Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2

Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
Bab 59 - Pergilah Ke Neraka


__ADS_3

...༻✫༺...


Rika memeluk Elena. Lalu mengajak putrinya duduk ke tepi ranjang.


"Beritahu aku. Apa kau dan Vino sudah melakukan lebih dari ciuman?" tanya Rika.


"Enggak..." Elena menjawab sambil menunduk. Dia tentu enggan mengatakan aibnya sendiri.


"Elena, biar aku beritahu. Jika kau membiarkan lelaki menyentuhmu, maka kau yang rugi. Apalagi sampai ke ranah berlebihan. Kau masih sangat muda. Mamah nggak ingin masa depanmu hancur karena seorang lelaki." Rika kali ini memberitahu Elena baik-baik.


"Bagaimana kalau lelaki itu bisa dipercaya?" ujar Elena. Karena merasa Vino bisa diandalkan, dirinya yakin cowok itu juga bisa dipercaya.


"Aku harap lelaki itu bukan Vino. Dia bukanlah lelaki yang seperti kau pikirkan."


"Bagaimana Mamah bisa yakin? Mamah bahkan nggak kenal sama dia?"


"Itu memang benar. Tapi Mamah kenal keluarga mereka. Jika dilihat dari luar Vino memang seperti lelaki yang berasal dari keluarga baik-baik. Padahal kenyataannya tidak. Tadi pagi aku dan Papahmu sudah membuktikan." Rika menjelaskan panjang lebar.


"Benarkah? Apa Vino ada di sana?" selidik Elena. Dia akhirnya mengangkat kepala untuk menatap sang ibu.


"Kami bahkan tidak melihat batang hidungnya. Aku dan Papahmu yakin kedua orang tua Vino sengaja menyuruhnya sembunyi. Mereka bahkan meremehkan aku dan Papah. Pokoknya jangan pernah berani berhubungan dengan Vino lagi!" tegas Rika. Dia mengakhiri pembicaraan. Dirinya segera pergi dari kamar Elena.


Sementara itu Elena termangu. Perkataan sang ibu berhasil mempengaruhinya. Dia berjalan ke depan cermin. Lalu memperbaiki rambut panjangnya.


"Ayo kita kembali ke mode Elena dulu," gumam Elena. Sejak siang dia menunggu Vino datang. Namun cowok itu tak kunjung datang. Bahkan ketika satu malam telah berlalu.


...***...


Satu hari setelah insiden tersebarnya video telah lewat. Waktu menunjukkan jam sebelas malam. Vino sedang telentang di ranjang bersama Iyan. Temannya itu terlihat sudah terlelap.


Namun tidak untuk Vino. Dia tidak bisa tidur karena memikirkan Elena.


"Ada gue di sini..." Iyan mengigau sambil memeluk Vino dari samping.


Vino menepis tangan Iyan. Dia segera beranjak dari ranjang. Kemudian mengenakan jaket hodienya. Vino pergi dari rumah menggunakan mobil. Cowok itu nekat menemui Elena.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tujuan, Vino menyelinap seperti biasa. Dia membuka jendela kamar Elena.


"Vino!" seru Elena. Dia yang kebetulan juga tak bisa tidur, langsung menyadari kehadiran Vino.


Sebelum menghampiri Vino, Elena tak lupa menutupi kamera CCTV. Belum sempat dia berbalik, Vino sudah memeluk dari belakang.


"Gue kangen banget sama lo!" ungkap Vino.


Elena melepas pelukan Vino. Dia memutar tubuhnya menghadap cowok itu.


"Kita sebaiknya putus!" kata Elena.


"Apa?! Kenapa?" timpal Vino tak percaya.


"Ada banyak alasan! Lo, bokap nyokap kita, terus gue bakalan tinggal di asrama sekolah. Hubungan kita nggak ada harapan sama sekali!"


"Kenapa lo pedulikan pendapat bokap nyokap lo? Mereka bahkan nggak pernah tahu keinginan lo yang sebenarnya? Dan mengenai asrama, bukan masalah besar kok. Gue akan menyelinap masuk ke sana seperti apa yang gue lakukan sekarang!" sahut Vino.


"Enggak! Jangan lakukan itu lagi! Gue capek berharap terus. Karena kebiasaan lo itu, sejak kemarin gue terus berharap sama jendela tahu nggak! Gue berharap lo muncul dari sana. Tapi selama 24 jam gue tunggu, lo nggak muncul!"


"Ketawa lagi lo! Pergi sana!" usir Elena sembari mendorong Vino. Cowok itu mengangkat dua tangannya ke udara.


"Emang gue akui orang tua kita saling benci sekarang. Bokap gue bahkan suruh gue cari cewek lain. Gue tadi bisa aja pergi ke klub dan ketemu cewek baru. Tapi gue lebih memilih ke sini," ungkap Vino. Seperti biasa, senjata seorang badboy sepertinya tidak membujuk. Dia sengaja membuat Elena memanas.


Elena terdiam. Dia berbalik badan membelakangi Vino. "Gue nggak peduli! Cepat pergi!" hardiknya yang tetap pada pendirian.


"Lo yakin? Lo beneran nggak peduli gue sentuh cewek lain? Dari mulai memeluk, mencium, dan melakukan lebih dari itu?" ucap Vino. Memandangi Elena dari depan jendela. Dia menopang dua tangannya ke sana.


Elena berbalik badan. Dia berjalan ke hadapan Vino. Dirinya benar-benar panas mendengar perkataan cowok tersebut. Nafasnya naik turun dengan cepat sambil menatap Vino dengan perasaan kesal. Satu hal yang pasti. Elena kali ini tak ingin kalah.


"Lo pikir gue nggak bisa ngelakuin itu? Gue juga bisa dekat sama cowok lain. Memeluknya, menciumnya, dan lebih dari itu!" tukas Elena. Dia bertukar tatapan tajam dengan Vino. Suasana semakin tegang.


"Pergilah ke neraka!" hardik Vino. Perkataan Elena tadi sukses membuatnya murka.


"Lo yang pergi ke neraka!" balas Elena. Matanya dan Vino tak berhenti bertukar tatapan penuh amarah. Meskipun saling memancarkan tatapan begitu, sebenarnya lubuk hati terdalam mereka menginginkan hal sebaliknya.

__ADS_1


"Sial!" benar saja, Vino tak bisa menahan diri. Dia langsung melumaat bibir Elena dengan buas.


Elena yang juga menginginkan hal sama, membalas pagutan Vino dengan lihai. Kedua tangan mereka tak berhenti saling menjamah bebas tubuh satu sama lain. Suara kecup-mengecup memecah kesunyian malam.


Sambil berjalan menuju ranjang, Vino dan Elena tak berhenti bergulat lidah. Karena sibuk bercumbu, mereka tak melihat jalan menuju ranjang lagi. Keduanya justru tersudut ke depan lemari. Walau mendarat ke tempat yang salah, mereka tak menghentikan kegiatan intim.


Elena melepas ciuman bibirnya sejenak. "Nggak akan ada yang ngerekam kita lagi kan?" tanyanya dengan nafas yang tersengal. Lalu mengedarkan pandangan ke segala penjuru.


Vino tergelak. Dia memegangi dagu Elena. Memaksa cewek itu untuk kembali fokus. Kemudian menyatukan kembali bibir mereka.


Satu per satu pakaian dilepaskan Vino dan Elena. Keadaan Vino bertelanjang dada. Sedangkan Elena hanya mengenakan bra. Mereka melanjutkan kegiatan ke ranah lebih intim.


Sampai akhirnya seluruh pakaian dilepaskan. Keadaan Vino dan Elena telanjang bulat sekarang.


Vino mendudukkan Elena ke atas nakas. Mereka melakukan penyatuan di sana. Suara lenguhan mulai terdengar ketika Vino menggerakkan pinggul. Vino sendiri tak pernah lupa menggunakan pengaman.


Nakas yang diduduki Elena bergetar seiring dengan pergerakan Vino. Niat Elena yang tadinya ingin menurut pada sang ibu, lagi-lagi harus runtuh karena serangan Vino.


Kegiatan intim selesai saat Vino dan Elena saling terpuaskan. Mereka kini telentang di ranjang. Saling berpelukan satu sama lain.


Peristirahatan Vino dan Elena tak berlangsung lama. Sebab keduanya kembali terbuai untuk melakukannya lagi. Berniat menghabiskan kelima pengaman yang dibawa Vino.


"Gue nggak bisa bayangin kalau kita tinggal serumah... Hah... Hah..." Vino berucap sambil memaju mundurkan pinggulnya. Dia dan Elena dalam proses bersenggama untuk kali ketiga. Posisi Vino sendiri berada di atas badan Elena. Mereka bercinta di atas ranjang kali ini.


"Jadi lo nggak pengen tinggal serumah bareng gue nanti?..." Elena menjawab disela-sela desahaannya.


"Tentu saja pengen!" Vino merasa birahinya hampir membludak. Hingga dia mempercepat pergerakan.


"Kalau begitu--Akh!" Elena yang hendak bicara, tak bisa melanjutkan karena merasakan kenikmatan tiada tara di bawah sana. Dia membiarkan dirinya menikmati terlebih dahulu dan melanjutkan, "Nikahi gue, Vin!"


Bersamaan dengan itu, Vino dan Elena mencapai puncak bersamaan. Keduanya yang bermandikan keringat, otomatis tumbang. Menyisakan deru nafas yang menyesak di dada.


"Masih ada dua bungkus lagi, El..." lirih Vino sambil terkekeh.


Elena ikut terkekeh. "Dasar brengsek!" umpatnya.

__ADS_1


__ADS_2