Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan

Sistem Kekayaan: Bos Pengantar Makanan
Kesialan


__ADS_3

“Jangan kira aku akan takut karena kamu kapten tim basket!” Donny berteriak dan menghalangi Matthew.


Matthew hanya melihatnya dengan tatapan datar dan menerobos sambil mendribble bola.


Gerakannya cepat sekali sampai Donny dan yang lainnya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia melesat hilang dalam sekejap!


“Gawat!” Casto yang terpincang hanya bisa datang menghadang, tapi Matthew masih saja bisa melewatinya dengan mudah dan berhasil melempar bola ke dalam ring, 35 poin lawan 29 poin!


“Jangan patah semangat, kita pasti bisa!” Donny berteriak keras, Marcel juga menyemangati dari luar lapangan. Mereka bertiga masih tetap kompak, tapi poin pihak lawan semakin mengejar.


Erwin melempar bola, belum sempat Casto membalikkan badan, bola sudah direbut Matthew. Dia langsung melempar masuk ke dalam ring dari batas 3 poin, 35 poin lawan 32 poin!


Bola ketiga, Donny dihadang habis-habisan, bolanya direbut Erwin dan dioper ke Matthew, dia kembali melempar bola ke dalam ring dari batas 3 poin. Poin mereka seri!


Richard berhasil memasukkan bola, 35 poin lawan 37 poin.


Erwin berhasil melakukan slam dunk, 35 poin lawan 39 poin.


......


Dalam 3 menit, Donny dan kawan-kawan tidak berhasil menambah poin, bahkan pihak lawan jadi menang 12 poin lebih banyak dari mereka!


Setiap Matthew berhasil memasukkan bola, seluruh penonton akan berteriak dan bertepuk tangan meriah. Itu membuat tim Donny patah semangat. Mereka tertekan oleh dukungan pada pihak lawan.


Saat tersisa 50 detik terakhir, Erwin bermain kasar dan Casto yang menghadangnya kembali terjatuh ke lapangan. Kali ini dia tidak diberi peringatan oleh wasit, Donny dan Benard tidak bisa berkata apa-apa.


Poin terkini: 35 poin lawan 49 poin.


“Casto dan tim sudah pasti kalah.” Ariani menghela nafas pelan. Sejujurnya, dia sedikit menyukai Casto. Erwin jelek sekali seperti raksasa. Dia tidak ingin berkencan dengannya......


Lain halnya dengan Silvia dan Henny, sedangkan pandangan Natalia tertuju pada Matthew.


Siapa pun dapat melihat kalau Natalia menyukai Matthew.


“Don, Ben, kali ini aku sungguh tidak sanggup lagi......” Casto tidak bisa berdiri dan nafasnya terengah-engah.

__ADS_1


“Don, bagaimana kalau kita mengaku kalah saja?” Benard terlihat sedih.


Mereka tidak punya harapan untuk menang lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Casto, bagaimana bisa lanjut bertanding?


“Mengaku kalah? Aku tidak salah dengar? Hahahahaha!” Erwin tertawa keras, “Rupanya Donny bisa berkata begitu, sayang sekali dulu aku membanggakanmu!”


“Sudah tidak ada yang bisa menggantikan Casto. Bisa bagaimana lagi kalau tidak menyerah?” Benard marah-marah.


“Kata siapa? Bukankah masih ada Marcel, teman sekamar kalian? Biarkan dia yang menggantikan! Yang jadi simpanan itu.” Rendy berteriak keras.


Dia sengaja menekankan kata “Simpanan” itu, dan semua penontong langsung tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha, dia sudah lelah melayani tante kaya, jadi tidak sanggup bermain basket lagi!”


“Memalukan kampus kita saja, kenapa dia tidak inisiatif berhenti kuliah saja? Aku jijik kalau memikirkannya!”


“Sudahlah, dia itu hebat sampai bisa meminta orang bertemu Dekan kampus untuk menghapus post yang berhubungan dengannya.”


“Tante kaya yang hebat, bukan dia!”


“Dia hanya sedikit tampan, sungguh tidak tahu apa yang dipikirkan tante kaya itu, aku merasa Matthew lebih hebat berkali-kali lipat daripada dia......”


“Tidak rugi aku menghabiskan puluhan juta untuk post itu. Walaupun sudah dihapus, tapi efeknya ada!” Rendy terdengar senang dan merasa hebat.


Donny tentu tidak ingin Marcel terluka, badan Marcel yang kurus kecil pasti akan pingsan jika ditabrak lawan!


Saat dia mau minta wasit mengumumkan kekalahan, Marcel tiba-tiba berjalan ke lapangan basket.


“Wasit, aku mau jadi pengganti!”


“Marcel, jangan mengacau, cepat pulang!” Benard terkejut oleh tindakannya.


“Aku tidak mengacau, ini pertandingan dan tidak ada peraturan bisa mengaku kalah sebelum pertandingan berakhir.” Marcel berkata datar, “Casto sudah terluka, aku bisa menggantikannya!”


“Baiklah, aku paling suka orang yang berani sepertimu, wasit, cepat ganti pemain!” Erwin sangat mengharapkan hal ini, dia menginginkan uang komisi dari Rendy dan bisa berkencan dengan Ariani. Mantap!

__ADS_1


Donny tak berdaya dan hanya bisa mengingatkan: “Nanti kamu jauhi Erwin si brengsek itu, aku takut kamu akan terluka.”


“Tenanglah, aku akan hati-hati.”


Wasit memberi kode untuk meneruskan pertandingan. Erwin yang memegang bola.


Erwin berdiri di samping Marcel, dia merasa bisa menghabisinya dalam sekali serang saat melihat badan Marcel yang kurus kecil.


“Jangan takut, nak, aku pasti akan melindungimu baik-baik!”


“Oh benarkah?” Marcel tersenyum datar dan tiba-tiba berlari ke arah Benard untuk menerima bola.


“Bocah ini cepat juga!” Benard terkejut dan saat baru mau mengejar, Marcel sudah melemparkan bola dan berhasil masuk ring!


“Dia bisa main basket, ya? Sampai bisa melempar masuk ke ring dari tengah lapangan. Sungguh seperti mimpi, kenapa seperti tolak peluru saja!” Semua orang merasakan hal yang sama.


“Donny, rebut bolanya!” Benard terlalu jauh dan hanya bisa berharap pada Donny.


“Baik!”


“Masih ingin rebut? Mimpi, ya!” Richard menyeringai sambil melompat, dia lebih hebat dari Donny dan dulu memenangkan banyak pertandingan!


Matthew sudah berlari ke arah garis batas 3 poin, asalkan teman timnya bisa merebut bola, dia akan bisa langsung menangkapnya dan terus menambah poin.


“Lompatan Richard tinggi sekali, Donny sama sekali tidak bisa menang darinya.”


Di saat semuanya tidak yakin pada kemampuan Donny, bola sudah memantul di papan ring dan berhasil masuk ke ring.


Donny berhasil mencetak 3 poin dari tengah lapangan!


38 poin lawan 49 poin!


Tidak sampai 4 detik, Marcel sudah menyumbang 3 poin.


“Sial, kemampuannya hebat sekali!”

__ADS_1


“Beruntung sekali!”


“Kemampuan fisik Marcel lumayan hebat, tidak heran bisa memuaskan tante kaya!”


__ADS_2