
“Bocah ini sampai dengan cepat!” Hariyo terlihat kesal karena terganggu dan tidak sempat bersenang-senang.
“Hei, bocah, kamu tidak lapor polisi, kan?” Harwinto berdiri dan melihat Marcel dengan sinis.
“Kamu buta, ya? Hanya ada aku sendiri di luar.” Marcel berkata datar, “Ini uangnya, Ani di mana?”
“Di sini!” Terdengar suara Hariyo dari lantai atas.
Marcel menoleh ke atas dan melihat Ani yang terikat tali tambang didorong keluar, ada Hariyo yang berdiri di belakangnya.
Harwinto tersenyum dingin: “Bawa ke sini uangnya!”
“Lepaskan dia dulu.”
“Baiklah, Jodi, Dedi, kunci pintunya baik-baik!”
“Baik, Kak Harwinto!”
Keduanya segera ke depan lalu mengunci pintu besi di belakang Marcel, mereka sengaja bersandar di pintu untuk menghalangi jalan keluar Marcel.
“Sudah bisa melepaskan Ani?” Marcel tersenyum pelan.
“Bocah tengik, kamu tidak bisa mengatur lagi karena sudah masuk ke gudang ini! Hahahaha!” Harwinto tertawa keras, “Kawan-kawan, tangkap dia!”
“Kalian mau apa?”
“Masih tanya? Tentu mau sekalian menculikmu!” Harwinto berkata, “10 miliar terlalu sedikit dan tidak cukup kami bagi. Kami tidak akan melepaskanmu karena sudah datang kemari!”
Marcel menyeringai dingin, “Kalau begitu, ayo kita adu!”
“Kamu pernah berlatih kungfu?” Harwinto tidak menyangka, “Ayo serang, tangkap dia!”
“Baik!”
Pria kekar berwajah gemuk menyerang dan melebarkan lengan ingin menangkap Marcel.
Tercium bau busuk yang menjijikkan dan Marcel hampir muntah karenanya.
Marcel menaikkan kaki kiri dan bertumpu pada kaki kanannya untuk berputar, dia berhasil menghindari serangan ini lalu menendang bokong pria kekar itu.
Kedua kekuatan bergabung jadi 1 dan pria kekar kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh menabrak temannya, keduanya langsung pingsan.
__ADS_1
Marcel menghajar beberapa orang dengan menggunakan koper, Harwinto emosi sekali dan mengambil pisau yang tajam dari bawah meja untuk menyerang.
Sret!
Karena Harwinto menyerang dengan ganas, Marcel ingin melindungi diri dengan menaikkan tas di tangannya, tas itu terbelah 2 karena pisau yang sangat tajam, kertas putih yang diikat di dalamnya langsung terjatuh ke lantai.
“Ka...... Kamu! Kamu berani membohongi kami dengan menggunakan kertas?!” Hariyo di lantai atas langsung emosi sekali.
Marcel menyeringai dingin: “Tentu ini bukan uang asli. Kalau tidak, mana mungkin aku bisa sampai secepat ini.”
“Berani sekali kamu menipuku! Baik! Rasakan akibatnya!” Hariyo yang marah mengarahkan pisau lipat ke leher Ani, “Aku akan membunuhnya kalau kamu tidak menyerah!”
“Huhuhuhu......”
Mulut Ani kembali disumpal stoking dan hanya bisa menggumam saja.
Marcel melemparkan tas dan meletakkan tangan ke belakang badannya: “Jangan gegabah, aku sudah melemparkan tasnya!”
Hariyo berkata bangga: “Harwinto, ikat dia!”
“Baik!” saat Harwinto sedang mengambil tali, tiba-tiba terdengar suara mesin yang meraung dari luar pintu gudang.
Harwinto langsung membelalakan mata: “Brengsek! Apa ini tank?”
Marcel dengan cepat memanjat ke atap SUV Kombat sambil mengendalikan arah mobil dari jam tangannya.
“Hati-hati, Kak!” Harwinto berteriak panik saat melihat mobil di lantai bawah mau menuju ke atas.
“Klang!”
Kepala mobil yang dilapisi baja menabrak pagar besi dengan kuat, 2 orang yang berdiri di atas jadi sempoyongan dan terjatuh. Mereka berdua menjerit.
Marcel melompat dan menggendong Ani, kemudian kembali mendarat di atap mobil, Hariyo tidak seberuntung itu dan kepalanya membentur atap mobil. Kepalanya berdarah dan terjatuh ke lantai.
“Jodi, bunuh dia!”
Mata Harwinto memerah karena emosi melihat kakaknya hampir mati, Jodi langsung mengeluarkan senjata laras pendek dari pinggangnya!
Senjata ini sangat akurat jika ditembakkan dari jarak dekat dan bisa langsung membunuh orang. Harwinto tidak akan meminta Jodi menggunakannya jika tidak dalam keadaan terdesak.
__ADS_1
Saat ini, Marcel dan Ani sudah masuk ke dalam mobil melalui jendela, dia tidak peduli pada senjata diarahkan padanya dan langsung mengendarai mobil menerobos keluar dari gudang.
“Pang!”
Jodi menembak ke arah pengemudi dan yang membuatnya tercengang, kaca mobil Marcel tidak rusak, banyak peluru terpantul ke segala arah dan hampir melukai dirinya sendiri!
Marcel menginjak gas dalam-dalam, mobil SUV Kombat langsung menabrak dinding besi gudang dan akhirnya berhasil keluar.
Selain suara deru mesin mobil yang keras, juga terdengar suara sirene mobil polisi.
“Gawat, rupanya bocah brengsek ini lapor polisi!” Harwinto dan Jodi tidak berani berada di sana dan kabur dari lubang di belakang gudang, mereka menghilang dalam kegelapan malam......
Akhirnya, polisi menangkap Hariyo yang pingsan dan 5 orang kriminal lainnya, Harwinto dan Jodi jadi buronan.
Ani yang terselamatkan langsung memeluk Marcel dan menangis sampai ada polisi wanita yang mengetuk jendela mobil.
“Kalian berdua turunlah, ikut aku ke kantor polisi untuk memberi pernyataan.”
Marcel menoleh dan melihat polisi wanita ini berambut pendek sampai batas telinga, pipinya merah merona dan cantik sekali.
Marcel tersenyum pelan: “Nona cantik, bosku baru diculik dan syok, bisakah biarkan dia tenang dulu baru beri pernyataan ke kantor polisi?”
Wenny mengerutkan alisnya dan terdengar dingin, “Cepat turun dari mobil!”
“Nona cantik, kami ini korban, tidak perlu segalak ini, kan?” Marcel jadi serius, “Akan muncul kerutan jika kamu sering mengernyitkan alis. Wajahmu juga akan mudah menua jika selalu tegang.”
“Pfff!”
Ani akhirnya tertawa karena Marcel.
Tebal muka sekali! Sungguh tidak tahu malu!
Wenny ini wanita cantik yang terkenal dingin di anggota kepolisian. Dia tidak bisa terima lelucon Marcel dan segera marah.
“Aku ragu kamu berhubungan dengan Harwinto yang buron! Berdiri dan menghadap ke dinding, letakkan tangan di balik kepala dan berlutut!”
Marcel langsung terkejut: “Jangan begitu dong! Aku hanya bercanda saja!”
Wenny tersenyum dingin: “Siapa yang bercanda denganmu!”
Dia maju ke depan dan memegang Marcel. Saat mau memutar lengan Marcel ke belakang agar terasa sakit, dia menyadari lengan Marcel sekuat besi dan tidak bisa diputar......
__ADS_1