Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 35 - Pertandingan Basket


__ADS_3

...༻✫༺...


"Apa kau mengetahui sesuatu di antaraku dan Rima?!" timpal Arya.


Vino memegangi wajahnya. Baru saja merasa bahagia, dia tiba-tiba harus menghadapi kepahitan dari sang ayah.


"Cepat katakan!!!" desak Arya.


Vino mengeratkan rahang kesal. Dia memberanikan diri membalas pelototan Arya. "Dia selingkuhanmu kan?!" balasnya. Selama ini Arya dan Lina memang tidak pernah tahu kalau putra mereka sudah mengetahui semuanya.


"Sekali lagi kau berani menerobos masuk seperti tadi, maka jangan harap aku akan memberi ampun!" Arya menendang badan Vino.


"Itukah yang kau khawatirkan? Kau tidak cemas putramu meniduri seorang gadis?" tukas Vino. Dia terlanjur kesal. Hingga tanpa sadar dia menguak kesalahannya sendiri.


Arya mengencangkan dasinya. Ia berbalik badan menghadap cermin. "Aku tahu kau tadi mengambil apa ke kamarku. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucapnya.


Vino tercengang. Dia berpikir mungkin hanya ayahnya yang terdengar santai saat mendengar putra sendiri bermain perempuan.


Arya mengambil sebuah kartu dari dompet. Lalu melemparnya kepada Vino. "Mulai sekarang belilah kon-dommu sendiri. Jangan pernah lupa untuk menggunakan benda itu," ujarnya.


Vino menarik sudut bibirnya ke atas. Dia semakin merasa jijik dengan sikap sang ayah.


"Bagaimana kalau aku lupa memakainya dan membuat seorang gadis hamil?" Vino bertanya sambil perlahan berdiri.


"Sederhana." Arya berjalan ke hadapan Vino. Ia tersenyum miring dan berbisik, "maka kaulah yang sudah membuatnya menderita. Jadi usahakan jangan membuatnya hamil."


Setelah berucap begitu, Arya menepuk pundak Vino. Kemudian beranjak keluar kamar.


Vino memasang tatapan kosong. Ia menjatuhkan diri ke ranjang. Mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuat. Lalu memukuli kasur sekuat tenaga. Wajahnya memerah padam.


Vino merasa sangat frustasi. Kedua orang tuanya memang tidak pernah peduli sedikit pun kepadanya.


Di sisi lain, Elena baru saja masuk ke mobil. Dia dan keluarganya akan pulang.


Usai menemukan tas, Elena langsung menemui kedua orang tuanya. Dia memberi alasan pada Rika dan Alan kalau dirinya tadi berada di toilet cukup lama. Mengaitkan semuanya dengan kebohongan sakit perut saat pertama kali tiba di rumah Vino tadi.

__ADS_1


Elena tak berhenti tersenyum sepanjang perjalanan. Bahkan di saat alat vitalnya masih terasa sakit akibat kegiatan intim bersama Vino.


Kala sudah tiba di rumah, Rika dan Alan menyuruh Elena langsung tidur. Namun cewek itu hanya berpura-pura setuju. Ia sama sekali belum mengantuk.


Elena masuk ke kamar dan berdiri di depan jendela. Dia teringat dengan ucapan Vino yang menyuruhnya membuang beberapa CCTV tambahan.


"Gue akan lakukan besok," gumam Elena yang telah sepenuhnya dibudak oleh cinta.


Elena mengambil gambar jendelanya yang terbuka lebar. Lalu mengirim foto itu pada Vino. Tetapi setengah jam berlalu, Vino tidak membalas pesannya. Cowok tersebut bahkan tidak membaca pesan Elena.


'Gimana kalau Vino permainkan gue? Gimana setelah main sama gue, dia mau coba sama cewek lain? Enggak kan?' batin Elena merasa gelisah. Dia menggigit jarinya sendiri.


Alhasil malam itu Elena tidak bisa tidur untuk yang kesekian kalinya karena Vino. Dia menunggu balasan pesan yang tak kunjung datang.


"Vino pasti cuman main-main sama gue..." Elena yang terus menduga akhirnya menangis. Kala itu waktu juga sudah menunjukkan jam tiga malam. Hampir empat jam Elena menunggu pesan balasan dari Vino.


"Dia pasti cari cewek--" gumaman Elena terjeda saat ponsel memberikan notifikasi. Dia sigap mengambil ponselnya.


Pupil mata Elena membesar ketika Vino membalas pesannya. Tangisan dia juga langsung berhenti dan berubah jadi senyuman sumringah.


'Hati-hati nanti ada penjahat kelamin masuk. Lo kan lagi phobia sama orang itu?' begitulah bunyi pesan balasan Vino. Seakan dia menyindir ejekan Elena tempo hari terhadapnya.


Ilustrasi percakapan pesan Elena dan Vino :


Vino : Anjir! Lo belum tidur?


^^^Elena : Gara-gara lo!^^^


Vino : Kenapa? Mau ronde ketiga?


^^^Elena : Mesum mulu otak lo!^^^


Vino : Kayak sendirinya enggak. Tidur gih!


^^^Elena : Lo sendiri nggak tidur? Bukannya besok lo ada pertandingan basket?^^^

__ADS_1


Vino : Bentar lagi.


Elena mendengus. Dia terpikir untuk menanyakan sesuatu yang sebelumnya tidak dijawab Vino.


Elena : Setelah yang kita lakukan, lo nggak bakal sentuh cewek lain lagi kan? Terus hubungan kita ini apa sekarang?


Elena menunggu balasan Vino. Namun cowok itu tidak langsung membalas.


Nafas panjang dihela oleh Elena. Ia gigit jari. Gelisah menanti jawaban Vino. Matanya membulat saat melihat ada tulisan sedang mengetik yang dilakukan oleh Vino.


Jantung Elena berdegup kencang ketika melihat pesan baru dari Vino muncul. Tetapi pesan itu membuatnya kecewa.


'Gue mau tidur. Lo mending tidur juga. Jangan lupa nonton gue tanding besok.' Seperti itulah pesan balasan Vino. Sama sekali tidak menjawab pertanyaan Elena.


Melihat jawaban Vino, Elena menghembuskan nafas berat. Lalu telentang ke ranjang. Ada rasa penyesalan yang dirinya rasakan.


"Harusnya gue minta penjelasan Vino dulu sebelum biarin dia melakukan itu tadi. Ah! Bodoh banget sih lo, El." Elena memukuli kepalanya sendiri. Ia baru sadar kalau dirinya bercinta dengan Vino tanpa memiliki status hubungan yang jelas.


...***...


Pagi telah tiba. Pertandingan basket antar sekolah dilaksanakan di lapangan outdoor SMA Prajaya Adhitama. Lapangan yang sekarang dipenuhi oleh penonton dari tuan rumah serta penonton dari tim lawan.


Suara sorakan penonton menggema saat para tim basket diumumkan akan memasuki lapangan. Tak terkecuali Elena. Untuk pertama kalinya dia bersorak penuh semangat. Ranti bahkan sampai heran. Sebab sebelumnya Elena selalu tak peduli dengan pertandingan olahraga. Apalagi kalau ada Vino yang bermain.


"Lo kejedot apa kemarin, El?" tukas Ranti.


"Apaan?" sahut Elena. Menatap sekilas.


"Lo nggak pernah bersorak kayak gini sebelumnya." Ranti menyelidik.


"Gue kali ini pengen tim kita menang!" Elena mengepalkan salah satu tangannya.


Percakapan Elena dan Ranti terhenti tatkala Vino serta timnya masuk ke lapangan. Wajah kedua cewek itu sontak sama-sama berseri. Atensi mereka hanya tertuju pada Vino.


Sementara Vino sendiri, dia fokus dengan pertandingan yang akan dimulai. Cowok tersebut juga sudah mengambil posisi di lapangan. Sebelum pluit ditiup, barulah Vino menyempatkan diri mengedarkan pandangan ke arah kumpulan penonton. Sampai akhirnya dia bisa menemukan Elena.

__ADS_1


Elena tampak tersenyum sambil mengangkat satu kepalan tangan. Vino dapat membaca pergerakan mulutnya yang menyebut kata semangat.


Vino memang hanya menunjukkan ekspresi datar saat menatap Elena. Namun ketika berpaling dari cewek itu, dia tak bisa menahan senyum. Selanjutnya, pluit ditiup oleh wasit. Vino segera bergerak gesit untuk mengerahkan permainan terbaiknya.


__ADS_2