
“Sial!” Marcel sungguh emosi saat mendengar Edy mau memperbudak Angelina dengan rekaman itu.
Kawan lamanya malam ini akan dalam masalah jika tadi dirinya tidak banyak berpikir.
“Kak, marahlah, tapi jangan hajar aku!” Edy ketakutan.
Marcel menyeringai sinis: “Hebat ya kamu. Ini bukan pertama kali, kan? Keluarkan semua file yang telah kamu rekam!”
Edy tidak berani menyembunyikannya: “A...... Ada di I-pad dan di ponsel.”
Marcel mengambil I-pad dan melihat isinya, ada 20 lebih video di dalamnya, masing-masing diberi nama penyiarnya.
Saat ini, pintu kamar mandi terbuka, dia melihat Cyanita yang hanya memakai handuk membopong Angelina keluar.
Cyanita terkejut saat melihat keadaan di kamar dan hampir melepaskan pegangannya.
“Pakaikan kembali bajunya.” Marcel memalingkan wajah dan tidak berani melihat hal tak sopan ini, dia langsung mencekik leher Edy.
Cyanita tidak berani bicara dan menuruti Marcel.
Beberapa menit kemudian, Angelina yang dibius perlahan tersadar dan melihat Marcel yang dikenalinya.
“Marcel!” Dia terdengar senang, “Kenapa kamu bisa ada di rumahku?”
“Ini rumahmu? Lihatlah baik-baik.” Marcel tersenyum pahit.
Angelina baru tersadar kalau kamar ini bukanlah rumah sewaannya, dekorasinya seperti hotel dan masih ada orang lain di sini.
Dia terkejut saat melihat Edy yang hanya dalam balutan handuk. Dia segera melihat Cyanita: “Cyan, sebenarnya ada apa ini? Bukankah tadi kamu bilang mau mengantarku pulang? Kenapa aku bisa ada di sini?”
“Ma...... Maafkan aku......” Cyanita menundukkan kepala menangis.
“Jangan tanya lagi, semua ini seperti yang kamu pikirkan.” Marcel berkata datar, “Syukurlah aku datang tepat waktu untuk menggagalkan aksinya.”
Angelina langsung ketakutan, dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi kalau kawan lamanya tidak muncul!
“Kamu yang putuskan bagaimana mengurus hal ini.” Marcel berkata.
Angelina yang polos ini tidak pernah menemui hal ini dan dia percayakan pada Marcel: “Marcel, kamu yang putuskan saja, aku ikut saja!”
“Aku sarankan lebih baik lapor polisi.” Marcel tidak ragu-ragu, “Pria seperti dia yang semena-mena pada wanita karena hanya punya sedikit uang harus dihukum!”
__ADS_1
“Jangan... Aku tidak ingin masuk penjara!” Edy sungguh ketakutan.
“Kenapa kamu mau berbuat begitu kalau tahu akan dipenjara?” Angelina langsung mengeluarkan ponsel.
Wajah Cyanita langsung pucat pasi setelah Angelina melapor polisi, tapi dia juga merasa bersalah dan tidak bisa lepas dari hal ini.
Dia mungkin akan dituduh bersekongkol dengan pelaku, tapi akhirnya dia juga terlepas dari jeratan Edy......
Setelah tertunda sehari oleh paman dan keluarganya, Marcel kembali mengantarkan pesanan dengan gembira.
Motor listriknya belum dicharge karena kemarin tidak kerja, dia hanya bisa mengendarai mobil balap Veneno untuk mengantar pesanan.
Pelanggan pertama tinggal di perumahan kelas menengah, Marcel pernah datang mengantar pesanan kemari dan dipersulit saat keluar masuk. Selain harus dicatat, juga harus memeriksa KTP. Dia merasa seperti masuk ke daerah militer saja.
Tapi, kali ini satpam yang berada di pintu gerbang langsung membiarkan dia masuk saat melihat mobil balap Veneno.
“Gedung nomor 29, kamar nomor 801......” Marcel sedikit bingung setelah parkir mobil, dia tidak mengenali area ini dan sama sekali tidak tahu gedung 29 ada di mana.
Saat ini dia melihat wanita paruh baya yang membawa bungkusan.
“Halo, tante. Numpang tanya gedung nomor 29 ada di mana, ya?”
“Benar.”
“Kalau begitu, aku tidak boleh memberitahukannya padamu.” Dia menggeleng.
Marcel terkejut: “Lho? Kenapa?”
Tante berkata dingin: “Karena aku tinggal di gedung nomor 29, makanya tidak boleh bilang padamu!”
“A...... Apa hubungannya?” Marcel kebingungan.
“Tentu saja ada!” Tante berkata ketus, “Kamu pasti mau mengikutiku kalau aku bilang gedung nomor 29 ada di mana, kan!”
Marcel mengangguk: “Tentu saja. Kita kan searah......”
“Kalau kita jalan bersama, kamu pasti mau membantuku membawa barang-barang ini, kan?”
“Hm...... Iya...”
“Kalau kamu membantuku membawa bungkusan ini, aku pasti akan sungkan dan akan wajar kalau memberimu minum saat sudah sampai di rumahku, kan?
__ADS_1
“I...... Iya.”
Marcel semakin bingung saat mendengarnya.
“Nah, masalahnya, kalau putriku melihatmu saat minum, dia pasti akan minta kontak Whatsapp-mu karena kamu tampan. Kalau kalian cocok, bukankah kamu akan beruntung menikahi putriku yang cantik yang sudah susah payah kubesarkan? Kamu hanya menantu miskin yang tidak sanggup membeli rumah. Bagaimana nasibku saat tua nanti? Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi!”
Logika macam apa ini? Aku hanya mengantarkan makanan saja, siapa yang mau menikahi putrimu?
Marcel kehabisan kata-kata, tante ini kebanyakan menonton drama di TV dan membayangkan kejadian yang hanya akan terjadi di sinetron ......
“Sudahlah, tante. Aku tidak akan tanya lagi agar masa tuamu tidak menderita!”
“Jangan kira aku tidak tahu apa niatmu. Kamu ingin mengikutiku diam-diam dan mengingat nomor rumahku, lalu mencari kesempatan datang bertamu, kan!” Tante tersenyum sinis seperti sudah tahu semuanya.
“Aku acungkan jempol untukmu.” Marcel memberi acungan jempol, “Begini saja, aku minta pelanggannya turun untuk mengambil pesanan saja. Oke, kan?”
“Baik, aku akan duduk menunggu di sini dan akan pulang setelah kamu pergi!” Tante meletakkan barang di kursi batu di samping jalan dan duduk.
Marcel tersenyum pahit dan mengeluarkan ponsel.
“Halo, kak, pesanannya sudah sampai.”
“Antar ke atas saja, aku ada di rumah.” Ini pelanggan wanita dan suaranya indah.
“Begini, ada seorang tante yang tidak mengizinkanku naik ke gedung nomor 29, bisakah kakak turun mengambilnya di parkiran?”
“Apa? Kenapa bisa ada orang seperti itu? Aku rasa kamu yang malas naik!” Kakak itu tertawa ketus.
“Sungguh, tante itu takut aku mengencani putrinya dan terus menunggu di sini.” Marcel tersenyum pahit, “Kalau tidak percaya, kakak bisa turun dan lihat sendiri, kakak bisa batalkan pesanan kopi ini kalau aku bohong.”
“Kok bisa ada masalah begitu? Baiklah, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.”
10 menit kemudian, seorang gadis cantik datang ke parkiran.
“Ibu! Kenapa ada di sini?”
Gadis itu terkejut saat melihat ibunya yang berada di sana.
“Eh? Putriku, kenapa kamu datang?” Si Tante juga terpaku.
Bersambung
__ADS_1