Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 29 - Apa Mau Vino?


__ADS_3

...༻✫༺...


Elena menenggelamkan wajah ke bantal. Dia sibuk mengontrol nafas. Beristirahat dari sesuatu seperti ledakan nikmat di tubuhnya.


Bagaimana badannya bisa merasakan hal seperti itu? Apa yang terjadi? Apakah sentuhan Vino yang membuat rasa itu muncul? Pertanyaan tersebut bermunculan dalam benak Elena. Seingatnya pelajaran Biologi belum pernah mengajarkan apa yang dirinya rasakan sekarang.


"Vin?" panggil Elena sembari menenggak ludah sendiri. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Vino. Elena hanya bisa merasakan hawa yang terasa semakin dingin.


Dahi Elena berkerut. Dia akhirnya menoleh ke belakang. Elena langsung merubah posisi menjadi duduk tatkala melihat Vino sudah menghilang. Jendela juga tampak terbuka. Pantas saja hawa terasa lebih dingin. Kemungkinan besar Vino telah pergi.


Elena turun dari ranjang. Dia bergegas berlari ke jendela. Dari sana dirinya masih sempat melihat Vino yang tampak melompat keluar dari pagar.


Mulut Elena mengatup rapat. Kedua tangannya juga mengepalkan tinju dengan erat. Dasar Vino sialan! Sebenarnya apa mau dia? Cowok itu benar-benar pandai membuat banyak cewek kelimpungan memikirkannya.


Elena menjatuhkan diri ke lantai. Dia duduk sambil memeluk lutut. Merasa sangat malu dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu. Elena benar-benar merasa sudah kehilangan harga diri. Tetapi mau bagaimana? Dirinya memang kesulitan menolak sentuhan Vino. Cowok yang disukainya sekarang.


Semalaman Elena nyaris tidak tidur. Dia hanya sempat tidur selama satu jam. Suara panggilan pembantunya memaksa Elena untuk bangun.


Seperti biasa, Elena selalu di antar oleh sopir ke sekolah. Kini dia baru saja keluar dari mobil. Seketika sosoknya menjadi pusat perhatian banyak cowok. Terutama Rendi yang sudah dapat mengenali Elena dari kejauhan. Namun tidak bagi Elena. Pusat perhatian cewek itu justru adalah Vino. Dia melihat cowok tersebut bermain basket di lapangan.

__ADS_1


Elena berjalan sambil terus memandangi Vino. Jantungnya berdebar-debar. Dia tidak tahu kenapa Vino terlihat sangat tampan. Karena jatuh cinta, kemungkinan besar Elena sudah menganggap Vino sebagai cowok tertampan di sekolah.


Di waktu yang sama, Vino menyadari kehadiran Elena. Dia hanya menatap cewek itu sekilas. Lalu fokus dengan bola basket.


Karena tidak melihat ke depan, Elena tidak sengaja menabrak bak sampah. Ia jatuh terduduk dan sedikit terkena sampah yang berhamburan.


Beberapa cowok yang berada tidak jauh, langsung membantu. Elena terlihat menundukkan wajah karena merasa malu.


Keributan yang dibuat Elena membuat semua pasang mata tertuju kepadanya. Termasuk Vino. Cowok itu dan teman bermain basketnya berhenti sejenak untuk menonton insiden Elena tertabrak bak sampah.


Saat baru selesai menghadapi insiden, Elena masih sempat-sempatnya melirik Vino. Instingnya untuk menatap cowok tersebut seolah terus menuntut.


Elena tiba di kelas dengan nafas tersengal-sengal. Dia duduk dan menjatuhkan wajah ke atas meja. Elena benar-benar terganggu dengan perasaan yang dirinya rasakan sekarang.


"Lo nggak apa-apa, El?" tanya Ranti.


Elena mengangkat kepala. Ia menunjukkan raut wajah gelisah. "Enggak! Gue benar-benar merasa buruk sekarang," jawabnya.


"Kenapa?" Ranti penasaran.

__ADS_1


Elena diam sejenak. Dia merasa sudah tidak bisa memendam semuanya sendirian. Lagi pula dirinya sangat mempercayai Ranti sebagai sahabat baik.


"Ini semua karena Vino," ungkap Elena pelan.


Ranti sama sekali tak terkejut. Mengingat dia sudah tahu bagaimana hubungan Elena dan Vino. Ranti justru senang Elena memilih bercerita.


"Kenapa emangnya Vino? Bukannya lo udah nggak pengen temenan sama dia lagi?" tanggap Ranti.


"Maunya begitu. Tapi Vino terus deketin gue. Apa yang dilakukan Vino tuh bikin hati gue nggak karuan tahu nggak. Gue bingung mau dia itu apa," keluh Elena. Mengungkapkan kegelisahannya.


"Menurut gue lo harus bicara tegas sama Vino," saran Ranti. 'Gue nggak peduli lo mau apa. Yang jelas Vino nggak suka sama lo. Elena lagi halu atau apa sih? Bukannya kemarin Vino sudah terang-terangan tolak dia?' batinnya yang justru sinis pada Elena.


"Sudah, Ran. Gue berulangkali bicara sama Vino. Tapi kelakuannya tetap nggak berubah," jelas Elena. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraannya. Setelah memastikan aman, Elena berbisik, "Tadi malam Vino datang ke rumah gue."


"Apa?!" Ranti sontak kaget. Hatinya juga terasa tertusuk duri karena merasa cemburu.


"Tadi malam adalah yang kedua kalinya dia menyelinap ke kamar. Dia bikin gue bingung. Apa Vino suka sama gue? Itu terus terpikir di kepala gue. Soalnya tingkah Vino beda banget dari biasanya." Elena berharap Ranti bisa memberikan solusi.


Ranti terdiam sejenak. Dia memanfaatkan kegundahan Elena agar cewek itu berhenti dekat dengan Vino.

__ADS_1


"Enggak, El. Vino jelas cuman-main-main. Lo harus bicara sama Vino sekali lagi. Kalau perlu lo tonjok aja mukanya. Lagian lo nggak mau kan Vino manfaatin lo terus-terusan?" cetus Ranti. Dia berusaha sebisa mungkin menjauhkan Elena dari Vino.


__ADS_2