Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 57 - Perdebatan Orang Tua


__ADS_3

...༻✫༺...


Kedua orang tua Vino kini berhadapan dengan kedua orang tua Elena. Suasana terasa begitu tegang.


"Apa kalian sudah tahu video tentang Vino dan putriku?" tanya Alan dengan tatapan tajam.


"Iya. Baru tadi pagi ini. Tapi kalian tidak usah khawatir. Aku akan pastikan videonya musnah hari ini. Kedatangan kalian atas dasar itu bukan?" sahut Arya.


"Percuma video itu dihapus kalau aib anak kita sudah diketahui orang banyak!" Rika tak terima. Dia segera menatap Lina yang sejak tadi sibuk berkutat dengan ponsel. "Lina! Kenapa kau terlihat santai sekali. Seolah hal ini bukan masalah besar!" timpalnya.


Lina berhenti bermain ponsel. Ia menjawab, "Semua remaja zaman sekarang memang begitu kan? Aku yakin apa yang terjadi pada Elena dan Vino itu hanya ulah dari pembenci mereka. Jika kau ingin marah, maka marahilah penyebar video ini. Bukan anakku!"


"Apa?! Jelas-jelas anakmu yang dengan beraninya menyentuh Elena!" Rika tersungut.


"Kau harusnya perhatikan video itu baik-baik. Elena juga menikmati apa yang dilakukan Vino kepadanya! Aku pikir mereka saling menyukai!"


"Tidak! Aku yakin anak kalianlah yang sudah mempengaruhi kepribadian Elena!"

__ADS_1


"Enak saja! Aku tahu Vino anak nakal. Tapi dia tidak pernah memaksa orang melakukan sesuatu. Apalagi memaksa gadis untuk menciumnya. Justru para gadis itulah yang banyak mendatangi putraku. Mungkin Elena yang lebih dulu mendekatinya." Lina malah menyombong. Dia ternyata cukup tahu kehidupan putranya.


Vino yang mendengar meringiskan wajah. Bisa-bisanya sang ibu masih sempat menyombongkan sesuatu tentangnya.


"Elena tidak akan pernah melakukan itu!" Rika berdiri. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Lina.


"Cih! Bagaimana kau bisa yakin? Aku yakin sampai sekarang kau tidak tahu bagaimana perasaan anakmu!" tukas Lina sinis.


"Sudah cukup!!!" Alan memekik. Lina dan Rika sontak terdiam. Ia segera menatap Arya yang tampak duduk tenang sambil bermain ponsel.


"Arya! Kedatanganku dan Rika ke sini hanya ingin memastikan agar anakmu tidak mendekati Elena lagi," ujar Alan.


Alan melotot. "Pokoknya kalau Vino ketahuan dekat-dekat dengan Elena lagi, maka aku tidak akan tinggal diam!" tegasnya. Lalu mengajak Rika untuk pergi. Namun langkah mereka terhenti saat Arya mengatakan sesuatu.


"Bagaimana kalau Elena hamil?" ucap Arya.


"Aku percaya Elena tidak akan berani melakukannya!" Meski Alan ragu, namun dia berusaha keras mempercayai Elena. Bahwasanya Elena adalah anak yang baik dan selalu patuh.

__ADS_1


Arya tergelak. "Aku kasihan padamu. Aku pikir kita sama, Alan. Tapi kenyataannya tidak, kau dan istrimu lebih parah dariku dan Lina. Kalian tidak tahu apa-apa tentang anak kalian sendiri," imbuhnya.


Alan mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia berbalik karena hendak memukul wajah Arya. Akan tetapi tindakannya langsung dihentikan Rika.


"Jangan dengarkan dia jika kau memang percaya pada Elena," kata Rika sambil mendelik ke arah Lina. Dia dan Alan lantas pergi dari rumah Adhitama.


"Jika Elena hamil, aku harap kalian tidak meminta Vino untuk menikahinya!" ujar Arya. Sebelum Alan dan Rika benar-benar beranjak.


Vino mendengus kasar. Dia segera duduk dan kembali sarapan.


"Beritahu aku. Berapa kali kau melakukannya dengan Elena?" Lina mendadak muncul dari belakang.


Vino sedikit kaget. Ia memutar bola mata jengah. "Perlukah kau bertanya begitu pada putramu?" balasnya.


"Tentu saja," sahut Lina sambil mengangguk.


Arya ikut bergabung. Dia terlihat memakai jasnya. "Seandainya Elena hamil, apa kau bersedia menikahinya?" tanyanya.

__ADS_1


Vino terdiam. Ia buru-buru membuang muka.


__ADS_2