Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 53 - Bergairah dan Berani


__ADS_3

...༻✫༺...


"Kami berdua sekarang nggak peduli," sahut Vino.


"Iya, anggap aja itu prinsip basi, Yan." Elena segera angkat suara. Dia dan Ranti berpisah dari Vino dan kawan-kawan. Mereka harus masuk ke kelas masing-masing.


Kini Elena berjalan berdampingan bersama Ranti. Sejak tadi Ranti terus diam. Ia enggan bicara pada Elena karena merasa kesal. Rasa penasaran bahkan tidak terlintas dalam benaknya. Padahal biasanya seorang sahabat akan selalu bertanya saat mendengar kabar baik.


"Gue benar-benar udah jatuh cinta sama Vino. Dia ternyata cowok yang bisa diandalkan," celetuk Elena yang sedang dimabuk cinta. Ia dan Ranti baru saja tiba di kelas.


Ranti mendelik. "Lo aja yang baru tahu," balasnya. Langsung membuang muka. Lalu beranjak. Dia tidak tahan terus-terusan melihat ekspresi bahagia Elena.


"Gue mau ke toilet," ujar Ranti.


Elena mengerutkan dahi. Dia merasa Ranti bersikap aneh. "Dia kenapa?" gumamnya.


Di toilet, Ranti berteriak. Dia melampiaskan kekesalannya di sana.


"Ngeselin banget sumpah!" keluh Ranti. Dia perlahan tenang dalam sesaat. Sampai sesuatu hal terlintas dalam benaknya. Ranti terpikir akan menyatakan perasaannya pada Vino sekarang. Ia merasa tidak bisa menunda-nunda lagi.


"Harusnya liburan tadi gue nggak ikut jalan-jalan ke Dubai! Harusnya gue ketemu sama Vino. Ini semua gara-gara Mama sama Papa!" gerutu Ranti yang malah menyalahkan kedua orang tuanya. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Vino. Mengajak cowok itu untuk bertemu berduaan di aula lama sekolah.


Di waktu yang sama, ponsel Vino bergetar. Pesan Ranti sudah masuk.


'Bisa ketemu di aula lama sekolah sekarang? Tapi gue pengen lo datang sendiri. Jangan sampai Andi dan Iyan tahu. Ini penting!' begitulah bunyi pesan dari Ranti.


Kening Vino mengernyit. Karena melihat ada kata penting, dia memilih pergi menemui Ranti.


Setibanya di aula, Vino melihat Ranti sudah menunggu. Cewek itu segera mendekat dan membawa Vino masuk ke gudang.


"Lo mau ngapain?" tanya Vino bingung.


"Gue mau ngomong sesuatu." Ranti berdiri di hadapan Vino.


"Tentang?" Vino menuntut jawaban.


"Gue mau bilang kalau dari awal cowok yang gue suka itu lo, bukan Andi!" ungkap Ranti.


Vino mengusap kasar wajahnya. Dia sebenarnya sudah berfirasat mengenai perasaan Ranti. Mengingat cewek tersebut selalu bersikap lebih perhatian kepadanya dibanding Andi. Vino juga sering memergoki Ranti mencuri pandang ke arahnya. Cowok itu berusaha keras membuang kecurigaannya agar hubungan Andi dan Ranti baik-baik saja. Namun sekarang dia harus menerima kalau firasatnya selama ini benar.


"Vin, plis kasih tahu gue. Lo sama Elena cuman main-main doang kan?" ucap Ranti sembari memegang tangan Vino.


Vino menarik tangannya dari genggaman Ranti. "Lo kan udah dengar kalau gue sama Elena pacaran? Jelas itu bukan main-main!" tegasnya.

__ADS_1


"Terus gimana sama gue?" tanya Ranti.


"Gue akan menganggap pengakuan lo tadi nggak pernah terjadi. Gue juga akan rahasiakan semuanya demi hubungan lo sama Elena dan Andi!" ucap Vino. Dia segera pergi meninggalkan Ranti. Cewek itu hanya bisa menghentakkan salah satu kaki dan menangis. Jelas Vino menolak cintanya.


Ranti mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia tidak menyangka Vino tidak tergoda dengannya. Alhasil Ranti segera kembali ke kelas. Berpura-pura menjadi sahabat baik lagi di mata Elena.


...***...


Saat pulang sekolah, Elena pergi bersama Vino. Mereka berjalan sambil berangkulan menuju mobil. Keduanya sudah tidak malu lagi menunjukkan kemesraan. Begitu pun Elena yang awalnya merasa malu-malu. Cewek tersebut mulai terbiasa.


Pemandangan kebersamaan Vino dilihat oleh banyak orang. Termasuk Ranti yang sejak tadi mengamati dari kejauhan. Jujur saja, hatinya tambah panas. Apalagi saat istirahat kedua tadi dia melihat Vino dan Elena berciuman bibir di belakang sekolah. Pasangan itu tak terpisahkan. Ranti bahkan kebingungan mencari cara untuk memisahkan mereka.


Vino berjanji membelikan Elena ponsel baru. Keduanya pergi ke mall terdekat. Mereka menyempatkan diri untuk makan siang. Di akhir, barulah mereka pergi ke salon. Seperti rencana Vino, dia dan Elena akan mewarnai rambut mereka


"Lo mau warna apa?" tanya Vino.


Elena memperhatikan gambar yang ada di majalah. Dia mencoba memilih warna yang cocok.


"Gimana kalau merah?" usul Elena.


"Bagus juga. Tapi bukannya lo suka warna pink?" tanya Vino.


"Sekarang enggak," balas Elena tegas. Menurutnya warna pink membuatnya terlihat tampak lemah.


Vino tersenyum. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Elena. "Bergairah dan berani," bisiknya. Memberitahu makna dari warna yang dipilih Elena. Cewek itu lantas tersenyum puas.


"Gila! Lo mewarnai semua rambut lo?" Elena menghampiri Vino. Rambutnya lebih dulu selesai diwarnai dibanding Vino.


"Iyalah. Gue nggak mau tanggung. Terkesan cemen," sahut Vino.


"Oh, jadi maksud lo gue cemen?" Elena menyimpulkan.


"Iya, terus?" tanggap Vino menantang.


Elena terperangah. Dia kembali duduk ke kursi salonnya. "Mbak! Warnai semua rambutku juga!" perintahnya. Berubah pikiran.


Vino tercengang. Dia tergelak puas melihat keberanian Elena.


Usai mewarnai rambut, Elena mengajak Vino berfoto. Keduanya mengambil beberapa selfie di dalam mobil.


Elena memegang ponsel barunya dan meletakkan kepala ke bahu Vino. Setelah mengambil selfie, dia mendapat ciuman di bibir dari Vino.


"Mau main sekarang atau malam aja?" tanya Vino. Melepas ciumannya sejenak.

__ADS_1


"Dua-duanya juga boleh," jawab Elena.


Vino yang kesenangan mendengar itu, tersenyum miring. Ia otomatis kembali mencium Elena. Membiarkan cewek tersebut duduk ke atas pangkuannya. Mereka menyempatkan diri untuk bercinta sebelum pulang.


Ketika sudah pulang ke rumah, penampilan Elena langsung membuat Rika dan Alan syok.


"Apa-apaan rambutmu itu, El! Kau kenapa?! Bukannya sekolah melarang murid untuk mewarnai rambut?!" semprot Rika murka.


"Gayamu sudah kayak berandalan aja! Perbaiki rambutmu itu sekarang!" titah Alan.


"Enggak! Terserah Papah dan Mamah mau kasih aku hukuman apa kali ini. Aku nggak peduli!" sahut Elena. Dia bergegas masuk ke kamar.


Benar saja, Rika dan Alan kebingungan harus bagaimana. Mereka juga tidak mungkin membuat Elena merubah warna rambut tanpa sukarela.


"Sekarang kita harus gimana, Pah?" ujar Rika sambil menekan-nekan pelipisnya.


"Aku akan menelepon pihak sekolah!" cetus Alan yang langsung berkutat dengan ponsel.


Usaha Alan tidak berhasil. Karena tanpa sepengetahuannya, kekasih putrinya juga sedang bertindak. Siapa lagi kalau bukan Vino. Kekuasaan yang dimilikinya tentu lebih kuat dibanding Alan. Mengingat pemilik sekolah adalah ayahnya sendiri.


Vino mendatangi kamar kedua orang tuanya. Dia tahu di dalam ada Arya yang baru selesai bercinta.


Vino mengetuk pintu. Orang yang membukakan pintu tidak lain adalah wanita selingkuhan Arya. Wanita yang berbeda dari sebelumnya.


"Hai, tampan. Kau pasti putranya Arya." sapa wanita itu sembari mencolek dagu Vino.


Vino tak acuh. Dia melangkah masuk dan berjalan melewati wanita tersebut.


"Baru lagi, Pah?" tukas Vino.


"Kau mau apa?! Dan apa yang kau lakukan dengan rambutmu?" tanggap Arya yang tampak minum alkohol.


Vino tersenyum lebar. "Jangan pedulikan penampilanku. Aku hanya ingin Papah membantuku membuat kepala sekolah melakukan sesuatu untukku," ucapnya.


"Kau berbuat apa lagi sekarang?" tanya Arya seraya menarik sudut bibirnya ke atas.


Vino ikut berseringai. Dia memberitahu Arya tentang apa yang di inginkannya. Yaitu untuk membuat kepala sekolah tidak memperdulikan warna rambutnya dan Elena.


"Apapun untukmu, anakku. Itu hal kecil bagiku," remeh Arya. Dia segera menghubungi Pak Seno. Itulah enaknya menjadi Vino. Kedua orang tuanya tidak pernah berkata tidak kepadanya.


Vino otomatis segera beranjak. Melangkah melewati selingkuhan ayahnya dengan senyuman puas.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


Guys, aku mau minta pendapat. Apa kalian yakin Vino pantas buat Elena? Kalau kalian diposisi Elena, apa yang kalian lakukan? Vino itu super toxic 😆


__ADS_2