
“Masih belum larut, barusan minumnya kurang puas, bagaimana kalau kita khusus pergi minum-minum?” Rendy memberi ide, “Aku tahu tempat yang baru buka, kita akan bersenang-senang!”
“Baik!” Susanti dan Veronica mengangkat kedua tangan pertanda setuju.
“Tidak baik jika pulang terlalu larut, bagaimana kalau gerbang asrama sudah dikunci?” Jessica itu gadis baik-baik dan jadi ragu.
“Khawatir apa? Masih ada kami, kamu takut tidak bisa masuk kamar?” Diana berkata dengan bangga, “Gerbang asrama dikunci jam 11 malam, kita pulang lebih awal saja.”
“Baiklah.” Melihat teman-temannya setuju, Jessica juga sungkan menolak.
Rendy melihat Marcel dan tersenyum. “Marcel, kamu mau ikut?”
“Tidak, besok aku masih harus kerja, kalian bersenang-senanglah.” Marcel malas melihat mereka bermesraan.
“Gaji pengantar makanan juga tidak seberapa, kan?” Rendy tertawa, “Perusahaan ayahku membutuhkan office boy, gaji sebulan di masa training juga ada 8 juta, bisa jadi karyawan tetap kalau kamu sudah tamat, bagaimana?”
Marcel menggeleng. “Tidak, aku menyukai pekerjaanku mengantarkan makanan, sering ada kejutan yang tidak terduga.”
Beberapa orang lainnya terlihat merendahkan Marcel, pekerjaan mengantar makanan masih bisa ada kejutan?
“Pelayan, minta tagihan, ya!” Diana melambaikan tangan, pelayan yang sudah menyiapkan tagihan segera kemari.
“Maaf, siapa yang bayar, ya?” Dia membungkuk dan bertanya.
Marcel berkata. “Aku saja.”
Walaupun makan malam ini tidak menyenangkan karena Diana yang mengundang begitu banyak orang, tapi dia sudah berjanji mentraktir.
Pelayan tersenyum. “Pak, ini tagihan malam ini, silahkan diperiksa lagi!”
Marcel melihatnya dan mengerutkan alis. “Semuanya 96 juta termasuk sewa ruangan......”
Setelah mendengar nominal tagihannya, Susanti dan yang lainnya saling berpandangan dan tersenyum, hanya Jessica yang tidak tega.
“Astaga, kenapa mahal sekali.” Marcel terlihat marah dan pura-pura terkejut, dia mengeluarkan ponsel lamanya dari saku.
Pelayan jadi bingung, orang ini mengemudikan mobil balap seharga miliaran dan bisa komplain makan malam ini mahal?
Melihat yang lainnya senang karena mengerjai dirinya, Marcel memuji akting mereka dalam hati.
“Bagaimana kalau aku yang bayar?”
__ADS_1
Jessica tiba-tiba berdiri saat melihat yang lainnya diam saja.
Eh? Diana dan teman sekamarnya, serta Rendy dan Handoko terkejut.
Tidak disangka Jessica ini anak orang kaya, dia mau membayar tagihan semahal ini dengan mudah?
“Jess, kamu ini mabuk, ya?” Susanti sulit percaya, biasanya Jessica berdandan dan berpakaian biasa-biasa saja, dia tidak pernah membeli make-up, mereka bertiga mengira itu karena keuangan keluarganya.
“Aku tidak mabuk.” Jessica mengeluarkan ponsel dari tasnya dan sungguh ingin membantu Marcel membayar.
Rendy tidak tahan lagi dan menyeringai sinis. “Marcel, sedikit keterlaluan kalau kamu membiarkan seorang gadis membantumu bayar, kan?”
Handoko juga menambahkan. “Benar, jangan sok hebat kalau tidak punya uang!”
Diana pura-pura baik. “Kalian jangan menyalahkan dia, aku yang salah karena memilih hotel semahal ini, ini sudah melewati batas finansialnya......”
Marcel diam saja dan menyilangkan tangan sambil melihat mereka berakting.
“Tapi, juga tidak bisa membiarkan gadis yang bayar, kalau tersebar, aku dikiria menindas gadis!” Rendy serius, “Hanya 96 juta saja, aku yang bayar!”
“Marcel, kamu ini bagaimana sih? Bilang saja dari awal kalau kamu tidak punya uang. Akan mengherankan jika Diana mau jadi pacarmu!” Susanti menyalahkan Marcel, “Syukurlah malam ini ada Rendy. Cepat terima kasih padanya!”
“Marcel, kenapa kamu bicara begini? Rendy ini baik hati, kamu harus bersyukur!” Veronica bersikeras.
Walaupun Diana diam saja, tapi pikirannya bisa ditebak dari ekspresinya.
Marcel yang tidak menghargai kebaikan orang menjadi bahan ledekan semua orang, Jessica berniat membantunya bicara tapi Diana menahannya, sampai gadis berambut kuning ikut berkata sinis.
“Marcel, ingatlah pelajaran hari ini seumur hidupmu, jangan pura-pura hebat kalau tidak mampu, kamu akan celaka suatu hari nanti!” Rendy terdengar menggurui dan sok pengalaman. “Saat kamu sudah terjun ke masyarakat, kamu akan tahu ucapanku benar atau tidak.”
“Baik, terima kasih kak Rendy!” Marcel menyimpan ponselnya setelah mengatakannya. Karena Rendy suka pamer, biarkan saja, lagipula berterima kasih juga tidak sulit.
“Hanya masalah kecil, tidak sampai 100 juta.” Rendy mengambil tagihan dan melihatnya sekilas lalu mengeluarkan ponsel untuk membayar.
“Pak, masih ada selembar tagihan di bawahnya.” Pelayan berbaik hati dan mengingatkan.
“Masih ada selembar lagi?” Rendy terkejut.
“Benar, pak, pesanannya terlalu banyak dan tidak cukup dicetak dalam 1 lembar.” Pelayan minta maaf.
“Oh begitu.” Rendy membuka lembaran kedua.
__ADS_1
Pesanan “Shipwrecked” 1 botol, Rp. 4.120.000.000,-
Total tagihan Rp. 4.216.000.000,- !
“Sial!”
Rendy langsung mengumpat begitu melihat total tagihannya, Handoko melihat ekspresi kakak sepupunya yang aneh dan mengambil tagihannya karena penasaran. Akhirnya dia juga terkejut syok.
“Pelayan, tagihanmu salah cetak, ya? Kenapa wine murahan ini seharga 4 miliar lebih? Kamu ini mau merampok?” Handoko meragukannya dengan suara keras.
“Pak, wine yang ini dibeli direktur kami di pelelangan Carlsberg, ada sertifikat dan harga di bon pembelian sama dengan yang dicetak di sini. Saya bisa tunjukkan pada Anda.” Pelayan sudah menyiapkannya dari awal dan memperlihatkan sertifikatnya.
Rendy melihatnya memang sertifikat lelang dari Carlsberg, harga di bon pembelian sama persis dengan yang dicetak, pihak hotel tidak untung sepersen pun, ini sudah termasuk berbaik hati!
“Shipwrecked ini wine legenda, pada awal abad 20, perusahaan Heidsieck menghadiahkannya pada Tsar Nicholas saat menguasai Saint Petersburg. Kapal yang mengangkut wine ini diserang tentara Jerman dan tenggelam di semenanjung Finland. Wine ini berada di dasar samudera hampir 80 tahun lamanya, sampai di tahun 1997 baru ditemukan penyelam.” Pelayan tersenyum sambil menjelaskan, “Saat di tahun 2013, Hotel The Ritz Carlton menetapkan harga jualnya 280.000 US Dollar.”
Rendy semakin marah karena dijelaskan selengkap ini.
Kali ini Rendy sungguh sial, awalnya dia ingin pamer untuk mempermalukan Marcel, siapa sangka harga wine ini mahalnya selangit, jangankan Rendy, bahkan ayahnya pun tidak berani memesan wine semahal ini!
“Rendy, bagaimana ini?” Diana jadi panik saat mendengar harga wine yang mencapai 4 miliar itu.
Gadis lainnya juga terdiam, 4 miliar itu cukup untuk membeli mobil balap!
“Apanya? Aku tidak jadi bayar!” Rendy melemparkan tagihannya ke atas meja, “Siapa yang pesan, dia yang bayar!”
“Kamu ini kenapa?” Jessica emosi, “Kamu yang menyuruh agar memesannya dan kamu yang minum paling banyak, sekarang kamu mau mengelak?”
Marcel mengemudikan mobil maka dia tidak minum wine dan hanya minum jus saja.
“Aku memintanya memesan wine tapi tidak minta yang semahal ini, kan?” Rendy terdengar panik, “Aku tidak perhitungan dengan 2 botol wine lainnya, tapi Shipwrecked ini aku pasti tidak akan membayarnya!”
Sebenarnya dia juga tidak sanggup jika ingin membayarnya, limit kartu kreditnya tidak sampai 2 miliar......
“Kak Rendy, jujur saja, barusan kamu yang berebut mau bayar, kan?” Marcel menyeringai sinis, “Aku hanya memberi kesempatan padamu untuk pamer. Salah siapa? Jangan pura-pura hebat jika tidak mampu. Sekarang kamu kena sendiri, kan?”
Marcel mengembalikan ucapan Rendy barusan dan Rendy emosi sekali sampai hampir muntah darah.
__ADS_1