_1
"Bukannya dia atlet sekolah? Kenapa belum setengah jam berdiri di lapangan sudah pingsan?" Pak Seno terheran.