
“Marcel, lemparan yang bagus sekali!” Casto yang sudah di luar lapangan langsung berteriak senang.
“Kenapa masih diam saja, ayo teruskan!” Matthew berteriak.
“Oh!” Erwin akhirnya tersadar dan membawa bola ke tengah lapangan, Matthew menerima bola dan Benard segera menghalanginya.
“Huh, ingin menghalangiku? Mimpi sana!” Matthew memantulkan bola dan saat menunduk untuk menerobos, muncul sebuah tangan dan bolanya direbut!
“Ce...... Cepat sekali!” Matthew terkejut sekali.
Itu Marcel, dia mundur 2 langkah setelah mendapat bola, lalu kembali melemparkan bola ke ring dari batas 3 poin.
Saat ini, Erwin dan Matthew masih sejauh 2 meter dan tidak bisa menghalanginya.
Tapi, walaupun mereka dekat, belum tentu bisa menghalangi Marcel melempar bola......
“Mustahil! Marcel beruntung sekali!”
Semua penonton kembali tercengang saat melihat gerakan Marcel yang cepat.
“Aku sulit percaya kalau bisa terus berhasil memasukkan bola dengan cara ini!” Richard berhasil merebut posisi strategis di bawah papan ring, Donny kembali memelankan pukulan bola.
Kalau pantulan bola biasanya langsung ditujukan ke papan ring, dari sudut sekecil ini akan susah ditargetkan, bola ini tidak seperti biasanya dan tidak memantul setelah mengenai pertengahan papan, melainkan menggelinding di ring, lalu baru berhasil masuk.
Seluruh penonton terpaku!
Kalau pertama kali itu beruntung, bagaimana yang kedua kali? Beruntung juga?
Matthew jadi kesal, barusan dia sudah melihat jelas kalau Marcel sudah memperhitungkan kemungkinan ini, kecepatan dan putaran bolanya tidak seperti biasa dan sudut lemparannya juga minim sekali!
Cara melempar bola ini tidak sulit, tapi perlu 1 syarat, perlu kekuatan lengan yang sangat kuat baru bisa menghasilkan kecepatan putaran begitu, hanya beberapa orang di seluruh NBA yang sanggup melakukan hal ini, apalagi di seluruh Indonesia.
Marcel ini orang aneh!
“Hati-hati menggiring bolanya, jangan sampai Marcel lolos!” Matthew berteriak memperingatkan.
__ADS_1
Masih tersisa 1 menit 10 detik, kini poinnya sudah 41 poin lawan 49 poin. Asalkan Marcel tidak mendapat bola, mereka pasti akan menang!
Matthew kembali menerima bola dan Marcel tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia terlihat serius seperti murid yang baru belajar bermain basket.
“Aku akan perlihatkan kemampuan ketua basket yang sebenarnya!” Matthew sangat tidak senang dengan pandangan Marcel yang ketus, amarahnya meledak.
Dia mempercepat pantulan bola dan bola ibarat kupu-kupu yang beterbangan di bawah pinggangnya, membuat para gadis terkagum-kagum melihatnya.
“Keren sekali, Matthew aku mencintaimu!”
“Jangan mimpi, mana mungkin Matthew bisa menyukai si gendut sepertimu, dia pasti akan memilihku yang ramping ini”
“Tidak heran dia jadi kapten tim basket, tekniknya hebat sekali!”
“Marcel pasti tidak akan menang kalau Matthew sudah serius!”
“Sialan, sampai Natalia si primadona kampus juga menyemangatinya, menyebalkan......”
Matthew pura-pura menerobos, gerakan palsunya sudah sangat terlatih, bahkan Casto pun akan terkelabui.
“Marcel tidak sempat bereaksi menghadapi tipuan Matthew. Rupanya teknik dasarnya tidak oke. Dia hanya mengandalkan 1 teknik itu saja.” Natalia menyeringai, “Aku menyesal sekali mengubah kesanku padanya.”
“Aku malah merasa Marcel tidak sesederhana yang terlihat. Kamu tidak lihat Matthew jadi serius sekali?” Ariani tidak setuju dengan pendapat teman sekamarnya, “Kalau aku tidak salah tebak, pasti tim Marcel akan menang dalam pertandingan ini.”
“Tidak akan mungkin, kalau Marcel bisa menang, aku setuju ikut kencan dengan mereka, kalau mereka kalah, kamu harus menyatakan perasaanmu pada Erwin di depan umum!”
“Baik, deal!”
Matthew langsung melemparkan bola ke ring begitu melihat di depannya kosong.
Saat dia melompat dan hendak melempar bola, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar lapangan.
“Teruslah teriak atas gayaku yang keren ini!” Matthew merasa bangga, dia sudah berlatih melempar bola setiap hari. Ini sudah ibarat seperti minum air. Dari jarak sedekat ini, 95% pasti berhasil masuk!
Dalam soroton cahaya lampu, dia sudah menyelesaikan lemparan bola sesuai teori, tapi dia merasa ada yang salah.
__ADS_1
Mana bolanya??
Sial! Bolanya hilang!
Selain dia, semua orang bisa melihat dengan jelas kalau Marcel melesat cepat dan merebut bola saat Matthew melompat......
Matthew mengira penonton terkagum-kagum karena teknik bolanya, tapi tidak disangka mereka dikejutkan oleh kecepatan dan lompatan Marcel!
“Matthew, dia di belakangmu!” Erwin berteriak memperingati.
Matthew segera menoleh dan melihat Marcel sudah di luar batas 3 poin dan kembali melempar bola.
Bola masuk ke dalam ring, sekarang 44 poin lawan 49 poin!
“Keberuntungan ini...... sedikit menakutkan!”
“Keberuntungan apanya? Ini kemampuan Marcel yang sebenarnya, dia merebut bola dari Matthew tanpa diketahui!”
“Dia yang kurus kecil itu tingginya hanya 178 cm saja, tidak disangka bisa menang dari Matthew yang setinggi 190 cm!”
“Jangan bahas menang atau tidak, dia hanya beruntung saja.”
Pertandingan masih tersisa 1 menit, jarak poin kedua pihak hanya 5 poin, tim Marcel akan menang jika berhasil melempar 2 kali lemparan 3 poin!
“Marcel, kamu hebat, ya! Tidak disangka kamu pandai main bola basket!” Donny menepuk pundak Marcel dengan kuat.
Donny tidak memperkirakan tenaganya sampai Marcel menggertakkan gigi kesakitan.
“Don, aku akan menemani Casto dan turun dari pertandingan jika kamu lebih kuat lagi.”
“Hahaha, maaf!” Donny tersenyum sambil menarik tangannya.
Erwin dan Richard tidak tahan lagi melihat Marcel menyumbang lemparan 3 poin berturut-turut, “Matthew, sekarang kita harus bagaimana?”
“Jangan takut, kita lebih tinggi dari mereka, kita main dengan lemparan yang tinggi!” Matthew berpesan dengan tenang.
__ADS_1