
“Arya, pernikahanmu ini tidak terlalu buru-buru?” Marcel bertanya.
Ini seperti pernikahan kilat saja, dia dan calon istrinya baru kenal 4 bulan semenjak putus dari Lenny. Ini terlalu cepat, kan?
Marcel teringat pacar online adik sepupunya dan takut temannya akan menemui hal yang sama.
“Tidak, karena aku bisa pastikan dia sungguh mencintaiku.” Arya bersendawa karena minum bir, dia sedikit mabuk, “Lagipula, Lenny juga menikah lusa ini, aku ingin si ****** itu tahu kalau hidupku akan baik-baik saja walaupun tanpa dia, 7 tahun hubungan sialan!”
Marcel terdiam, kelihatannya Arya masih belum bisa melupakan Lenny, dia hanya ingin melampiaskan emosinya dengan pernikahan di lusa nanti……
Keesokan harinya, Arya kembali ke Malang pagi-pagi sekali, masih banyak yang perlu dipersiapkan untuk pernikahannya, Marcel lebih dulu izin sehari dengan bos Ani dan langsung disetujui.
“Marcel, bagaimana kalau aku menemanimu pergi? Bagus juga kalau bisa jadi pengiring pengantin!” Hari ini suasana hati Ani terlihat bagus dan masih bisa bercanda.
“Tidak bisa, bagaimana kalau kamu bergabung dengan pengiring pengantin lainnya dan sengaja mengerjaiku?” Marcel segera menolaknya.
Pernikahan zaman sekarang tidak sesimple dulu, pengantin pria dan pengiringnya harus melewati beberapa tantangan sebelum bisa menjemput pengantin wanita, biasanya pengiring pria dikerjai habis-habisan.
“Pelit, ya sudah kalau tidak mau……”
Di hari pernikahan Arya, Marcel sudah kereta api ke kota Malang sejak subuh, dia pernah berkunjung 2 kali ke rumah Arya dan dengan cepat menemukan rumahnya.
Rumah 4 lantai yang dulunya tua itu sudah direnovasi, banyak lampu-lampu dan semuanya sibuk. Ramai sekali.
“Ah, Marcel sudah datang! Ayo masuk!” Ibu Arya menyapa Marcel dengan ramah begitu melihatnya.
“Halo, Tante apa kabar?” Marcel tersenyum, “Selamat ya, Tan!”
“Terima kasih. Arya ada di lantai atas, aku sibuk sekali sekarang dan tidak sempat menemanimu.”
“Tidak apa-apa, tante sibuk saja dulu.”
Marcel mendengar percakapan Arya di telepon saat baru sampai ke lantai 2.
“Manajer Ghani, bukankah sudah deal sebelumnya? Aku juga sudah membayar uang muka mobil-mobil itu. Kenapa hari ini dibatalkan?”
“Aku sudah bilang akan kembalikan uang mukanya padamu. Aku tidak jadi menyewakannya untukmu!”
“Jangan Pak, hari ini aku menikah, bagaimana aku menjemput pengantin wanita kalau tidak ada mobil?”
“Aku tidak ikut campur urusanmu, pokoknya mobilnya sudah disewakan, nanti aku transfer uangnya kembali untukmu. Sudah ya, sampai jumpa!”
__ADS_1
“Hei! Halo? Halo, Pak? Halo~”
“Tut tut tut……”
Arya emosi sekali sampai matanya memerah, dia ingin membanting ponselnya ke lantai dan Marcel menahannya.
“Arya, ada apa dengan perusahaan penyewa mobilnya?”
Emosi Arya menggebu-gebu, “Sialan, Manajer Ghani itu dikenalkan temanku, sebelumnya dia jamin pasti bisa dapat mobilnya dan aku membayar uang muka tanpa kontrak, tidak kusangka si brengsek itu mencelakaiku!”
Marcel menepuk pundaknya dan menenangkan, “Jangan panik dulu, aku bantu kamu mencari solusinya.”
“Bisa ada solusi apalagi? Sudah mau pergi menjemput pengantin wanita!” Arya menghela nafas, “Sekarang aku hanya bisa meminjam mobil temanku untuk pergi ke sana.”
Beberapa pengiring pria punya mobil, totalnya 5 mobil dan salah satunya mobil Toyota Crown model lama.
Saat mereka sibuk mempersiapkan mobil pengantin, Marcel menelepon Jeremy.
“Bos, ada perintah apa?”
“Hari temanku mau menikah, persiapkan beberapa mobil mewah dan segera kirimkan ke Malang, alamatnya……”
Setelah menutup telepon, mobil pengantin sudah hampir selesai diberi pita, walaupun sederhana, tapi lumayan bagus.
“Nak, bisakah ini terlihat sedikit buruk?” Ayahnya khawatir, “Bagaimana kalau pihak besan keberatan?”
“Ayah, ini usaha terakhir kita, masih bisa bagaimana lagi?” Arya tersenyum pahit, “Orang tua Vonny juga lumayan baik, harusnya tidak akan keberatan.”
“Aku tidak takut mereka protes, aku cemas keluarga besarnya akan menggosip!” Ayahnya menghela nafas.
Orang Indonesia suka saling membandingkan, reputasi itu lebih penting daripada apapun, pasti akan ditertawakan jika tidak menjemput pengantin wanita dengan mobil mewah.
“Sudah tidak sanggup mengurus begitu banyak lagi, aku pergi dulu!”
Di dalam sebuah kompleks, Vonny sedang mengobrol dengan pengiringnya.
“Von, katanya hari ini mantan pacar suamimu juga menikah hari ini. Benarkah?” Salah seorang pengiring berkata.
Vonny tidak berniat menyembunyikannya dan tersenyum simpul, “Benar, dia juga tinggal di komplek ini.”
Pengiring lainnya berkata, “Kalian berdua akan berpapasan saat dijemput nanti?”
__ADS_1
Di Malang, jam jemput pengantin itu jam 12 siang, kalau tidak ada hal-hal yang menunda, kedua pasangan pengantin itu pasti akan berpapasan.
“Tidak masalah jika berpapasan, tapi bukankah akan canggung sekali jika mobil mantannya lebih mewah?” Pengiring yang gemuk itu bertanya cemas, “Von, suamimu bisa diandalkan dalam memilih mobil untuk menjemputmu? Mobil mewahnya banyak?”
“Aku juga tidak tahu.” Vonny berkata, “Harusnya lumayan……”
Saat sedang mengobrol, iringan mobil pengantin sudah memasuki area komplek.
Para pengiring jadi terkejut saat melihat mobil-mobil ini.
“Astaga, suamimu memilih mobil Toyota Crown sebagai mobil utama. Tidakkah sedikit murahan?”
“Ini bukan apa-apa, lihatlah di belakangnya, sampai ada mobil buatan lokal!”
“Oh My God! Hari ini aku sudah berdandan secantik ini, bukankah sedikit keterlaluan kalau memintaku naik mobil rongsokan ini?”
“Pokoknya aku tidak mau naik……”
Beberapa orang protes dan ekspresi pengantin wanita menjadi sangat canggung.
Di seberang rumah, ada sekumpulan gadis yang sedang memperhatikan iringan mobil ini, itu Lenny dan pengiringnya.
“Kak Lenny, ini mantan pacarmu, kan? Menyedihkan sekali, hahahaha!”
“Syukurlah kamu tidak menikah dengannya, dia sampai tidak sanggup menyewa 1 mobil mewah pun, sangat tidak berguna!”
Lenny juga sombong, “Dia selamanya akan tetap miskin, tidak akan kaya!”
“Wanita mana yang mau menikah dengannya? Aku akan malu sekali.”
“Jangankan menikah dengannya, aku pun tidak mau jadi pengiringnya!”
“Kalian diam dulu, di dalam mobil ada pengiring pengantin pria yang lumayan tampan!”
“Benarkah? Cepat biarkan aku lihat!”
Mereka menunjuk Marcel, dia memakai jas biasa sambil tersenyum datar, memang menarik perhatian.
Setelah turun mobil, walaupun Arya terus membagi angpao untuk menjemput pengantin wanita, para pengiring pria juga dipersulit, para pengiring pengantin masih tidak puas dan makin menjadi-jadi.
Mereka dengan susah payah sampai di luar pintu kamar pengantin wanita, mereka menghadapi tantangan paling sulit. Ada 100 gelas arak putih yang diletakkan di atas meja.
__ADS_1