
“Hentikan!” Marcel tidak tahan melihat hidung belang yang mesum di siang bolong, dia menarik kerah baju pria itu dengan kuat, pria itu langsung terduduk di lantai.
Pria itu terkejut dan jadi marah saat melihat pelakunya itu pengantar makanan yang terlihat seperti anak kuliahan.
Marcel menendangnya saat dia berusaha berdiri,
Tendangan itu kuat sekali dan hampir membuatnya pingsan.
“Bocah, kamu tahu aku siapa?” Pria itu berteriak keras.
“Aku tidak peduli, aku akan potong tanganmu jika berani melecehkan kak Ani!” Marcel tidak peduli dia siapa, bos Ani sangat baik padanya, tentu wajar kalau Marcel membantu Ani.
“Bagus sekali, pengantar makanan sok hebat, tunggu dan lihat saja nanti, dalam 10 menit aku akan membuatmu berlutut dan memohon padaku!” Pria itu akhirnya berdiri dan menunjuk Marcel sambil marah-marah.
“Brengsek!” Marcel kembali menendangnya, pria itu menggelinding keluar dari toko milk tea dan menarik perhatian banyak orang.
“Huhuhuhu!” Ani menangis hebat sambil menutup wajahnya di atas meja kasir.
“Kak Ani jangan takut, ada aku di sini!” Marcel menepuk pundaknya lalu memberi selembar tisu padanya, “Siapa pria itu?”
“Dia Hariyo, wakil direktur properti, dia khusus bertanggung jawab menagih sewa.” Ani berkata sambil mengelap air mata, “Kontrak sewa toko ini sudah hampir jatuh tempo, dia mau menaikkan sewa 30%, dan kita akan diusir kalau tidak menerimanya, aku memohon padanya dan dia mencari kesempatan melecehkanku......”
Marcel marah dan memukul meja. “Naik 30% sekaligus? Dia mau rampok, ya?”
“Kamu yang tidak tahu, posisi area pembelanjaan Mangga Dua ini sangat strategis, maka dia tidak takut tidak ada yang menyewa. Uang sewanya hampir selalu dinaikkan tiap tahun.” Ani tersenyum pahit, “Keuntunganku tipis karena milk tea buatanku memakai bahan yang berkualitas, aku akan rugi jika sewanya dinaikkan begitu banyak!”
“Kak Ani, tenanglah, serahkan masalah ini padaku, aku jamin uang sewanya tidak akan naik sepersen pun!” Marcel menepuk dadanya sendiri.
Kini seluruh area pembelanjaan ini sudah jadi miliknya, hanya masalah kecil jika mengratiskan sewa untuk Ani!
“Serahkan padamu?” Ani memegang kening Marcel, “Kamu demam, ya? Kenapa sembarangan bicara?”
“Tidak, perkataanku benar!”
“Lalu kenapa wakil direktur Hariyo harus mendengarkanmu?”
“Ka...... Karena aku kenal bos propeti di sini!”Marcel hanya bisa terpikirkan alasan ini.
“Kamu mengenal bosnya?” Ani hampir tertawa karena Marcel. “Apa hubungan kalian?”
“Dia salah satu keluagaku, jangan tanya lengkapnya.” Marcel hanya bisa mengatakan ini.
Hanya masalah kecil saja kalau mau menghapus uang sewa Ani.
“Serahkan padamu?” Ani mengusap kepala Marcel, “Tidak demam, kan?”
Ani mengusap keningnya dan terus berkata untuk apa sekarang
__ADS_1
Pokoknya dia itu salah satu kerabat keluargaku, jangan tanya detailnya padaku.” Marcel sekaligus berpesan.
Pintu tiba-tiba terbuka saat Ani masih ingin bertanya, ada sekelompok satpam berseragam yang masuk, ketuanya itu Hariyo, wakil direktur yang baru diusir.
Toko milk tea tidak luas dan langsung dipadati 10 orang lebih.
“Wakil direktur Hariyo, kamu mau apa?”
Ani terkejut dan memngira Hariyo barusan hanya emosi saja dan tidak menyangka dia sungguh membawa orang kemari.
Para satpam ini bekerja di area pembelanjaan Mangga Dua, semuanya terlihat kejam dan tidak berniat baik pada Marcel dan Ani begitu masuk.
“Mau apa? Lupa ucapanku barusan?” Hariyo tersenyum aneh, “Bocah, kini kamu punya 2 pilihan, berlutut dan benturkan kepalamu padaku 3 kali atau dihajar dan dibuang ke jalanan. Pilihlah sendiri!”
“Hariyo, memukul orang itu melanggar hukum, aku akan melaporkan kalian pada polisi!” Ani marah.
“Lapor saja kalau kamu bisa, bocah ini yang lebih dulu memukulku, aku mau lihat nanti polisi mau menangkap siapa!” Hariyo tidak takut pada polisi, “Masih ada lagi, mulai bulan depan, uang sewamu naik 50%, enyahlah kalau tidak menyanggupinya!”
Marcel menyeringai sinis. “Kamu hanya wakil direktur saja, sombong sekali, ya! Kamu memiliki seluruh area pembelanjaan ini sampai bisa menaikkan sewa sesuka hati?”
“Walau bukan milikku, tapi aku punya kuasa untuk itu. Kamu bisa apa padaku?” Hariyo arogan sekali, “Bocah, aku hitung sampai 3, kalau tidak benturkan kepala padaku dan minta maaf, jangan salahkan aku kalau tidak mengampunimu!”
“Aku ada di sini, majulah kalau bisa!” Marcel menarik Ani ke belakang, berniat menghadapi semua orang ini sendiri.
“Marcel, kamu gila, ya? Mereka akan membunuhmu!” Ani panik.
Kualitas kursi ini cocok sekali dan ruang lingkup serangannya cukup luas. Dengan fisiknya sekarang, Marcel merasa bisa menghadapi mereka.
“Anak tengik, kamu pemberani juga, nanti aku akan minta bawahanku mengampunimu.” Felix, ketua satpam mereka mengagumi Marcel, zaman sekarang sudah jarang bertemu anak muda seberani ini.
“Terima kasih.” Marcel langsung tahu dia bekas tentara dari sikapnya, maka sopan membalas ucapannya.
“Ketua Felix, untuk apa masih diam saja? Maju sekaligus!” Hariyo mendesak.
Felix tidak berani menyingungnya, hanya bisa melambaikan tangan sambil membawa bawahannya mengelilingi Marcel dan Ani.
Saat kedua pihak sedang bersiteru tegang, ada yang masuk ke toko milk tea.
“Kalian ini sedang apa?”
Ada pria paruh baya yang terlihat tegas membentak mereka.
“Apa urusanmu? Cepat......” Felix menoleh marah lalu menelan ucapannya kembali saat melihat jelas siapa yang bicara.
“GM...... GM Jeremy?!”
Ini general manajer perusahaan property area pembelanjaan Mangga Dua, Jeremy. Masih ada sekretaris cantik berkacamata yang mengikutinya dari belakang, dia membawa file.
__ADS_1
Jeremy terlihat dingin. “Wakil manajer Hariyo untuk apa kamu membawa mereka ke sini? Ingin bertarung?”
Hariyo segera berkata. “GM Jeremy, anda dengarkan penjelasan saya dulu, bocah ini yang memukulku, maka aku baru meminta ketua Felix kemari!”
“Kamu yang melecehkan kak Ani lebih dulu, masih ringan karena aku memukulmu!” Marcel mendengus dingin.
Pandangan Jeremy berbinar dan melewati kerumunan orang dengan sekretarisnya, dia bertanya dengan hormat. “Permisi, apakah anda bernama Marcel?”
Ada apa ini?
Setelah melihat sikap Jeremy, Hariyo dan sekelompok satpam jadi syok, mulut Ani sampai terngaga.
Jeremy ini milyader dan begitu hormat pada anak muda pengantar makanan ini?
Marcel berkata datar. “Di sini terlalu banyak orang, kita bicara di tempat yang tenang saja.”
Jeremy mengangguk. “Baik, silahkan pak Marcel naik ke mobil!”
Dia membalikkan badan dan membentak semua orang. “Pergi dari sini dalam 10 detik! Atau besok tidak perlu masuk kerja lagi!”
Hariyo takut sekali dan kabur dengan sekelompok satpam itu dalam sekejap.
Marcel tersenyum simpul. “Kak Ani, aku akan segera kembali.”
Ani menahan tangannya. “Marcel, tadi kamu bilang kerabatmu bos di sini? Itu benar?”
“Tentu saja, aku tidak bohong padamu.” Marcel terkekeh lalu keluar dari toko milk tea.
Ada Bentley abu-abu yang parkir di jalan, itu mobil kantor yang dikemudikan Jeremy.
Setelah duduk di dalam, Jeremy menuangkan segelas wine untuk Marcel.
Marcel menolaknya. “Nanti aku masih mau mengantarkan pesanan, tidak boleh minum alkohol.”
“Pfff!” Sekretaris yang terlihat elegan tidak sanggup menahan tawanya setelah mendengar ucapan Marcel.
Jeremy juga tidak memaksanya dan mengeluarkan sekaleng jus dari kulkas mobil, kali ini Marcel tidak menolak.
“Pak Marcel, ini kontrak kepemilikan area pembelanjaan Mangga Dua, di dalamnya ada data lengkap mengenai semua property, silahkan anda periksa dan tanda tangani, dengan begini, ambil alih kepemilikan akan selesai.” Jeremy menerima file dari sekretarisnya dan memberinya pada Marcel.
Marcel melambaikan tangan begitu melihat file yang tebal itu. “Tidak perlu dilihat lagi, katakan saja aku harus tanda tangan di mana. Oh ya, kedepannya di larang mengungkap identitasku tanpa persetujuanku, agar tidak mengganggu pekerjaanku mengantar makanan.”
Jeremy dan sekretarisnya saling bertatapan dalam diam, ini property senilai miliaran, kenapa Marcel merasa biasa saja sampai mengantar makanan lebih penting baginya?
__ADS_1