
“Bos, ini kunci mobil, bahan bakarnya sudah penuh!” Marlina membungkuk hormat saat bertemu Marcel dan menunjukkan badannya yang sempurna.
“Terima kasih.” Marcel menerima kuncinya lalu memberikan kunci mobil Veneno padanya, “Aku pinjamkan mobilku selama 2 hari ini, bahan bakarnya juga sudah penuh.”
“Ti...... Tidak perlu, bos! Mobil ini terlalu mahal, aku tidak berani mengemudikannya!” Marlina terkejut oleh tindakan Marcel, dia hanya sekretaris dan tidak berani, dia tidak akan sanggup ganti rugi jika mobilnya rusak, walaupun sudah jual diri!
Marcel tentu tahu Marlina mencemaskan apa. “Jangan takut, kamu kemudikan saja, aku yang akan tanggung jika terjadi sesuatu, aku buru-buru. Bye!”
Dia duduk di mobil Toyota Altis dan mengemudikannya keluar dari kampus, meninggalkan Marlina yang terpaku......
Saat ini jam ramai di siang hari dan macet, saat masih berjarak 5 km dari stasiun bus, paman Marcel menelepon.
“Marcel, kamu ada di mana?” Paman terdengar galak, “Kami sudah menunggu lama di stasiun bus, kaki pun sudah kebas!”
“Paman, aku masih di jalan, segera sampai!” Marcel melihat jam dan masih 30 menit lagi baru jam 1 siang. Mereka sampai lebih awal?
“Cepat sedikit, jangan biarkan kami menunggu terlalu lama, kaki tantemu tidak kuat dan akan sangat capek jika berdiri!”
“Ya, baik. Aku segera sampai!”
Pamannya langsung menutup telepon tanpa mengatakan apa pun.
Sampai ayah Marcel pun tidak berdaya menghadapi sifat keluarga pamannya, apalagi Marcel.
Saat Marcel buru-buru ke sana, mereka bertiga masih di perjalanan menuju Jakarta.
“Si bocah ini masih belum sampai stasiun bus, sungguh minta dihajar!” Tantenya terlihat seperti sudah menebak hal ini.
“Syukurlah kamu menebaknya lebih dulu, kalau tidak, kita bertiga akan menunggunya dan akan aneh sekali!” Paman mengacungkan jempol.
Tante menyeringai dingin. “Suamiku, bukan aku meremehkan adikmu, tapi keluarga mereka miskin, nanti kurangilah silahturami dengan mereka setelah anakmu menikah nanti.”
“Istriku, benar ucapanmu, sebenarnya kali ini aku juga tidak ingin keponakanku yang menjemput, aku hanya tidak bisa menolak permintaan adikku!” Paman tersenyum pahit, “Kali ini ya sudahlah, lagipula kita tidak pernah ke Jakarta, bagus juga kalau ada tour guide gratis.”
“Kalian berdua sudah selesai? Jangan menggangguku mengobrol dengan Fitri!” Bambang yang sedang menelepon via Whatsapp langsung marah.
Kedua orang tua ini langsung tidak berani bernafas.
Penumpang lain di sekeliling mereka hanya bisa menggeleng dalam diam saat melihat keluarga yang begini......
Marcel langsung berlari masuk ke stasiun bus begitu selesai parkir, dia keliling 2 kali dan belum melihat paman dan keluarganya.
__ADS_1
Saat dia mau menelepon paman, dia tanpa sadar melihat ke atas dan emosi sekali.
Kalau dia tidak salah ingat trip mobil, mobil yang dinaiki paman dan keluarganya baru akan sampai di jam 13.15, masih ada 30 menit!
“Sialan...” Kalau mereka bukan tetua, Marcel sudah menelepon dan membentak mereka.
Dia ini keponakan kandung dan dikerjai begini?
Dia hampir menerobos lampu merah karena mengejar waktu!
Marcel ingin menelepon dan komplain pada ayahnya namun akhirnya bersabar juga.
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya paman dan keluarganya keluar dari gerbang.
“Paman, tante, Bambang!” Marcel menyapa mereka satu per satu dan membantu pamannya mengambil bagasi.
“Ya!” Tante mendengus dan Bambang hanya cuek sambil terus menunduk dan memainkan ponselnya.
Bambang sudah jadi gendut karena terus berada di rumah saja.
Paman mengangguk. “Marcel, kali ini kamu lumayan tepat waktu.”
Marcel hampir meluapkan emosinya, sialan! Aku sudah menunggu 30 menit. Apa bisa terlambat?
“Pamanmu takut kamu lupa waktu, barulah dia sengaja berkata begitu.” Tante mendengus sinis, “Ini agar kamu tahu waktu itu berharga, mengerti?”
“Ya, mengerti, aku bawa kalian makan dulu, ya?” Marcel merasa kini sudah terlambat menyesal karena sudah menyanggupi ayahnya.
Paman bertanya bingung saat berjalan kearah parkiran mobil. “Marcel, kita bukan naik taksi?”
“Aku mengendarai mobil ke sini, tidak perlu taksi.” Marcel berkata santai.
“Mengendarai mobil?” Paman dan tante saling berpandangan dan sulit percaya.
“Suamiku, bukankah keponakanmu masih kuliah? Kenapa bisa punya mobil?” Tante berbisik.
“Tidak tahu, mu...... Mungkin sewaan, ya?” Paman berkata, “Sekarang banyak yang bisnis sewa mobil, katanya paling murah sewanya sehari hanya sekitar 400 ribuan, hanya perlu menahan KTP dan sudah bisa menyewa mobilnya.”
“400 ribuan? Mobil itu sebobrok apa? Minibus?” Tante menyeringai sinis, “Kita akan malu sekali jika ke rumah besan dengan mobil bobrok ini.”
“Benar juga, lihat saja dulu baru kita bahas lagi......”
__ADS_1
Keduanya berbisik tapi tidak menyangka Marcel mendengarnya dengan jelas.
Dia punya kemampuan fisik dasar, panca inderanya lebih tajam dari orang biasa.
Paman dan tante lega saat melihat Toyota Altis itu, syukurlah bukan mobil yang terlalu murah, akan tidak malu sekali kalau bertemu besan.
“Keponakanku, kamuu membeli mobil ini?” Tante sengaja bertanya.
Marcel lebih baik menjawab. “Aku sewa dari teman, sehari 500 ribu.”
Rupanya begitu!
Paman dan tante tertawa dingin dalam hati.
Setelah menyalakan mobil, Marcel bertanya. “Kalian ingin makan apa? Maukah mencoba kuliner khas Jakarta?”
Paman menjawab. “Makan mie apa saja juga boleh, tidak perlu terlalu mahal.”
“Aku mau makan hotpot.” Bambang tiba-tiba berkata, “Fitri bilang restoran XO Suki di area pembelanjaan Mangga Dua sangat enak.”
Tante segera memutuskan. “Makan hotpot, nak, kamu tahu jalan?”
“Ya.” Marcel mengangguk. Restoran XO Suki hanya berjarak tidak sampai 200 meter dari toko milk tea Ani, restorannya ramai sekali dan harganya lumayan mahal.
“Agak mahal, Marcel masih kuliah.” Paman berkata.
“Mahal apanya? Menurutlah pada putramu, paling juga aku yang bayar saja!”
“Jangan begitu, Marcel sudah bilang mau mentraktir kita makan.”
Saat mendengar keduanya berdebat, Marcel akhirnya tidak tahan lagi. “Tenanglah, tante, restoran XO Suki tidaklah mahal, aku yang traktir saja!”
“Baiklah.” Tante langsung diam.
Setelah sampai ke restoran hotpot, Bambang yang khusus memesan makanan dan sudah pesan puluhan jenis, sampai 3 troli makanan sudah penuh!
“Ini kebanyakan!” Paman diam-diam melihat menu dan putranya masih mau pesan banyak. Jumlahnya terlalu sedikit dan penuh minyak.
“Apanya yang banyak? Putramu sudah mau menikah, kenapa kalau mau menjaga stamina?” Tante menjulingkan mata padanya? Kalau tidak dihabiskan, Marcel bisa bungkus pulang untuk bagi-bagi dengan teman sekamarnya.”
Marcel hanya bisa merasa tuli......
__ADS_1