Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 41 - Keraguan Vino


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena terkulai lemah di atas ranjang. Dia terlihat acak-acakan akibat ulah Vino. Cowok itu tampak duduk di tepi ranjang dan merokok.


Vino hanya mengenakan celana pendek. Ia memandangi Elena yang juga menatap ke arahnya.


"Gue selalu menghitung, Vin. Kita sudah begituan sebanyak tiga belas kali..." lirih Elena. Dia telentang memiring sembari menjadikan satu tangannya sebagai bantal kepala. Elena menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang belum mengenakan apapun.


Vino mengeluarkan asap rokok dari mulutnya. Dia menanggapi, "Kenapa? Lo takut hamil?"


"Bukan itu. Kita sudah sering melakukannya tapi hubungan masih belum jelas. Lo bahkan nggak menjawab pas ada orang bertanya tentang hubungan kita," cetus Elena. Kebiasaan berhubungan intim bukanlah hal yang dirinya khawatirkan. Mengingat Vino selalu melakukannya dengan pengaman.


Elena meraih satu tangan Vino. "Kalau lo benar-benar sulit mengakui perasaan, biar gue yang ngaku. Gue sayang sama lo, Vin. Kita perjelas hubungan kita," ungkapnya.


Vino melepaskan tangan Elena. Dia membuang muka dan mengambil pakaian. Lalu melangkah ke kamar mandi.


"Vino?" Elena teramat kecewa. "Vino! Jawab, Vin!" desaknya seraya merubah posisi menjadi duduk. Akan tetapi Vino terlanjur masuk ke kamar mandi.


Mata Elena berembun. Dia bergegas mengenakan pakaian. Hal yang dirinya inginkan sekarang adalah pulang. Namun sebelum itu, Elena berjalan ke depan pintu kamar mandi dimana Vino berada.


"Oke kalau lo masih pengen gantung hubungan kita. Tapi gue nggak akan mau terusin hubungan ini tanpa ada kejelasan! Gue bukan cewek gampangan yang sering lo permainkan itu! Jangan pernah sentuh gue kalau lo nggak mau bilang alasannya! Gue akan kunci jendela kamar gue lagi!" geram Elena sambil berderai air mata. Kesedihan dan amarah bercampur jadi satu. Dia tidak bisa terus-terusan membiarkan Vino mempermainkannya. Setelah itu, Elena buru-buru pergi.


Di dalam kamar mandi, Vino dapat mendengar semua perkataan Elena. Ia mengusap kasar wajahnya satu kali. Sungguh, lingkungan orang tuanya yang selama ini Vino lihat, membuat dia ragu untuk menjalin hubungan. Bahkan hubungan sekedar pacaran dengan perempuan.


Meskipun begitu, Vino merasa gelisah saat mendengar ucapan Elena tadi. Perasaan cinta jelas sudah tumbuh untuk cewek tersebut. Namun Vino selalu menampiknya. Dia selalu meyakinkan diri bahwa dirinya tidak akan pernah jatuh cinta. Itulah alasan Vino tak bisa memperjelas hubungannya dan Elena. Mempercayai cinta saja sulit, apalagi mengakuinya.


"Enggak. Lo nggak boleh begini..." gumam Vino. Dia kembali mencuci otaknya sendiri. Menampik segala perasaannya terhadap Elena. Dari lubuk hati terdalam, Vino tentu tidak mau cewek tersebut pergi. Namun logikanya justru melakukan hal sebaliknya. Ia membiarkan Elena pergi.


Sementara itu, Ranti berusaha keras menjauhi Andi. Cowok tersebut tidak berhenti membujuknya untuk merubah pikiran. Andi sepertinya tidak mau putus dari Ranti.


"Ran, setidaknya kasih tahu apa kekurangan gue. Nanti gue akan perbaiki. Asal hubungan kita masih berlanjut," kata Andi dengan ekspresi memelas.


"Sudah berapa kali gue bilang, Di. Gue itu nggak punya perasaan apa-apa sama lo. Apa yang bisa lo lakukan kalau hubungan kita terus lanjut?" sahut Ranti dengan dahi yang berkerut dalam.


"Kasih gue waktu. Gue akan buat lo jatuh cinta!" Andi yang tadi duduk di sebelah Ranti, segera duduk berlutut di lantai. Memegang salah satu tangan Ranti.


Suara gelak kecil diperdengarkan Ranti. Ia menarik tangannya dari genggaman Andi.

__ADS_1


"Lo nggak akan bisa, Di. Gue udah terlanjur jatuh cinta sama cowok lain," balas Ranti.


Andi membulatkan mata. "Boleh gue tahu siapa?" tanyanya.


Ranti menggeleng. Meski tidak sepenuhnya berhati baik, dia masih memiliki hati nurani. Ranti tentu tahu hubungan Andi dan Vino akan berantakan kalau dirinya memberitahu hal sebenarnya.


Bertepatan dengan itu, Elena keluar dari kamar Vino. Dia membanting pintu hingga membuat Andi dan Ranti menoleh. Keduanya sukses melihat Elena pergi sambil berderai air mata.


Ranti yang super penasaran, bergegas mengejar. Dia menghentikan pergerakan Elena saat baru keluar dari pintu depan rumah Vino.


Andi dan Iyan yang melihat, juga ikut memeriksa. Mereka hanya menyaksikan dari ambang pintu.


"Lo kenapa, El? Vino nggak pukul lo kan?" tanya Ranti. Sengaja menunjukkan raut wajah cemas.


Elena menghapus air mata. Lalu berucap, "Gue nggak apa-apa."


"Kalau nggak apa-apa, terus kenapa lo nangis?" Ranti kembali bertanya.


Elena menggeleng. Ia tidak bisa bercerita karena merasa malu. Terlebih ada Andi dan Iyan yang melihat.


"Ya udah. Gimana kalau gue temenin. Kebetulan gue juga pengen pulang," ajak Ranti. Dia dan Elena pergi meninggalkan rumah Vino.


Dari kejauhan Andi terus menatap punggung Ranti. Berharap cewek itu memperdulikannya walau hanya sedikit. Tetapi Ranti bahkan tidak menoleh sekali pun ke belakang.


"Gue sama Ranti putus," ungkap Andi.


"Apa?!" Iyan kaget. "Lo selingkuh ya?" tebaknya.


Andi langsung mendorong kepala Iyan. Membantah tegas tebakan cowok itu. "Enak aja!" geramnya.


"Terus karena apa?" tanya Iyan.


"Gue juga nggak tahu. Ranti tiba-tiba aja minta putus. Katanya dia jatuh cinta sama cowok lain. Tapi gue sulit buat percaya," jawab Andi.


"Apa? Lo putus sama Ranti?" Vino berseru. Dia baru keluar dari kamar. Iyan dan Andi lantas bergabung bersamanya.


"Tahu, Vin. Dia tiba-tiba minta putus." Andi mendengus kasar.

__ADS_1


"Elena kenapa nangis begitu, Vin?" selidik Iyan.


"Biasalah cewek. Baper!" sahut Vino. Berlagak tak acuh.


Iyan dan Andi reflek bertukar pandang. Mereka sebenarnya ingin terus bertanya tentang hubungan Vino dan Elena. Tetapi takut cowok itu akan marah seperti sebelumnya.


"Gue kira Elena orangnya seru. Tapi sama aja kayak cewek lain. Dia sepertinya pengen mengikat gue sama hubungan," keluh Vino. Tanpa ditanya, dia justru memberitahu masalahnya sendiri. Mengingat Vino sebenarnya gelisah dengan keputusan Elena.


"Jadi selama ini lo sama Elena nggak pacaran?" Andi memastikan.


"Enggaklah! Kalian kan tahu kalau gue nggak mau pacaran," tanggap Vino.


Andi dan Iyan sama-sama tercengang. Sebab keduanya tahu bagaimana intimnya hubungan Vino dan Elena.


"Jadi Elena tadi marah karena lo nggak mau pacaran sama dia. Begitu?" tanya Iyan.


"Menurut lo? Bukannya udah jelas?" balas Vino. Dia memijit-mijit pelipisnya. Jelas Vino tak bisa menutupi kegelisahannya.


"Tapi kayaknya lo nggak terima sama keputusan Elena? Lo terlihat gelisah banget sekarang," komentar Andi.


"Gue nggak gelisah!" tegas Vino. "Gue cuman kesal aja," sambungnya. Kemudian menutupi wajah dengan dua tangan. Elena, Elena, dan Elena, nama dan wajah sosok cewek itu terus terbayang. Seolah dia sudah merindukan Elena setelah beberapa menit berpisah.


"Aaarghhh!!!" Vino menggeram nyaring. Persis seperti orang yang meledak. Menyebabkan Iyan dan Andi sontak tersentak kaget.


Vino jelas kesal pada dirinya sendiri yang merasa terganggu dengan Elena. Bahkan segala kemungkinan terus bermunculan di kepala. Sampai Vino akhirnya terpikirkan sesuatu agar bisa membuang jauh segala hal tentang Elena.


"Lo nggak apa-apa, Vin?" tanya Iyan.


Vino mengabaikan pertanyaan Iyan. Ia malah menatap Andi. "Di, pesan serbuk itu buat kita. Gue akan pesan miras yang banyak," ujarnya.


"Lo yakin, Vin?" Iyan menatap Vino dengan sudut matanya. Dia tahu Vino menginginkan obat-obatan terlarang. Ini pertama kalinya cowok itu menginginkan hal tersebut.


"Ya iyalah!" sahut Vino yakin.


Andi yang mendengar tersenyum lebar. Dia yang paling doyan mabuk, langsung setuju. Terlebih dirinya sedang patah hati sekarang.


Sedangkan Iyan, terpaksa ikut-ikutan. Ia senang jika Vino senang. Lagi pula Iyan juga memiliki masalah berat perihal sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2